Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Rita Maliza

Mengapa Superfood Itu Mitos

Edukasi | 2026-04-12 06:25:37

Dari waktu ke waktu, selalu muncul satu bahan makanan yang tiba-tiba dianggap luar biasa. Ada yang disebut mampu meningkatkan imunitas secara signifikan, ada pula yang diklaim bisa menurunkan risiko penyakit kronis hanya dengan rutin dikonsumsi. Narasi seperti ini cepat menyebar, apalagi jika disertai istilah ilmiah yang terdengar meyakinkan.

Namun jika kita melihatnya dari sudut pandang sains, klaim semacam itu perlu disikapi dengan hati-hati.

Tidak ada “makanan ajaib”. Yang ada adalah pola makan yang tepat, konsisten, dan beragam. Ilustrasi foto oleh Jony Ariadi di Unsplash.

Tubuh manusia tidak bekerja secara sederhana. Apa yang kita makan bukanlah satu zat tunggal yang langsung menghasilkan satu efek tertentu. Setiap bahan pangan membawa kombinasi kompleks antara protein, lemak, karbohidrat, vitamin, mineral, dan berbagai senyawa bioaktif. Semua komponen ini berinteraksi satu sama lain di dalam tubuh.

Di sinilah letak persoalannya. Banyak penelitian memang menemukan bahwa suatu senyawa tertentu memiliki potensi manfaat kesehatan. Akan tetapi, temuan ini sering kali berasal dari kondisi yang sangat terkontrol, misalnya di laboratorium atau pada model hewan. Ketika hasil tersebut diterjemahkan menjadi pesan untuk publik, maknanya sering berubah. Senyawa yang awalnya diteliti secara spesifik kemudian diasosiasikan dengan satu bahan makanan secara utuh, seolah-olah efeknya pasti dan berlaku umum.

Padahal kenyataannya tidak demikian.

Senyawa bioaktif tidak pernah bekerja sendiri. Ia selalu berada dalam konteks makanan utuh yang mengandung berbagai komponen lain. Interaksi antar komponen inilah yang menentukan bagaimana tubuh merespons. Dalam beberapa kondisi, efeknya bisa saling mendukung, tetapi dalam kondisi lain justru bisa saling menetralkan.

Selain itu, kesehatan tidak ditentukan oleh satu jenis makanan yang dikonsumsi sesekali. Yang lebih berpengaruh adalah pola makan secara keseluruhan dalam jangka panjang. Kebiasaan makan yang beragam, seimbang, dan konsisten jauh lebih menentukan dibandingkan fokus pada satu bahan tertentu yang dianggap istimewa.

Hal lain yang sering luput dari perhatian adalah soal dosis. Banyak senyawa yang bermanfaat dalam jumlah tertentu, tetapi tidak berarti aman atau lebih efektif jika dikonsumsi berlebihan. Tubuh memiliki mekanisme yang membutuhkan keseimbangan, bukan dominasi satu komponen.

Mengapa kemudian konsep superfood tetap populer? Salah satu alasannya adalah karena ia menawarkan jawaban yang sederhana. Di tengah kompleksitas gaya hidup dan informasi kesehatan, gagasan bahwa ada satu makanan yang bisa memberikan solusi terasa sangat menarik. Namun justru kesederhanaan itulah yang membuatnya kurang tepat secara ilmiah.

Pendekatan yang lebih masuk akal adalah melihat makanan sebagai bagian dari sistem yang saling terhubung. Variasi sumber pangan memberikan kombinasi nutrisi dan senyawa bioaktif yang lebih lengkap, sehingga tubuh dapat berfungsi secara optimal.

Pada akhirnya, kesehatan bukanlah hasil dari satu pilihan yang dianggap paling benar, melainkan akumulasi dari banyak kebiasaan yang dijalankan secara konsisten. Mencari satu makanan yang dianggap paling hebat mungkin terdengar menarik, tetapi memahami pentingnya keseimbangan justru jauh lebih mendekati kenyataan.

Itulah sebabnya, alih-alih mengejar superfood, kita sebaiknya mulai membangun pola makan yang lebih beragam dan berkelanjutan.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image