Kota Kuno Usia 5.000 Tahun Ini Sudah Punya Sistem Drainase Modern
Edukasi | 2026-05-04 22:58:49Oleh S. Wani Maler
Dosen Prodi Arkeologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas
whc.unesco.org/en/documents/108227)" />
Ketika kita membayangkan kota kuno, yang muncul biasanya adalah bangunan sederhana, jalan tanah, dan sistem hidup yang masih dasar. Tetapi gambaran itu runtuh jika kita melihat Moenjodaro.
Di lembah Sungai Indus, sekitar 5.000 tahun lalu berdiri sebuah kota yang tidak hanya besar, tetapi juga terencana dengan sangat rapi. Jalan-jalannya membentuk pola grid. Bangunan disusun dengan standar yang konsisten, dan yang paling mengejutkan kota ini memiliki sistem drainase yang terintegrasi (Kenoyer, 1998).
Setiap rumah di Moenjodaro umumnya terhubung dengan saluran air. Limbah tidak dibuang sembarangan, tetapi dialirkan melalui jaringan drainase tertutup yang dirancang khusus. Dalam beberapa kasus, bahkan terdapat lubang perawatan untuk membersihkan saluran tersebut. Ini bukan sistem sederhana melainkan bentuk awal dari manajemen sanitasi kota.
Semua ini dibangun dari bata bakar dengan ukuran yang relatif seragam. Standarisasi ini menunjukkan adanya kontrol dan perencanaan yang matang. Moenjodaro bukan kumpulan rumah acak namun kota yang dirancang secara matang.
Di bagian barat terdapat citadel, area tinggi yang kemungkinan berfungsi sebagai pusat aktivitas penting. Salah satu struktur paling terkenal di sini adalah “Great Bath”, kolam besar yang diyakini memiliki fungsi ritual atau sosial. Di bagian timur kota bawah menyebar dengan pola jalan yang teratur, menunjukkan sistem tata ruang yang jelas.
Menariknya tidak ditemukan istana besar atau monumen yang mencolok seperti di Mesir atau Mesopotamia. Ini membuka pertanyaan tentang bagaimana kekuasaan dan organisasi sosial bekerja di kota ini. Apakah masyarakatnya lebih egaliter? atau bentuk kekuasaannya berbeda dari yang kita kenal? (Possehl,2002).
Penemuan Moenjodaro pada tahun 1922 mengubah cara kita memahami peradaban awal. Hal ini menunjukkan bahwa urbanisasi tidak hanya berkembang di satu wilayah dunia. Peradaban Lembah Indus adalah salah satu dari tiga pusat besar peradaban kuno, sejajar dengan Mesir dan Mesopotamia.
Seperti banyak kota kuno lainnya, Moenjodaro juga menyimpan misteri. Tidak ada bukti pasti tentang bagaimana kota ini ditinggalkan. Beberapa hipotesis menyebut perubahan lingkungan, banjir, atau pergeseran sungai. Namun yang jelas, kota ini perlahan ditinggalkan, dan meninggalkan jejak yang baru ditemukan kembali ribuan tahun kemudian.
Hari ini Moenjodaro bukan hanya situs arkeologi, tetapi adalah pengingat bahwa manusia telah lama mampu membangun sistem kota yang kompleks. Bahkan dalam beberapa aspek lebih terorganisir daripada yang kita bayangkan.
Referensi
Kenoyer, J. M. (1998). Ancient Cities of the Indus Valley Civilization. Oxford University Press.
Possehl, G. L. (2002). The Indus Civilization: A Contemporary Perspective. AltaMira Press.
UNESCO World Heritage Centre. (1980). Archaeological Ruins at Moenjodaro. https://whc.unesco.org/en/list/138
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
