Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Muthmainnah Jamilah

Surga Itu Bernama Ummi: Ummi Pergi Tapi Cintanya Tinggal

Kisah | 2026-04-17 16:36:23
Foto penulis dengan ibunda, Jakarta 2011

Takdir Allah selalu indah, meski sering kali tidak langsung kita pahami. Ia berjalan dengan cara yang kadang tak sesuai dengan harapan, namun selalu tepat pada waktunya. Kisah hidupku menjadi salah satu bukti bahwa apa yang Allah tetapkan, selalu membawa kebaikan yang mungkin baru kita sadari di kemudian hari.

Aku adalah anak pertama dari seorang ibu tangguh, seorang pejuang pendidikan yang mendedikasikan hidupnya untuk anak-anak sekolah dan anak yatim. Sejak kecil, Ummi sudah menanamkan nilai-nilai Islam dalam kehidupanku. Aku dibiasakan mengenakan busana muslimah, disuguhi tontonan yang mendidik secara Islami, dan diarahkan pada pendidikan berbasis agama.

Saat memasuki usia SMP, Ummi memutuskanku untuk melanjutkan pendidikan di pesantren tahfidz. Di usia itu, aku sempat bertanya dengan polos, “Ummi, kenapa aku tidak sekolah seperti anak-anak lain? Kenapa aku harus menghafal Al-Qur’an?” Ummi hanya tersenyum dan menjawab singkat, “Kelak kamu akan tahu, Nak.”

Perjalanan itu tidak mudah. Menghafal Al-Qur’an membutuhkan kesabaran, ketekunan, dan perjuangan yang panjang. Namun, dengan doa dan dukungan Ummi, aku terus melangkah hingga akhirnya Allah mengizinkanku menyelesaikan hafalan 30 juz. Saat itu, Ummi memelukku dengan erat, air matanya jatuh tanpa bisa ditahan. Dengan suara bergetar, ia berkata, “Terima kasih, Nak. Kamu sudah mencapainya.” Kalimat sederhana itu menjadi salah satu momen paling berharga dalam hidupku.

Beberapa tahun kemudian, aku melanjutkan pendidikan dengan harapan besar untuk bisa menempuh studi di Timur Tengah. Aku bahkan sempat belajar di Mesir dan berusaha meraih beasiswa kampus impian. Namun, berkali-kali aku harus menerima kenyataan bahwa semua usahaku belum membuahkan hasil. Penolakan demi penolakan sempat membuatku bertanya-tanya tentang arah hidupku.

Hingga akhirnya, aku kembali pada titik yang selama ini mungkin telah Allah siapkan sejak awal. Kini, aku belajar mengelola lembaga pendidikan yang telah Ummi dirikan. Lembaga yang menjadi ladang amal beliau dalam membantu pendidikan anak-anak dan anak yatim.

Di titik ini, aku mulai memahami jawaban dari pertanyaan yang dulu pernah aku ajukan. Menghafal Al-Qur’an bukanlah jalan yang sia-sia. Justru itulah bekal utama yang kini menguatkanku dalam melanjutkan perjuangan Ummi. Semua yang telah beliau tanamkan sejak kecil, kini menjadi fondasi dalam langkahku.

Kehilangan Ummi adalah luka yang tak pernah benar-benar hilang. Ia adalah surgaku, tempatku pulang, dan sumber kekuatanku. Namun, di balik kehilangan itu, aku juga menemukan makna besar tentang takdir. Bahwa apa yang Allah ambil, akan diganti dengan sesuatu yang jauh lebih bermakna.

Hari ini aku percaya, takdir Allah tidak pernah salah. Apa yang kita anggap sebagai kegagalan, bisa jadi adalah jalan terbaik yang telah Allah pilihkan. Dan apa yang dulu terasa membingungkan, kini menjadi jawaban yang begitu menenangkan.

Bukan hanya aku yang kehilangan Ummi. Anak-anak di lembaga pendidikan yang beliau bangun turut merasakan kehilangan, jamaah yang selama ini beliau bimbing dalam dakwah pun merindukannya, bahkan seorang pemulung di sekitar rumah kami ikut kehilangan sosok penuh kasih itu. Ternyata, Ummi bukan hanya milikku ia adalah milik banyak hati yang pernah ia sentuh dengan kebaikan.

Terima kasih, Ummi. Perjuanganmu akan terus hidup. Meski kini ragamu tak lagi di sampingku, setiap nasihatmu masih hidup dalam langkah-langkahku. Aku merindukan pelukan hangatmu, suara lembutmu, dan doa-doa yang dulu selalu menguatkanku tanpa henti. Jika hari ini aku mampu berdiri dan melanjutkan perjuanganmu, itu karena didikan dan cintamu yang tak pernah putus, bahkan setelah kepergianmu.

Ummi, tunggulah aku di surga-Nya kelak, dalam keadaan terbaik, posisi terbaik. Karena sejauh apa pun aku melangkah, hatiku akan selalu pulang kepadamu.

Kisah kecil dari buah hatimu yang selalu merindukanmu.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image