Harapan Warga Gaza di Tengah Reruntuhan
Agama | 2026-04-20 05:31:13Harapan Warga Gaza di Tengah Reruntuhan
Oleh: Dhevy Hakim
Warga Gaza kembali merayakan hari kemenangan umat Islam dengan wajah yang menyayat hati. Di tengah reruntuhan gedung-gedung yang hancur akibat konflik dan hamparan tenda darurat yang menjadi tempat tinggal bagi jutaan pengungsi, warga Gaza menjalankan ibadah dan tradisi hari raya dengan penuh kesabaran, meskipun duka dan nestapa tampak tak berujung menimpa mereka.
Melansir dari viva.co.id (21/03/2026) disebutkan bahwa warga Gaza merayakan Idul Fitri di tengah kehancuran yang melanda kota mereka. Banyak yang tidak memiliki rumah untuk kembali setelah konflik yang berkepanjangan, sehingga terpaksa menjalankan salat Id di jalanan terbuka, lapangan kosong yang belum terbebas dari reruntuhan, atau di dalam tenda darurat yang sempit. Takbir Idul Fitri yang bergema bukan hanya menjadi pengingat akan hari kemenangan bagi umat Islam, tetapi juga sebagai suara harapan di tengah kegelapan penderitaan.
Selain itu, terdapat informasi bahwa akses ke tempat ibadah penting seperti Masjid Al-Aqsa ditutup oleh pihak berwenang Israel pada hari raya, membuat ratusan bahkan ribuan jamaah terpaksa melaksanakan salat di luar area masjid. Hal serupa juga dilaporkan terkait dengan akses ke Masjid Ibrahimi, meskipun informasi rinci terkait hal tersebut tidak dapat diakses secara penuh dari sumber yang diberikan.
Duka nestapa yang dialami warga Gaza bukan hanya soal kehilangan tempat tinggal dan akses ke fasilitas ibadah. Konflik yang berkepanjangan juga menyebabkan kekurangan pasokan makanan, air bersih, dan layanan kesehatan yang layak. Pada hari raya yang seharusnya penuh dengan kebahagiaan dan berkumpulnya keluarga, banyak warga Gaza harus berbagi makanan yang terbatas dan merenungkan nasib keluarga serta kerabat yang mungkin telah hilang atau terpencar akibat perang.
Situasi ini semakin diperparah dengan fokus internasional yang sebagian bergeser ke dinamika geopolitik lainnya di kawasan, termasuk ketegangan antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran. Hal ini membuat perhatian terhadap kondisi kemanusiaan di Gaza terkadang terlupakan, meskipun kebutuhan dasar warga sipil di sana tetap ada dan bahkan semakin meningkat.
Hal ini sungguh menunjukkan harapan akan nasib kaum muslimin di Gaza Palestina tidak bisa jika mengandalkan dari jalan diplomasi. Harapan warga Gaza sesungguhnya berada di pundak kaum muslimin di seluruh dunia. Oleh karenanya penting untuk mewujudkan persatuan umat sehingga kaum muslimin memiliki kekuatan untuk menolong saudara seakidah terbebas dari kezaliman dan kebiadaban zionis Israel.
Bukankah Rasulullah telah bersabda “Perumpamaan orang-orang mukmin dalam saling mencintai, menyayangi, dan mengasihi adalah seperti satu tubuh. Apabila salah satu anggota tubuh sakit, maka seluruh tubuhnya yang lain ikut merasakan sakit juga dengan tidak bisa tidur dan merasa demam” (HR. Bukhari Muslim)?! Wallahu a’lam.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
