Mahasiswa tak Menggunakan AI: Dianggap Aneh?
Teknologi | 2026-04-19 23:05:08
06/04/26 – Era digital semakin berkembang dan akan segera memasuki Revolusi Industri 5.0 yang dimana penggunaan AI (Artificial Inteligence) sangat marak dilakukan untuk memenuhi kebutuhan komputasional cepat dan murah pada berbagai macam kalangan. Sering sekali terjadi dimana mahasiswa menggunakan AI sebagai alat bantu untuk menyelesaikan tugas, baik tugas harian maupun akhir.
Dikutip dari (Perpus UIN Jakarta), Hasil survei terbaru memunculkan kekhawatiran mendalam terhadap penggunaan teknologi kecerdasan buatan (AI) dalam dunia pendidikan. Sebanyak 95% responden meyakini bahwa penggunaan AI saat ini telah disalahgunakan di institusi pendidikan.
Fakta yang mengejutkan pada hal ini adalah secara tidak sadar, mahasiswa kehilangan kemampuan berpikir untuk memahami bidang yang didalami oleh mahasiswa tersebut. Kasus ini, adalah contoh penyalahgunaan teknologi AI yang dimana seharusnya menjadi alat bantu untuk meningkatkan kualitas tugas yang dikerjakan, justru digunakan untuk mengambil alih pengerjaan tugas sepenuhnya.
Penggunaan AI pada saat ini masih tergolong naik dari segi volume penggunanya. Sebagai mahasiswa, saya melihat banyak teman menggunakan AI untuk menyelesaikan tugas, bahkan dengan menyerahkan seluruh proses pengerjaannya kepada AI. Fenomena ini membuat saya bertanya-tanya: apakah akan datang suatu masa ketika semua mahasiswa bergantung pada AI sebagai alat bantu belajar, dan mereka yang tidak menggunakannya justru dianggap aneh?
Semua ini diteorikan akan terjadi, karena menurut sosiolog Emile Durkheim yang berkata:
“Penyimpangan itu tidak selalu buruk, tapi sesuatu yang dianggap menyimpang oleh masyarakat karena berbeda dari norma yang berlaku.”
Berdasarkan teori tersebut, mahasiswa yang tidak menggunakan AI berpotensi dianggap “aneh” karena tidak mengikuti norma yang mulai terbentuk. Fenomena ini serupa dengan transisi dari Revolusi Industri 3.0 ke 4.0, di mana penggunaan teknologi—khususnya smartphone—yang dulunya tidak terlalu dominan, kini menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Saat ini, smartphone tidak hanya digunakan sebagai alat komunikasi, tetapi juga untuk memenuhi berbagai kebutuhan, seperti berbelanja secara online. Masyarakat tidak lagi harus mencari barang secara langsung, melainkan cukup melalui laman pencarian dengan mengetikkan produk yang diinginkan. Hal ini menunjukkan bagaimana teknologi mampu meningkatkan efisiensi waktu dan tenaga. Namun, di balik kemudahan tersebut, terdapat pula dampak negatif, seperti maraknya penipuan dan pesanan fiktif. Meski demikian, banyak pihak juga berhasil memanfaatkan teknologi ini untuk meraih keuntungan melalui aktivitas jual beli digital.
Sebenarnya memang semua mudah jika memakai AI, ketika semua sudah berbasis AI dimana nanti kita memesan makanan dan minuman sudah ada AI yang akan melayani kita. Tapi, transisi ini sulit direalisasikan, karena efek dari transisi ini menyebabkan penyempitan lapangan pekerjaan. Akan ada masanya sebagian orang kehilangan mata pencaharian mereka karena transisi di dunia otomasi yang sangat masif.
Jika AI disalahgunakan terus menerus, para mahasiswa yang salah ini tidak akan mendapat apa apa, karena pada dasarnya mereka diberikan latihan untuk mengasah pola pikir dan lulus di kondisi yang matang. Semua perjuangan mereka dari pengorbanan uang, waktu dan tenaga tak menghasilkan apapun. Nilai hanya angka dan sudah seharusnya sebagai mahasiswa yang menggunakan AI menjadikannya sebagai alat bantu belajar untuk meluaskan pola pikir dan wawasan. Sudah banyak AI yang mempunyai database yang sangat luas, mungkin semua data yang pernah ada, ada di database tersebut.
Oleh karena itu, saya beropini dalam prediksi mahsiswa yang menyalahgunakan AI sudah dinormalisasikan di lingkup mahasiswa. Dampaknya, nanti akan berujung pada diri sendiri. Semua usaha tidak akan sia-sia, perbedaan mahasiswa yang berusaha melatih pikirannya dan meluaskan wawasan mati-matian sangat amat jauh. Penalaran dan pengetahuan pada mahasiswa yang tidak menyalahgunakan AI untuk menyelesaikan tugas secara instan dengan yang menyalahgunakan akan jauh berbeda, karena mereka yang memilih jalan instan tidak melatih penalarannya dan meluaskan wawasannya yang harusnya itu menjadi manfaat berkuliah.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
