Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Muthmainnah Yusron

Sedekah Aspal: Saat Tangan di Atas Berada di Balik Kemudi

Agama | 2026-04-26 23:02:41

Bantul--

Dalam ajaran Islam, semangat untuk menjadi pribadi yang bermanfaat sangatlah ditekankan. Salah satu fondasi utamanya adalah hadits populer yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim: "Al-yadul ulya khairum min al-yadis sufla", (Tangan di atas lebih baik dari pada tangan di bawah).

Secara tekstual, hadits ini sering dipahami dalam konteks sedekah harta—bahwa pemberi (munfiq) lebih mulia dari pada penerima. Namun, jika kita menggali lebih dalam, hakikat "tangan di atas" adalah tentang inisiatif untuk memberi manfaat, apa pun bentuknya. Di era modern ini, implementasi hadits tersebut bisa sangat luas, termasuk dalam etika berlalu lintas.

Memberi tidak selalu harus berupa lembaran uang. Memberi bisa berupa tenaga, senyuman, ilmu, bahkan memberi jalan. Dalam konteks kehidupan sosial, orang yang memiliki mental "tangan di atas" adalah mereka yang tidak egois dan selalu berpikir, "Apa yang bisa saya berikan untuk mempermudah urusan orang lain ?". Sebagai paradigma baru untuk mengmplementasikan di Jalan Raya: "Sedekah" Jalan.

Gambar ilustrasi : Seorang pengendara motor di jalan raya yang ramai dengan kendaraan, dengan sikap bijak memperlambat laju dan berhenti untuk memberi kesempatan kepada penyeberang jalan.

Jalan raya adalah tempat di mana ego manusia sering kali diuji. Banyak orang merasa memiliki hak penuh atas aspal didepannya sehingga enggan berbagi. Padahal, memberikan prioritas kepada orang lain adalah perwujudan nyata dari semangat al-yadul ulya. Berikut adalah beberapa bentuk "tangan di atas" di jalan raya:

Pertama, memberi jalan bagi penyeberang: Saat kita melihat pejalan kaki ingin menyeberang, lalu kita menginjak rem dan memberi isyarat agar mereka lewat terlebih dahulu, kita sedang berada di posisi "tangan di atas". Kita memberikan keamanan dan kenyamanan bagi mereka.

Kedua, memprioritaskan pengendara yang akan berbelok: Saat terjadi kemacetan atau antrean, memberikan ruang bagi pengendara dari arah lawan yang ingin berbelok atau keluar dari gang adalah sedekah waktu dan ruang.

Ketiga, menurunkan kecepatan untuk kendaraan darurat: Memberi jalan bagi ambulans atau pemadam kebakaran bukan sekadar kewajiban hukum, tapi kewajiban moral untuk menyelamatkan nyawa orang lain.

Selanjutnya, mengapa memberi jalan disebut lebih baik? Karena di saat itu, kita sedang mengalahkan ego. Pengendara yang mau mengalah demi kelancaran orang lain menunjukkan kualitas jiwa yang tinggi. Ia tidak memposisikan dirinya sebagai orang yang "butuh didahulukan" (tangan di bawah/mental peminta hak), melainkan sebagai orang yang "mampu memberi kemudahan" (tangan di atas). Memberi: bukan sekadar uang, tapi juga peluang. Inilah sebuah filosofi di balik kebaikan tersebut.

Oleh karena itu, makna hadits Al-yadul ulya khairum min al yadis sufla adalah panggilan bagi setiap muslim untuk menjadi subjek penggerak kebaikan. Di madrasah, di rumah, hingga di jalan raya, kita akan belajar untuk menjadi pribadi yang senang memberi: memberi bantuan, memberi maaf, hingga memberi jalan bagi sesama, dan yang lainnya. Saat kita mempermudah jalan orang lain di dunia, Allah SWT. berjanji akan mempermudah jalan kita, baik di dunia maupun di akhirat kelak. Berhenti sejenak untuk membiarkan orang lain lewat bukan berarti kita kalah, melainkan bukti bahwa kita memiliki jiwa yang lebih mulia. (qalammuthi’_man3bantul)

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image