Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Andreas Chandra

Raksasa Pelumat Hutan Papua Excavator Namanya

Hukum | 2026-04-23 02:41:20
Sumber Foto: Pribadi, Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Raksasa kuning dengan cakar baja itu melumat hutan papua tanpa jeda, mencabik akar yang usianya ratusan tahun berdiri kokoh yang dirawat oleh masyarakat adat papua disana, kini meninggalkan sebuah luka yang sangat dalam bagi masyarakat papua, apa lagi semenjak proyek strategi negara masuk kebumi papua kurang lebih ada sebanyak dua ribu excavator yang dipesan oleh jhonlin grup untuk beroperasi dimerauke papua selatan dengan proyek cetak sawah 1 juta hektar di marauke.

Kita bisa membayangkan betapa luasnya hutan yang hilang, dengan angka satu juta hektar yang akan dijadikan sawah oleh negara melalui proyek strategi negara (PSN) ini bisa menguncang ruang lingkup hutan adat yang sudah dilindungi dan dirawat oleh masyarakat adat papua selatan, serta hilangnya tanaman dan hewan endemik yang tinggal di dalam hutan tersebut. Kehilangan rumah mereka akibat pembabatan hutan yang begitu besar oleh raksasa yang bernama excavator. Mereka benar-benar tidak punya hati nurani untuk menaruh hati di hutan, mereka tidak memiliki mata untuk melihat ruang hidup yang ada di dalamnya, karena mereka adalah alat raksasa yang mengendalikan manusia yang penuh dengan kerakusan, ketamakan dan buta nurani.

Kita bisa melihat ketika Merujuk laporan dari sejumlah lembaga, kondisi hutan di Papua juga semakin tertekan. David Gaveau, pendiri The TreeMap dalam tulisan berjudul “Pembukaan Lahan di Papua: Tren dan Pendorong 2024-2025” mencatat, tren hilangnya hutan primer di Papua meningkat sekitar 10 persen dari tahun ke tahun. Pada tahun 2023, sebanyak 22.500 hektar hutan hilang, lalu naik menjadi 25.300 hektar pada tahun 2024, Melalui analisis citra satelit, David dan tim identifikasi pendorong utama hilangnya hutan primer di Papua, salah satunya adanya Proyek Strategis Nasional (PSN) di Kabupaten Merauke. PSN Merauke merupakan bagian dari agenda pembangunan skala besar dalam kerangka program ketahanan pangan, swasembada bioenergi, dan agribisnis, Hak Masyarakat Adat Yei Kian Tergerus Imbas Proyek Strategis Nasional Merauke Dari analisa tersebut, PSN Merauke menjadi salah satu faktor penyebab deforestasi yang mencapai 24 persen dari total hilangnya hutan primer seluas 5.936 hektar. Hingga Juni 2025, PSN Merauke telah melakukan pembukaan tambahan hutan seluas 3.899 hektar.

Sementara data dari Greenpeace Indonesia menunjukkan, sepanjang 2001-2023, hutan Papua mengalami deforestasi seluas 722.256 hektar. Dari total deforestasi tersebut, wilayah Papua Selatan mengalami kehilangan hutan paling besar hingga mencapai 196.650 hektar. Kemudian disusul Papua Barat (145.439 hektar), Papua (112.098 hektar), Papua Tengah (99.202 hektar), Papua Barat Daya (93.921 hektar), dan Papua Pegunungan (74.944 hektar).

Alih-alih menyelesaikan persoalan lingkungan, proyek bioenergi dari pemerintah justru akan menghancurkan hutan dan merampas hak masyarakat adat di Papua. Dari pendaftaran Greenpeace, pembukaan lahan seluas 560.000 hektar vegetasi alami di Papua dapat melepaskan 221 juta ton karbon dioksida atau setara dengan 48 juta emisi mobil dalam setahun.

Penetapan area seluas 380.000 hektar di Kabupaten Merauke dan Boven Digoel untuk memproduksi bahan bakar biodiesel B50 juga bisa menghasilkan emisi yang signifikan. Jika konversi, lanskap tersebut akan melepaskan emisi setara 162 juta ton gas CO ke atmosfer.

Seharusnya dalam hal ini negara melalui alat-alatnya harus lebih bijak didalam pengambilan setiap langkah serta keputusan karena akan membawa dampak yang besar bagi ruang lingkup masyarakat setempat bukan pada mereka yang ada dijakarta tapi mereka yang ada dipapua menjadi korban oleh proyek strategis negara ini seharusnya negara lebih memperhatikan rakyatnya bukan sekedar mencari cuan, mereka yang tinggal di sana jauh lebih penting karena lahan huan yang dibuka adalah wilayah hutan mereka yang sudah sejak lama mereka menjaga dan hidup di sana, buka sekeder menjaga mereka merawat hutan seperti mencintai ibu.

Rujukan:

data dari Greenpeace Indonesia

David Gaveau, pendiri The TreeMap dalam tulisan berjudul “Pembukaan Lahan di Papua: Tren dan Pendorong 2024-2025”

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image