Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Yessica Widya Angelina Sipahutar

Pancasila: Fondasi Utama Ideologi Negara Indonesia

Pendidikan | 2026-04-28 16:58:21

Dr. Catur Galuh Ratnagung S.H.,M.H, M.Pd, Yessica Widya Angelina Sipahutar

Pancasila bukan sekadar teks yang dihafal sejak SD, tapi fondasi utama yang menentukan arah berpikir dan bertindak dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Masalahnya, di era sekarang, banyak orang hafal—tapi tidak paham. Di sinilah pentingnya membahas kembali posisi Pancasila secara lebih kontekstual.Sejarah PancasilaPancasila diperkenalkan oleh Soekarno pada 1 Juni 1945, bukan sekadar sebagai rumusan formal, tetapi sebagai hasil refleksi atas realitas sosial Indonesia yang plural.Lima sila dalam Pancasila bukan muncul tiba-tiba, melainkan menggambarkan kebutuhan dasar bangsa:Ketuhanan Yang Maha Esa: bukan hanya soal agama, tapi juga soal toleransi di tengah perbedaan keyakinan.Kemanusiaan yang Adil dan Beradab: menuntut negara dan masyarakat menghormati martabat manusia, bukan sekadar formalitas HAM.Persatuan Indonesia: menjadi respon atas potensi konflik akibat keberagaman suku, budaya, dan agama.Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan: menegaskan bahwa demokrasi Indonesia bukan sekadar voting, tapi musyawarah.Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia: mengarah pada distribusi kesejahteraan yang tidak timpang.Pancasila sebagai Ideologi NegaraSebagai ideologi negara, Pancasila tidak boleh dipahami secara normatif saja, tetapi harus operasional dalam praktik.Pengikat Kebhinnekaan: tanpa Pancasila, keberagaman bisa berubah jadi konflik.Pedoman Moral: menjadi standar etika, bukan sekadar slogan.Landasan Hukum: semua peraturan harus bersumber dan tidak boleh bertentangan dengan nilai Pancasila.Relevansi Pancasila di Era ModernDi era digital, tantangannya bukan lagi penjajahan fisik, tapi perang ideologi melalui media sosial. Konten viral sering kali menyederhanakan bahkan memelintir makna Pancasila.Contohnya, banyak video viral yang menunjukkan orang tidak hafal Pancasila atau salah menyebut sila, yang kemudian jadi konsumsi publik �. Ini menunjukkan krisis bukan di hafalan, tapi pemahaman.detikcomKesimpulanPancasila tidak cukup dihafal, tapi harus diinternalisasi. Kalau tidak, ia hanya akan menjadi simbol kosong tanpa daya mengikat

 

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image