Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Aghata Rambu Wasak Lodang

Stigma ODHA di Kupang: Saat Virusnya Menular, Tapi Empatinya Tidak

Edukasi | 2026-04-20 18:15:48

Oleh: Aghata Rambu Wasak Lodang

Kupang seringkali bangga dengan sebutan “Kota Kasih”. Namun, mari kita jujur sejenak: apakah kasih itu benar-benar sampai kepada kawan-kawan kita yang hidup dengan HIV (ODHA)? Faktanya, di balik keramahan yang terlihat, masih berdiri tembok tebal bernama stigma—yang justru lebih melukai daripada virus itu sendiri. Ironisnya, di era informasi yang serba cepat ini, pemahaman masyarakat tentang HIV/AIDS seolah tidak berkembang. Kita lebih cepat menghakimi moral seseorang daripada memahami kondisi medis yang sebenarnya.

Labelling: Penjara Tanpa Jeruji di berbagai sudut Kota Kupang, diagnosis HIV masih sering dianggap sebagai “vonis mati”, bahkan “kutukan”. Akibatnya, diskriminasi menjadi hal yang biasa terjadi. Penolakan di tempat kerja, pengucilan dari keluarga, hingga bisik-bisik tetangga menjadi tekanan yang harus dihadapi ODHA setiap hari. Stigma ini menimbulkan dampak serius, antara lain:

•Keengganan untuk tes HIV karena takut dikucilkan

•Fenomena gunung es, dimana banyak kasus tidak terdeteksi hanya sedikit, padahal yang belum terdeteksi jauh lebih banyak karena mereka bersembunyi dibalik rasa malu

•Tekanan kesehatan mental akibat penolakan sosial

Edukasi Seksual: Bukan Tabu, Tapi Kebutuhan Salah satu penyebab kuatnya stigma adalah kurangnya edukasi kesehatan seksual. Di Kupang, topik ini masih sering dianggap tabu dan tidak pantas dibicarakan secara terbuka. Padahal, edukasi seks bukanlah ajakan pada perilaku menyimpang, melainkan bagian dari literasi kesehatan yang penting.Kurangnya pemahaman membuat masyarakat masih percaya bahwa HIV dapat menular melalui sentuhan biasa, seperti bersalaman, berbagi alat makan, atau berpelukan. Padahal, itu tidak benar. Dengan pengobatan modern seperti terapi Antiretroviral (ARV), ODHA dapat hidup sehat, produktif, dan memiliki kualitas hidup yang baik. Jangan sampai “Kota Kasih” hanya menjadi slogan, sementara di kehidupan nyata masih ada orang yang tersakiti oleh stigma sosial. Ingat, musuh kita adalah virusnya, bukan orangnya.

Memanusiakan Manusia sebagai generasi muda Kupang, kita memiliki tanggung jawab untuk memutus rantai stigma ini. Sudah saatnya kita mengubah cara pandang, dari melihat HIV sebagai “penyakit kotor” menjadi isu kesehatan publik yang harus ditangani bersama.Virus memang bisa menular jika kita tidak berhati-hati. Namun, empati tidak boleh ikut hilang. Mengedukasi diri sendiri adalah langkah awal. Berhenti menghakimi dan mulai merangkul adalah langkah nyata.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image