Pesona Bulan Dzulqa'dah
Agama | 2026-04-26 21:35:47Bantul--
Bulan Dzulqa'dah sering kali terlupakan karena posisinya yang berada di antara dua bulan "besar", yakni Syawal (bulan Idul Fitri) dan Dzulhijjah (bulan Haji). Padahal, dalam kacamata syariat, Dzulqa'dah memiliki kedudukan yang sangat mulia. Berikut adalah keistimewaan bulan Dzulqa'dah yang bisa menjadi renungan kita bersama.
Dzulqa'dah adalah bulan tenang yang penuh kemuliaan. Secara etimologi, Dzulqa'dah berasal dari kata Bahasa Arab: dzul (pemilik) dan qa'dah (duduk/istirahat). Dinamakan demikian karena pada bulan ini masyarakat Arab zaman dahulu "duduk" atau beristirahat dari peperangan untuk mempersiapkan perjalanan ibadah haji. Pertama, keistimewaan utama Dzulqa'dah adalah statusnya sebagai salah satu dari empat bulan yang disucikan oleh Allah SWT. Dalam Al-Qur'an disebutkan: "Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan... di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu." (QS At-Taubah: 36). Keempat bulan tersebut adalah Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab. Di bulan-bulan ini, amal saleh dilipatgandakan pahalanya, namun kemaksiatan juga mendapatkan dosa yang lebih berat.
Kedua, Dzulqa'dah sebagai bagian dari bulan-bulan haji (asyhurul hajj) yang merupakan pintu masuk menuju puncak ibadah haji. Allah SWT berfirman: "(Musim) haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi..." (QS. Al-Baqarah: 197). Para ulama menjelaskan bahwa bulan-bulan haji yang dimaksud adalah Syawal, Dzulqa'dah, dan sepuluh hari pertama Dzulhijjah. Maka, Dzulqa'dah adalah waktu utama bagi umat muslim untuk menguatkan niat dan persiapan spiritual menuju tanah suci.
Ketiga, sebagai bulan umrah Rasulullah SAW. Sebuah fakta sejarah yang menarik adalah Rasulullah SAW hampir seluruh ibadah umrahnya dilaksanakan pada bulan Dzulqa'dah. Ibnu Abbas RA meriwayatkan: "Rasulullah SAW. melakukan umrah sebanyak empat kali, semuanya pada bulan Dzulqa'dah, kecuali umrah yang beliau kerjakan bersama haji beliau (Haji Wada')." (HR. Bukhari & Muslim).
Hal ini menunjukkan betapa Rasulullah SAW. sangat mengistimewakan waktu di bulan ini untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Selanjutnya, Dzulqa'dah merupakan waktu perjanjian 40 malam Nabi Musa AS. Sebagian ahli tafsir mengaitkan Dzulqa'dah dengan kisah Nabi Musa AS. saat dipanggil Allah SWT. untuk menerima kitab Taurat. "Dan telah Kami janjikan kepada Musa (memberikan Taurat) sesudah berlalu waktu tiga puluh malam, dan Kami sempurnakan jumlah malam itu dengan sepuluh (malam lagi)..." (QS. Al-A'raf: 142). Tiga puluh malam yang dimaksud adalah seluruh bulan Dzulqa'dah, dan sepuluh malam tambahannya adalah di awal Dzulhijjah.
Oleh karena itu, Dzulqa'dah sebagai bulan haram, sudah sepatutnya kita meningkatkan amal ibadah, baik itu shalat sunnah, sedekah, maupun membaca Al-Qur'an. Selanjutnya, menjaga lisan dan perbuatan. Karena dosa di bulan haram dianggap lebih besar karena melanggar kehormatan bulan tersebut. Selain itu, melatih kedisiplinan diri. Meneladani arti nama Dzulqa'dah dengan mengistirahatkan diri dari konflik dan fokus pada perbaikan karakter (akhlak).
Mari kita jadikan bulan Dzulqa'dah ini sebagai momentum untuk "berhenti sejenak" dari hiruk pikuk duniawi dan memperbanyak bekal untuk akhirat.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
