Mengapa Semua Orang Mengira Situs Kuno Pasti Menyimpan Harta Karun?
Edukasi | 2026-04-25 20:24:19Oleh S. Wani Maler
Dosen Prodi Arkeologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas
Setiap kali orang mendengar kata “situs kuno”, ada satu bayangan yang hampir selalu muncul: harta karun, emas tersembunyi, peti kuno atau artefak berharga yang menunggu ditemukan. Bayangan ini begitu kuat sampai-sampai banyak orang menganggap situs arkeologi adalah tempat yang menyimpan kekayaan.
Pertanyaannya sederhana: kenapa kita selalu berpikir seperti itu?
Jawabannya tidak datang dari arkeologi, tetapi dari cerita yang kita konsumsi sejak kecil.
Film petualangan, legenda rakyat, hingga cerita tentang harta terpendam membentuk cara kita melihat masa lalu. Situs kuno digambarkan sebagai lokasi misterius yang menyimpan sesuatu yang berharga. Narasi ini terus diulang sampai akhirnya terasa seperti kebenaran (Fagan, 2006).
Masalahnya, arkeologi tidak bekerja dengan logika itu.
Bagi arkeolog, situs bukan tempat mencari harta namun merupakan sumber data. Arkeolog bukan mencari benda paling mahal, tetapi informasi tentang kehidupan manusia di masa lalu. Dalam banyak kasus yang ditemukan justru hal-hal yang tampak “tidak berharga” seperti pecahan gerabah, sisa makanan, susunan tanah, atau batu sederhana.
Namun justru dari hal-hal itulah sejarah bisa dibaca.
Sebuah pecahan gerabah bisa menunjukkan pola makan. Susunan batu bisa menjelaskan struktur permukiman. Lapisan tanah bisa mengungkap urutan waktu. Nilai arkeologi tidak terletak pada harga benda, tetapi pada konteksnya (Renfrew & Bahn, 2016).
Di sinilah perbedaan antara arkeologi dan perburuan harta karun menjadi sangat jelas.
Pemburu harta bertanya: “apa yang paling berharga untuk diambil?”
Arkeolog bertanya: “apa yang bisa kita pahami dari sini?”
Ketika situs diperlakukan sebagai tempat mencari harta, yang terjadi adalah kerusakan. Artefak diambil tanpa dokumentasi, lapisan tanah dihancurkan mengakibatkan konteks hilang, dan ketika konteks hilang informasi yang menempel pada benda itu ikut hilang.
Dalam arkeologi, kehilangan konteks berarti kehilangan sejarah.
Ironisnya justru karena mitos harta karun ini, banyak situs rusak sebelum sempat diteliti secara ilmiah. Orang datang dengan ekspektasi menemukan sesuatu yang bernilai ekonomi, bukan nilai pengetahuan (Holtorf, 2007).
Padahal jika dilihat dari perspektif ilmiah, “harta karun” terbesar dalam arkeologi bukan emas, melainkan informasi.
Kenapa kesalahpahaman ini terus bertahan?
Karena harta karun lebih menarik daripada data. Emas lebih mudah dipahami daripada stratigrafi. Petualangan lebih menjual daripada penelitian. Dalam dunia yang menyukai hal instan, arkeologi sering kalah oleh imajinasi.
Tetapi jika kita ingin benar-benar memahami masa lalu, cara berpikir itu perlu diubah.
Situs kuno bukan gudang harta, ia adalah arsip sejarah. Dan yang paling berharga dari arsip itu bukan benda yang bisa dijual, tetapi cerita yang bisa dipahami.
Mungkin sudah saatnya kita berhenti bertanya “apa yang bisa ditemukan?”, dan mulai bertanya “apa yang bisa dipelajari?”
Referensi
Fagan, G. G. (2006). Archaeological fantasies: How pseudoarchaeology misrepresents the past and misleads the public. Routledge.
Holtorf, C. (2007). Archaeology is a brand! The meaning of archaeology in contemporary popular culture. Archaeopress.
Renfrew, C., & Bahn, P. (2016). Archaeology: Theories, methods, and practice (7th ed.). Thames & Hudson.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
