Dunia Terlihat Baik-Baik Saja, Tapi Kenapa Kita Ngerasa Kosong?
Edukasi | 2026-04-10 10:25:07
Pernah nggak kamu lagi duduk, semuanya terlihat normal.
Bukan sedih, bukan juga capek secara fisik.
Tapi kayak ada sesuatu yang hilang dan kamu sendiri nggak tahu itu apa.
Aneh, ya?
Karena dari luar, hidup kamu baik-baik saja.
Kamu masih bisa ketawa, masih bisa ngobrol, masih bisa menjalani hari seperti orang lain.
Tapi di dalam diri, rasanya seperti ada ruang yang nggak terisi.
Dan yang lebih membingungkan
kamu nggak tahu harus menjelaskan ini ke siapa.
Di permukaan, semuanya terlihat berjalan sebagaimana mestinya.
Rutinitas tetap dijalani, percakapan tetap terjadi, dan senyum masih bisa diberikan tanpa banyak usaha. Tidak ada yang benar-benar salah, setidaknya dari apa yang terlihat.
Namun di dalam diri, ada ruang yang terasa hampa.
Bukan kesedihan yang jelas bentuknya, bukan pula luka yang bisa dijelaskan dengan kata-kata. Hanya kosong.
Perasaan ini seringkali membingungkan. Karena tidak ada alasan yang cukup kuat untuk merasa seperti itu. Hidup tidak sedang berada di titik terburuk, bahkan mungkin justru sedang “baik-baik saja”. Tetapi entah mengapa, ada jarak yang terbentuk antara diri sendiri dan apa yang dijalani.
Salah satu penyebabnya adalah kelelahan emosional yang tidak disadari.
Terlalu lama menahan, terlalu sering mengabaikan perasaan sendiri, hingga akhirnya diri menjadi terbiasa untuk tidak merasakan apa-apa. Bukan karena tidak mampu, tetapi karena sudah terlalu sering dipaksa untuk kuat.
Di sisi lain, dunia yang terus bergerak cepat membuat kita tanpa sadar kehilangan koneksi dengan diri sendiri. Kita sibuk memenuhi ekspektasi, mengejar standar, dan berusaha terlihat “baik-baik saja” di hadapan orang lain. Hingga pada akhirnya, kita lupa untuk benar-benar memahami apa yang sebenarnya kita rasakan.
Perasaan kosong bukan berarti kita tidak memiliki apa-apa.
Justru sebaliknya, terkadang itu adalah tanda bahwa ada bagian dari diri yang terlalu lama diabaikan.
Mungkin yang dibutuhkan bukanlah perubahan besar.
Bukan pula jawaban instan yang langsung menyelesaikan segalanya. Tetapi cukup dengan berhenti sejenak. Memberi ruang untuk diri sendiri. Mengakui bahwa tidak apa-apa jika kita tidak selalu merasa utuh.
Karena pada akhirnya, menjadi “baik-baik saja” tidak selalu berarti kita benar-benar baik.
Dan mungkin, memahami kekosongan itu sendiri adalah langkah awal untuk kembali merasa.
Jika kamu pernah merasakan hal yang sama, mungkin kamu tidak sendirian.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
