Sejauh Mana Inovasi Berdampak dalam Beragama?
Agama | 2026-04-08 10:59:50
Memasuki malam ke-29 Ramadan 1447 H, suasana Masjid Islamic Center Universitas Ahmad Dahlan (UAD) terasa begitu khidmat sekaligus hangat. Dalam ceramah tarawihnya, Dr. Ridwan Furqoni, M.P.I. mengajak jemaah membedah empat dimensi ajaran Islam—yakni akidah, ibadah, akhlak, dan muamalah duniawiyah—sebagai bekal menjadi pribadi bertakwa pasca-Ramadan. Ia menjelaskan bahwa dalam hal akidah dan ibadah mahdhah, prinsip utamanya adalah tajrid atau pemurnian.
Umat Islam harus merujuk sepenuhnya pada wahyu tanpa perlu berimajinasi atau berinovasi secara berlebihan. Namun, hal ini berbanding terbalik dengan dimensi muamalah duniawiyah. Dalam urusan dunia seperti ekonomi, pendidikan, hingga pengelolaan masjid, umat justru didorong untuk sekreatif mungkin.
"Kalau ibadah mahdhah itu sudah rinci sekali. Salat Subuh dua rakaat, ya ikuti saja, jangan ditanya kenapa tidak ditambah. Itu namanya ta'abbudi," jelas Dr. Ridwan.
Ada hal yang menarik saat Dr. Ridwan memberikan tamsil mengenai pentingnya inovasi atau tajdid. Melalui analogi kisah jenama Odol dan ponsel Nokia yang ditinggalkan zaman karena gagal melakukan pembaruan, ia menarik benang merah tersebut ke dalam ranah pengelolaan dakwah dan masjid.
Ia mencontohkan sebuah masjid di Jalan Wonosari yang sangat kreatif karena menyediakan jamuan prasmanan saat Jumat Berkah, sehingga jemaah berbondong-bondong datang. Bahkan menurutnya, kreativitas seperti penggunaan layanan Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) untuk infak atau pengelolaan kegiatan yang menarik adalah kunci utama agar syiar Islam tetap relevan di zaman sekarang.
"Bapak-Ibu tahu kenapa merek Odol sekarang hampir tidak ada? Atau kenapa HP Nokia yang dulu berjaya sekarang ditinggalkan? Itu karena mereka gagal melakukan tajdid atau pembaruan," ungkapnya memberikan perumpamaan.
Di akhir ceramahnya, Dr. Ridwan berpesan agar perbedaan-perbedaan teknis dalam beragama, seperti penentuan awal bulan kamariah, disikapi dengan bijak. Perbedaan tersebut sejatinya hanyalah perbedaan perspektif dalam memahami mana ranah yang murni bersifat ritual (ta'abbudi) dan mana yang bisa dirasionalkan (ta'aqquli). (Anw)
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
