Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Moe Hadir

Memaknai Sehat...

Senggang | 2026-04-13 19:49:39
Sumber : Pinterest

MEMAKNAI SEHAT...

Oleh : Moe Hadir

Sehat adalah dambaan setiap manusia. Dalam sehat kita bisa melakukan banyak aktifitas dan tidak terkendala untuk melakukan amal kebaikan. Sehat merupakan nikmat besar yang Allah Swt anugerahkan kepada manusia, setelah nikmat iman dan Islam. Karena ia merupakan nikmat, maka seharusnya kita menjaga atas titipan anugerah yang diberikan oleh Allah Swt.

Diantara bentuk penjagaan atas nikmat, Imam Ibnu Qoyyim Al Jauziyah memberikan nasehat yang sangat berharga. Kata beliau, “ Jagalah kenikmatan-kenikmatan yang telah Allah berikan dengan menjauhi maksiat, karena maksiat penyebab Allah menyabut kenikmatan-kenikmatan ”. Subhanallah

Allah Swt dalam Al Qur’an suarat Al Baqarah ayat 152 memberikan satu pengajaran atau tarbiyah buat manusia, agar senantiasa mengingat Nya, bersyukur kepada Nya dan tidak kufur akan nikmat Nya. “Maka ingatlah kepadaku, Akupun akan ingat kepadamu. Bersyukurlah kepada Ku dan janganlah kamu ingkar kepada Ku”. Maha suci Allah dengan segala firman Nya.

Sadaraku Oleh karena itu menjaga kesehatan adalah bentuk kesyukuran atas nikmat. Rasulullah Saw juga mengingatkan kepada kita dengan sabdanya, “Atas badanmu memiliki hak”. Hak untuk dijaga, hak untuk dipelihara, hak untuk mendapat asupan yang halal danthoyyib. Lalu bagaimana cara kita memaknai sehat? Tips berikut, semoga bermanfaat.

Syukuri atas segala nikmat, memaknai sehat yang pertama. Nikmat yang begitu banyak yang tidak mampu untuk menghitungnya, dari bangun tidur hingga tidur kembali, menikmati udara segar dan oksigen yang dihirup oleh paru-paru hingga megeluarkan karbondioksida, berfungsinya panca indera yang dimiliki, keteraturan ritme sistem pencernaan, dikuatkan badan untuk mencari penghidupan (maisyah) dan masih banyak nikmat-nikmat lain yang dibeikan oleh Allah Swt, mari syukuri dengan mengucapkan alhamdulillah wabinimatillah ‘ala kulli hal

Syukuri, agar Allah Swt semakin melimpahkan keberkahan atas nikmat yang diberikan. Syukuri, dengan senantias mengharapkan tambahan nikmat. Syukuri, supaya Allah Swt menjauhkan dari adzabNya yang pedih. Syukuri, dengan senantias beribadah dan memohon pertolonganNya. Syukuri, dengan menjaga nikmat yang diberikan. Syukuri, dengan membagikan sebagian yang dimiliki untuk orang lain.

“ Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, “ Sesungguhnya jika kamu bersyukurniscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu. Tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti adzab-Ku sangat berat ”. QS. Ibrahim ayat 7

Empati kepada sesama, memakani sehat yang kedua. Empati merupakan kemampuan untuk merasakan keadaan emosianal orang lain, merasa simpatik dan mencoba menyelesaikan masalah (Wikipedia). Menilik makna empati tersebut, sebagai wujud rasa syukuratas nikmat adalah berempati kepada orang lain dengan cara berbagi. Ketika seeorang memiliki nikmat berupa ilmu, wujud syukurnya adalah berbagi ilmu atau mengajarkan ilmu yang dimiliki kepada orang lain.

Ketika memiliki harta, wujud syukur nikmatnya dengan bershodakoh. Baik shodakoh dengan makna wajib ataupun bershodakoh dengan makna sunnah. Berbagi harta tidak mesti menunggu menjadi kaya, menunggu harta banyak. Walaupun secara nominal kecil, terpenting adalah memiliki empati agar bisa berbagi. “ Berbagi sebelum kaya ”, sesorang teman memberikan motifasi.

Ketika memiliki waktu luang, dan orang membutuhkan bantuan kita, berbagilah waktu dengan menolongnya. Apapun yang kita miliki sesungguhnya bisa berbagi kepada orang. Asalkan ada kemauan untuk berbagi. Jika sudah memiliki kemauan, insya Allah akan dimampukan untuk berbagi.

Hargailah waktu yang telah diberikan, memaknai nikmat yang ketiga. Dalam sebuah kata hikmah disebutkan bahwa waktu adalah pedang. Artinya jika tidak bisa menghargai dan memanfaatkan waktu yang diterima, maka menjadi orang yang merugi. Allah Swt dalam Al Qur’an mengingatkan kepada kita bahwa kehidupan adalah permain dan sendau gurau. Banyak orang yang terpedaya dengan dunia karena tidak meghargai waktu.

Allah Swt juga bersumpah dengan waktu, bahwa kebanyakan manusia itu merugi. Karena tidak bisa memanfaatkan waktu yang telah diberikan. Pengecualian diberikan kepada orang yang beriman, beramal kebaikan, nasehat menasehati dalam perkara kebenaran dan kesabaran. Rasulullah Saw juga menyampaikan kepada kita bahwa diantara nikmat yang paling panyak dilupakan adalah nikmat kesempatan dan waktu luang.

Begitu berharganya waktu dalam pandangan Islam, sehingga Islam sangat memperhatikan akan waktu. Menghargai waktu sehat sebelum masa sakit adalah sebuah kebaikan. Karena kita akan merasakan waktu begitu berharga, ketika Allah Swt mencabut nikmat sehat dalam kehidupan dengan keberadaan penyakit. Kalau sudah tiada baru terasa. Menghargai waktu itu dengan menggunakan waktu yang diberikan untuk hal-hal yang bermanfaat dan mendatangkan pahala.

Amal dalam hidup perbanyaklah, memaknai nikmat yang keempat. Diantara lima perkara sebelum datang lima perkara yang diberitahukan oleh Rasulullah Saw adalah waktu luang sebelum waktu sempit. Ketika seseorang sehat, sesungguhnya kesempatan untuk melakukan kebaikan lebih banyak dari pada ketika waktu sakit datang. Sebab diantara kendala melakukan amal kebaikan adalah sakit yang merusak.

Oleh sebab itu, ketika sehat masih membersamai perbanyaklah untuk melakukan amal kebaikan. Mumpung masih ada waktu kata Ebit G Ade dalam lirik syairnya. Bayak hal yang dapat dilakukan. Memperbanyak berdzikir, memperbanyak istighfar, memperbanyak membaca Al Qur’an, memperbanyak membaca buku yang bermanfaat dan ragam amal kebaikan lainnya. Jangan sampai diam tanpa amal.

Tak lupa gapai ridho Allah Swt, memaknai nikmat yang kelima. Sehat sesungguhnya adalah amanah dan wasilah. Karena dia washilah, gunakan sehat yang diberikan oleh Allah Swt untuk melakukan amalan yang diridhoi Allah Swt. Tidak menyia-nyiakan, apalagi sampai melupakan kesempatan. Sebab sehat itu amanah, kelak akan diminta pertangungjawaban atas pemanfaatan sehat yang diberikan.

Mari pergunakan kesempatan sehat yang diberikan untuk hal-hal yang baik, hal-hal yang mendatangkan pahala, hal-hal yang mendatangkan manfaat dalam kehidupan. Tak lupa, berdoa kepada Allah Swt dengan doa yang diajarkan oleh Rasulullah Saw, sehari tiga kali yang dibaca pagi dan petang hari. “Allahumma ‘afani fii badanii, allahumma ‘afani fii sam’ii, allahumma ‘afani fii bashori ”.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image