Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Indah Kartika Sari

Ironi Pelecehan Wibawa Pahlawan tanpa Tanda Jasa

Agama | 2026-04-24 06:16:40

Dunia pendidikan Indonesia kembali dikejutkan oleh noktah hitam yang mencoreng institusi sekolah. Sebuah rekaman video mendadak viral, memperlihatkan pemandangan yang menyayat hati: sejumlah siswa di dalam ruang kelas secara terang-terangan menunjukkan sikap tidak pantas terhadap guru mereka sendiri. Dalam video tersebut, para siswa tampak mengejek, tertawa meremehkan, hingga melakukan gestur acungan jari tengah yang sangat menghina. Sosok guru yang seharusnya menjadi teladan dan sumber ilmu, justru dijadikan objek pelecehan oleh anak didiknya sendiri.

Peristiwa di Purwakarta ini segera memicu reaksi publik. Pihak sekolah telah mengambil langkah dengan memberikan skorsing selama 19 hari kepada para pelaku. Namun, langkah ini menuai kritik dari berbagai pihak, termasuk Dedi Mulyadi yang menilai bahwa sanksi administratif semata belum tentu menjadi solusi terbaik dalam membentuk karakter siswa. Ia mengusulkan hukuman yang lebih edukatif dan berdampak langsung pada perubahan perilaku. Namun, di balik perdebatan soal sanksi, ada persoalan yang jauh lebih besar: mengapa wibawa guru kini seolah runtuh tak bersisa?

Kejadian di Purwakarta bukanlah fenomena tunggal, melainkan cermin dari krisis moral akut yang melanda generasi muda akibat diterapkannya sistem pendidikan sekuler-liberal. Sistem ini cenderung memisahkan nilai-nilai agama dari kehidupan praktis di sekolah. Akibatnya, pendidikan adab kepada guru—yang seharusnya menjadi fondasi utama sebelum menuntut ilmu—terabaikan dan dianggap sebagai angin lalu.

Ironisnya lagi, tindakan amoral ini sering kali dilakukan demi sebuah konten. Di era digital, banyak siswa yang lebih mementingkan "viralitas" dan rasa "keren" di mata teman sebaya daripada menjaga martabat sang pahlawan tanpa tanda jasa. Media sosial telah menjadi panggung validasi yang salah arah, di mana pembangkangan terhadap otoritas dipandang sebagai bentuk keberanian yang patut dibanggakan.

Lemahnya wibawa guru saat ini juga dipicu oleh posisi guru yang kian tersudut. Guru sering kali merasa tidak berdaya untuk menegur atau mendisiplinkan siswa karena bayang-bayang tuntutan hukum. Paradigma "perlindungan anak" yang salah kaprah sering kali digunakan untuk memojokkan guru yang sedang berusaha mendidik, sehingga siswa merasa di atas angin. Kasus ini sekaligus menjadi tamparan keras bagi pemerintah yang sering menggaungkan program "Profil Pelajar Pancasila". Kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa program-program tersebut tampaknya masih sebatas formalitas administratif di atas kertas, belum menyentuh akar kepribadian siswa yang sebenarnya.

Untuk memutus rantai pelecehan terhadap guru, diperlukan perubahan mendasar dalam paradigma pendidikan. Islam menawarkan solusi komprehensif yang dimulai dari perombakan kurikulum hingga penataan sistem sosial.

 

  1. Pendidikan Berbasis Akidah: Kurikulum harus dibangun berlandaskan akidah Islam untuk mencetak generasi yang memiliki Kepribadian Islam (Syakhshiyah Islamiyyah). Tujuan pendidikan bukan hanya mencetak tenaga kerja yang terampil secara teknis, tetapi manusia yang memiliki pola pikir dan pola sikap yang sesuai dengan syariat, di mana menghormati guru adalah bagian dari ibadah.
  2. Kontrol Konten Digital: Negara memiliki kewajiban untuk menyaring konten digital yang merusak moral. Tayangan-tayangan yang mencontohkan pembangkangan, kekerasan, atau perilaku menyimpang harus dibatasi agar tidak menjadi referensi perilaku bagi pelajar.
  3. Sistem Sanksi yang Adil: Islam menerapkan sistem sanksi yang berfungsi ganda: sebagai Jawabir (penebus dosa) bagi pelaku dan Zawajir (pencegah) bagi orang lain. Sanksi bagi pelaku pelecehan terhadap guru harus memberikan efek jera yang nyata namun tetap adil, sehingga kehormatan guru tetap terjaga dan orang lain takut untuk melakukan hal serupa.

Dalam peradaban Islam, guru diposisikan sebagai sosok mulia. Mereka diberikan penghargaan tinggi dan penghidupan yang sangat layak oleh negara. Dengan jaminan kesejahteraan dan dukungan sistem hukum yang memuliakan ilmu, wibawa guru akan terjaga dengan sendirinya di mata murid maupun masyarakat.

Pelecehan terhadap guru adalah alarm keras bahwa sistem pendidikan kita sedang "sakit". Tanpa kembali pada nilai-nilai yang menempatkan adab di atas ilmu, kita hanya akan terus melahirkan generasi yang cerdas secara kognitif, namun cacat secara karakter. Sudah saatnya kita mengembalikan wibawa pahlawan tanpa tanda jasa ini ke tempat yang seharusnya: puncak kemuliaan dengan Islam.

Bahan Bacaan:

https://share.google/Gm4UjvT92wnN0IgHZ

https://www.detik.com/jabar/berita/d-8449993/viral-siswa-acungkan-jari-tengah-dan-lecehkan-guru-di-purwakarta?page=2

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image