Harga BBM Dipengaruhi Perang AS vs Iran, Mengapa?
Politik | 2026-04-10 12:44:51Oleh: Desi Maulia, S.K.M.
Beberapa saat ini harga bahan bakar dunia mengalami kenaikan selama berbulan-bulan. Hal ini salah satunya disebabkan adanya perang antara Amerika Serikat dan Iran. Iran kemudian menutup selat Hormuz yang membuat distribusi bahan bakar minyak dunia terhambat. Bahkan setelah selat Hormuz dibuka harga bahan bakar kemungkinan akan mengalami kenaikan selama berbulan-bulan. Hal ini sebagaimana yang dikatakan Badan Informasi Energi AS (EIA). Pernyataan ini bertolak belakang dengan jaminan Presiden Donald Trump. Presiden Amerika Serikat ini menyatakan bahwa konsumen bahan bakar akan merasakan keringanan dari harga ketika Amerika Serikat mengakhiri perang dengan Iran.
Perang yang terjadi antara AS-Israel dengan Iran, kini telah memasuki bulan kedua. Perang ini telah menyebabkan harga minyak dan bahan bakar di seluruh dunia meroket. Hal ini dikarenakan Iran telah memblokir kapal-kapal yanga akan melintas di Selat Hormuz. Selat Hormuz sendiri diketahui sebagai sebuah titik penting dalam perdagangan dunia (www kontak.co.id, 7/4/2026).
Berkaitan dengan perang Amerika-Israel dengan Iran ini, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengatakan bahwa pemerintah telah melakukan komunikasi secara intens dengan Iran. Hal ini terkait dua kapal Pertamina yang beberapa saat lalu masih belum bisa melintasi Selat Hormuz. Padahal, selama dua minggu kedepan Amerika Serikat (AS) dan Iran telah melakukan gencatan senjata (www.kompas.com, 8/4/2026).
Adanya perang antara Amerika-Israel dengan Iran ini memunculkan wacana bahwa harga BBM di Indonesia akan mengalami kenaikan. Terjadi antrean panjang di beberapa wilayah. AntAntrean panjang kendaraan untuk mengisi bahan bakar minyak (BBM) terlihat di sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) Pertamina sejak pagi hingga siang hari ini, Selasa (31/3). Antrean panjang kendaraan ini seperti yang terjadi di salah satu SPBU Pertamina di kawasan Pulo Gebang, Jakarta Timur. Antrean ini terjadi sejak pagi khususnya di dua baris area pengisian bensin untuk motor (www.detik.com, 31/3/2026).
Beberapa hari yang lalu pemerintah memastikan bahwa harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi tidak akan mengalami kenaikan hingga akhir tahun. Hal ini sebagaimana disampaikan oleh Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa. Menkeu Purbaya menegaskan bahwa kebijakan subsidi BBM telah dihitung secara matang. Hal ini dengan mempertimbangkan berbagai kondisi yang ada termasuk harga minyak dunia dan asumsi kenaikannya hingga akhir tahun. Berdasarkan perhitungan tersebut, maka defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) masih terjaga di kisaran 2,9 persen (www kemenkeu.go.id, 6/4/2026).
Saat ini pemerintah mengalami dilema terkait harga BBM. Jika BBM dinaikkan inflasi akan meningkat dan akan menimbulkan gejolak sosial. Saat ini saja ketika harga BBM belum dinaikkan sudah terjadi antrean panjang di beberapa tempat. Tapi di sisi lain, jika tidak dinaikkan maka defisit APBN akan semakin besar. Kondisi ini mempersulit masyarakat. Baik dari sisi keberadaannya yang sulit terjangkau atau juga dari sisi harga yang tidak bisa dijangkau.
Inilah realitas yang terjadi jika Indonesia menjadi importir minyak. Maka keberlangsungan pasokan minyak bergantung pada negara lain. Apalagi BBM termasuk komoditas strategis bagi suatu bangsa. BBM sangat berpengaruh terhadap komoditas lainnya. Ketika harga BBM naik maka akan menimbulkan kenaikan harga bagi komoditas yang lain. Oleh karenanya maka pasokan BBM seharusnya bisa dipenuhi secara mandiri oleh negara. Karena keberadaan ekonomi dan politik sering terguncang jika ada sentimen global.
Kondisi ini tidak lepas dari penerapan sistem Kapitalisme di Indonesia. Kapitalisme telah mendorong penguasaan dan eksploitasi terhadap sumber daya energi. Hal ini dilakukan demi mendapatkan keuntungan ekonomi. Dalam sistem Kapitalisme, sumber daya energi dikuasai oleh kekuatan ekonomi dan politik tertentu. Di sisi lain bagi negara berkembang hanya menjadi pasar. Dengan ketergantungan ini menyebabkan negara tersebut rentan untuk mendapatkan tekanan dari negara lain. Negara tersebut mudah dipengaruhi dan dikendalikan.oleh negara-negara besar.
Oleh karenanya penting bagi suatu negara untuk memiliki kedaulatan energi. Terutama bagi negeri-negeri muslim termasuk Indonesia. Negeri-negeri muslim sejatinya telah diberikan anugerah oleh Allah SWT dengan berbagai kekayaan sumber daya alam dan energi yang melimpah. Seharusnya dengan penanganan yang tepat maka akan mampu menciptakan kemandirian energi.
Kemandirian energi ini hanya bisa didapatkan ketika negeri-negeri muslim bersatu dalam sebuah kepemimpinan negara Khilafah. Dengan Khilafah maka energi akan dikelola berdasarkan syariat Allah SWT. Negara akan melakukan eksplorasi hanya sesuai dengan kebutuhan saja. Selain itu bagi negara-negara yang melimpah minyaknya seperti negeri-negeri Arab dan Iran maka bisa didistribusikan ke negeri muslim lainnya. Semuanya ini hanya bisa dengan adanya persatuan negeri-negeri muslim yang kekurangan. Khalifah yang akan mengatur pengelolaan minyak dan sumber daya energi lainnya.
Karena Khalifah adalah raa'in atau pengurus yang akan mengatur semua urusan rakyatnya. Hal ini sebagaimana yang telah disampaikan oleh Rasulullah SAW,"Imam/khalifah itu adalah raa’in (pengurus) dan Dialah yang bertanggung jawab terhadap rakyatnya.” (HR Bukhari dan Muslim).Dengan kemandirian energi ini maka negara Khilafah akan menjadi negara independen dan tidak bergantung pada negara lainnya. Selain itu ekonomi dan politiknya tidak akan mudah bergejolak akibat goncangan global.
Namun meskipun memiliki kemandirian energi, Khilafah tetap menggunakan BBM dengan bertanggung jawab. Penggunaan dan pengelolaannya disesuaikan dengan kebutuhan negara secara menyeluruh. Pengaturannya ini dilakukan dengan landasan keimanan kepada Allah SWT dan berdasarkan syariat Islam. Penghematan akan dilakukan pada hal-hal yang perlu dihemat. Adapun pada pelayanan publik atau kewajiban seperti jihad maka dicukupi sesuai kebutuhan. Di sisi lain Khilafah juga mendorong para ilmuwan yang ada dalam negara Khilafah untuk mengembangkan sumber daya energi dari sumber selain minyak seperti nuklir atau yang lainnya. Hal ini dilakukan Khilafah dalam rangka menjamin terpenuhinya kebutuhan rakyat dan negara terhadap minyak.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
