Sebelum Kering Keringatnya
Kisah | 2026-05-01 11:47:37
Pagi itu belum benar-benar terang ketika Siti menutup pintu rumah kontrakannya perlahan. Udara masih menyisakan dingin, dan jalanan hanya diisi suara sepeda motor yang sesekali melintas. Di tangannya, selembar kain dilipat rapi, bukan sekadar kain, tapi spanduk kecil yang ia tulis semalam dengan huruf agak miring: “Kerja Layak, Hidup Bermartabat.”
“Bu, jadi berangkat?” suara suaminya, Rahmat, terdengar dari dalam.
Siti menoleh, lalu tersenyum tipis. “Iya, Pak. Hari ini kan ya, hari itu.”
Rahmat mengangguk pelan. Ia tak banyak bicara, tapi matanya menyimpan sesuatu, antara khawatir dan mengerti. “Hati-hati di jalan. Jangan terlalu ke depan.”
Siti hanya mengangguk. Ia tahu maksudnya.
Di pusat kota, orang-orang mulai berkumpul. Warna-warni atribut serikat buruh memenuhi ruang terbuka. Ada yang membawa bendera, ada yang memegang pengeras suara, ada pula yang hanya berdiri diam sambil mengamati.
“Teh Siti!” seseorang memanggil.
Siti menoleh. Seorang perempuan muda melambaikan tangan. “Rina! Sudah dari tadi?”
“Dari subuh,” jawab Rina sambil tertawa kecil. “Takut kehabisan tempat.”
Siti tersenyum. “Tempat untuk berdiri, atau tempat untuk didengar?”
Rina terdiam sejenak, lalu menjawab pelan, “Dua-duanya, Teh.”
Di kejauhan, suara orasi mulai terdengar. Seorang pria berdiri di atas mobil komando, membaca satu per satu tuntutan. Kata-katanya mengalir tegas, menyebutkan desakan pembaruan Undang-Undang Ketenagakerjaan, penolakan praktik alih daya dan upah murah, perlindungan dari ancaman pemutusan hubungan kerja, hingga dorongan pengesahan RUU Perlindungan Pekerja Rumah Tangga.
“Enam tuntutan ini bukan sekadar angka!” serunya. “Ini tentang hidup kita!”
Siti menunduk sebentar. Ia pernah membaca hal yang sama di berita Kabar24.bisnis.com pada 27 April 2026.
Ia menghela napas pelan. “Teh,” Rina menyentuh lengannya, “menurut Teh, tuntutan ini bakal didengar, enggak?”
Siti tidak langsung menjawab. Ia memandang ke arah kerumunan yang semakin padat. Suara-suara bersatu, tapi juga terasa seperti gema yang berulang dari tahun ke tahun.
“Aku enggak tahu,” akhirnya ia berkata. “Tapi kalau suara ini terus ada, mungkin suatu hari akan sampai juga.”
Rina mengangguk, meski matanya tampak ragu.
Siang mulai terik. Keringat membasahi dahi. Siti duduk di tepi trotoar, membuka bekal sederhana: nasi dan tempe goreng.
Di sebelahnya, seorang pria tua ikut duduk. Bajunya lusuh, tapi bersih.
“Dari mana, Bu?” tanyanya ramah.
“Dari pabrik tekstil, Pak,” jawab Siti. “Bapak?”
“Dulu sopir,” katanya. “Sekarang sudah tidak kerja. Digantikan mesin.”
Siti terdiam. Ia tak tahu harus menjawab apa.
“Setiap tahun saya datang ke sini,” lanjut pria itu. “Bukan untuk teriak. Cuma ingin melihat apakah keadaan sudah berubah.”
“Lalu, Pak?” tanya Siti pelan.
Pria itu tersenyum tipis. “Menurut Ibu?”
Siti menatap nasi di tangannya. Ia tiba-tiba teringat sesuatu, sebuah hadis yang pernah ia dengar di pengajian kampung.
“Pak,” katanya hati-hati, “saya pernah dengar sabda Nabi ‘Berikanlah upah pekerja sebelum kering keringatnya.’”
Pria itu mengangguk. “Hadis yang dalam sekali.”
“Iya,” lanjut Siti. “Kadang saya berpikir kalau itu benar-benar jadi pegangan, mungkin banyak hal akan berbeda.”
Pria itu menatap jauh ke depan. “Masalahnya, Bu bukan hanya soal tahu atau tidak tahu. Tapi soal menjadikan itu sebagai dasar.”
Siti mengangguk pelan.
Sore hari, kerumunan mulai bubar. Siti dan Rina berjalan beriringan menuju halte.
“Capek ya, Teh,” kata Rina.
“Capek,” jawab Siti sambil tersenyum. “Tapi bukan capek badan saja.”
Rina tertawa kecil. “Capek hati juga?”
Siti tidak langsung menjawab. Ia justru berkata pelan, seperti berbicara pada dirinya sendiri, “Allah pernah berfirman, ‘Dan sungguh Kami telah memuliakan anak cucu Adam ’ (QS. Al-Isra: 70).”
Rina menoleh. “Maksudnya, Teh?”
Siti berhenti sejenak. “Kadang kita sibuk bicara soal angka, upah, biaya, keuntungan. Tapi lupa bahwa yang sedang dibicarakan itu manusia.”
Rina terdiam.
“Bukan berarti kebijakan itu salah,” lanjut Siti hati-hati. “Pasti semua ingin memperbaiki keadaan. Tapi mungkin kita perlu terus bertanya, apakah cara yang kita tempuh sudah cukup melihat manusia sebagai manusia?”
Angin sore berhembus pelan. Suara kendaraan mulai mendominasi.
“Teh,” kata Rina, “kalau begitu, solusinya apa?”
Siti tersenyum tipis. “Aku tidak punya jawaban besar. Tapi aku percaya kalau setiap keputusan lahir dari rasa tanggung jawab dan keadilan, pasti arahnya akan lebih baik.”
Ia teringat satu hadis lagi, yang pernah ia dengar dari ustaz di kampungnya:
“Seorang pemimpin adalah pengurus rakyatnya dan akan dimintai pertanggungjawaban atas mereka.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Siti melangkah lagi. “Mungkin yang perlu kita jaga adalah kesadaran itu. Bahwa semua ini amanah.”
Rina mengangguk perlahan.
Malam turun ketika Siti sampai di rumah. Rahmat sudah menunggu di depan.
“Bagaimana?” tanyanya.
Siti meletakkan tasnya. Ia tidak langsung menjawab.
“Ramai,” katanya akhirnya. “Banyak suara.”
“Didengar?” tanya Rahmat.
Siti tersenyum, kali ini lebih dalam. “Mudah-mudahan.”
Ia masuk ke dalam rumah, lalu berhenti sejenak di ambang pintu. Di luar, suara kota masih terdengar. Di dalam, ada keheningan yang menenangkan.
Dalam hati, ia berbisik pelan:
Mungkin Hari Buruh bukan hanya tentang tuntutan. Tapi tentang mengingat kembali, bahwa kerja bukan sekadar alat bertahan hidup, melainkan bagian dari martabat manusia yang harus dijaga.
Dan di antara riuhnya suara, selalu ada harapan kecil yang bertahan, bahwa suatu hari, setiap keringat benar-benar dihargai, sebelum ia sempat mengering.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
