Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Namira Syahda Al Aliyya

Karbohidrat: Kawan atau Lawan Bagi Kesehatan?

Gaya Hidup | 2026-04-09 18:38:12

Secara ilmiah, karbohidrat merupakan salah satu zat gizi utama yang dibutuhkan tubuh. Ketika dikonsumsi, karbohidrat akan diubah menjadi glukosa yang berfungsi sebagai sumber energi bagi berbagai aktivitas, mulai dari berpikir hingga bergerak (Zai et al., 2025). Tanpa asupan karbohidrat yang cukup, tubuh justru akan mengalami kekurangan energi.

Namun, tidak semua karbohidrat memberikan dampak yang sama. Dalam kehidupan sehari-hari, masyarakat cenderung mengonsumsi karbohidrat dalam bentuk yang kurang sehat, seperti nasi putih dalam jumlah berlebih, minuman manis, serta makanan olahan tinggi gula. Jenis makanan ini umumnya memiliki indeks glikemik tinggi, yaitu dapat meningkatkan kadar gula darah dengan cepat.

Jika kebiasaan ini berlangsung terus-menerus, risiko penyakit seperti diabetes melitus pun meningkat (Majid et al., 2025). Inilah yang kemudian membuat karbohidrat sering disalahkan sebagai penyebab utama masalah kesehatan.

Padahal, di sisi lain, terdapat jenis karbohidrat yang justru bermanfaat bagi tubuh, yaitu karbohidrat kompleks. Sumbernya dapat ditemukan pada umbi-umbian, biji-bijian utuh, dan berbagai pangan lokal. Karbohidrat jenis ini dicerna lebih lambat sehingga membantu menjaga kestabilan gula darah.

Menariknya, Indonesia memiliki potensi besar dalam pengembangan pangan berbasis karbohidrat yang lebih sehat. Salah satunya adalah hanjeli, yang dapat diolah menjadi tepung komposit dengan indeks glikemik lebih rendah dibandingkan bahan pangan biasa (Adelina et al., 2025). Hal ini menunjukkan bahwa karbohidrat tidak selalu identik dengan dampak negatif, melainkan dapat menjadi bagian dari pola makan sehat jika dikelola dengan baik.

Fenomena yang terjadi saat ini sebenarnya lebih mengarah pada kesalahpahaman. Banyak orang beralih dari konsumsi karbohidrat berlebih menjadi menghindarinya secara ekstrem. Padahal, keduanya bukanlah pilihan yang tepat.

Kunci utamanya adalah keseimbangan. Mengonsumsi karbohidrat dalam jumlah cukup, memilih jenis yang lebih sehat, serta mengombinasikannya dengan sayur, buah, dan sumber protein merupakan langkah sederhana yang dapat dilakukan.

Karbohidrat bukanlah musuh yang harus dijauhi, melainkan kebutuhan yang harus dipahami. Dengan pola konsumsi yang tepat, karbohidrat justru menjadi kawan yang mendukung kesehatan tubuh.

Jadi, daripada menghindarinya sepenuhnya, mungkin yang perlu kita lakukan adalah mulai lebih bijak dalam memilih dan mengonsumsinya.

Referensi:

Kimia, K., Fungsional, S., & Indeks, P. (2025). Karakteristik Kimia, Sifat Fungsional, dan Prediksi Indeks Glikemik Tepung Komposit Berbasis Hanjeli ( Coix lacryma-Jobi ) Termodifikasi. 10(1), 97–109.

Majid, V. M., Aji, A. S., Saloko, S., Aprilia, V., Seftina, D., Wahyuningsih, I., Biomedis, R., & Riset, B. (2025). Analisis Indeks Glikemik dan Sifat Fisik Beras Analog Sebagai Alternatif Pangan Fungsional pada Penderita Diabetes Mellitus Analysis of Glycemic Index and Physical Properties of Analog Rice as an Alternative Functional Food for Individuals with Diabetes Mellitus. 9(1), 21–30. https://doi.org/10.20473/amnt.v9i1SP.2025.21-30

Zai, M., Febrika, L., Lase, P., Zega, P., Biologi, P., & Nias, U. (2025). Pengaruh Konsumsi Dua Sumber Karbohidrat terhadap Respons Glikemik dan Energi Tubuh Manusia. 9, 24321–24327.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Berita Terkait

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image