Negeri Sakura dan Tantangan Halal yang tak Terlihat
Wisata | 2026-04-08 11:50:33Perjalanan ke Jepang pada 9–15 November 2025 bersama rekan-rekan dari IPB University menjadi pengalaman yang tidak hanya memperkaya wawasan budaya, tetapi juga memunculkan refleksi penting terkait konsumsi halal di tengah perbedaan sistem dan pemahaman.
Salah satu momen yang cukup membekas terjadi ketika saya dan teman-teman mengunjungi sebuah restoran sushi di Jepang. Kami memesan beberapa menu, termasuk ramen yang sekilas terlihat aman. Tidak ada kecurigaan pada awalnya, hingga kemudian diketahui bahwa kuah yang digunakan berbasis babi (pork-based broth). Situasi ini terasa cukup mengejutkan, sekaligus menyadarkan bahwa dalam konteks kuliner lintas budaya, apa yang tampak “aman” belum tentu benar-benar sesuai dengan prinsip halal. Bahkan, dalam pengalaman tersebut, penanda identitas seperti penggunaan hijab yang saya kenakan tidak serta-merta menjamin adanya pemahaman yang sama mengenai kebutuhan halal. Hal ini menunjukkan adanya perbedaan perspektif yang wajar dalam konteks budaya yang berbeda.
Pengalaman tersebut membuat saya menyadari bahwa persoalan halal di luar negeri tidak sesederhana menghindari daging babi secara langsung. Dalam laporan Global Muslim Travel Index oleh CrescentRating, disebutkan bahwa jumlah wisatawan Muslim global terus meningkat, sehingga mendorong negara-negara seperti Jepang untuk mengembangkan konsep wisata yang lebih ramah Muslim. Namun dalam praktiknya, pemahaman tentang halal belum selalu komprehensif.
Hal ini terlihat dari masih adanya penggunaan bahan turunan yang tidak selalu disadari. Beberapa penelitian yang dipublikasikan oleh Elsevier menunjukkan bahwa restoran dapat saja tidak menggunakan daging babi secara langsung, tetapi tetap menggunakan kaldu atau minyak turunannya. Bahkan bahan yang terlihat umum seperti shoyu (kecap Jepang) dalam beberapa kasus mengandung mirin atau unsur alkohol dalam proses pembuatannya. Di titik ini, saya mulai memahami bahwa tantangan terbesar justru terletak pada hal-hal yang tidak terlihat.
Selain makanan di restoran, pengalaman memilih oleh-oleh dan makanan praktis juga tidak kalah menantang. Tidak semua produk memiliki label yang mudah dipahami, sehingga saya sempat mengandalkan aplikasi seperti Halal Japan App untuk membantu mengidentifikasi kandungan produk. Namun, tidak semua barang dapat dipindai atau memiliki informasi yang lengkap.
Di convenience store seperti Lawson dan FamilyMart, banyak produk yang hanya menggunakan label berbahasa Jepang. Dalam beberapa kasus, makanan sederhana seperti sandwich ternyata mengandung bahan berbasis babi. Keterbatasan bahasa juga menjadi tantangan tersendiri, karena tidak semua orang dapat berkomunikasi dalam bahasa Inggris. Situasi-situasi kecil seperti ini membuat saya semakin memahami bahwa kehati-hatian bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan.
Fenomena serupa sejatinya tidak hanya ditemukan di luar negeri. Di Indonesia, tantangan dalam menjaga kehalalan juga masih dapat dijumpai, khususnya terkait penggunaan dapur bersama yang berpotensi menimbulkan kontaminasi silang antara bahan halal dan non-halal. Hal ini menunjukkan bahwa persoalan halal tidak hanya berkaitan dengan bahan utama, tetapi juga menyangkut proses dan fasilitas.
Meski demikian, pengalaman tersebut tidak mengurangi kekaguman saya terhadap Jepang. Salah satu tempat yang memberikan kesan mendalam adalah Tokyo Camii & Diyanet Turkish Culture Center. Masjid bergaya arsitektur Ottoman ini tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga ruang edukasi yang terbuka untuk siapa saja. Saat berkunjung, saya melihat sejumlah pelajar Jepang yang tengah mengikuti kegiatan pengenalan Islam, meskipun mereka bukan beragama Muslim. Momen ini terasa hangat dan menunjukkan bahwa ruang untuk saling memahami tetap terbuka di tengah perbedaan.
Pengalaman lain yang memperkuat refleksi ini terjadi saat transit di Xiamen. Dalam kondisi lelah dan keterbatasan informasi, pilihan makanan menjadi sangat terbatas. Pada akhirnya, saya memilih konsumsi yang paling sederhana dan aman. Meskipun tidak ideal, keputusan tersebut terasa cukup menenangkan karena tetap sejalan dengan prinsip yang ingin dijaga.
Pada akhirnya, perjalanan ini memberi pelajaran bahwa menjaga kehalalan bukan hanya soal apa yang kita konsumsi, tetapi juga tentang kesadaran, kehati-hatian, dan kemampuan beradaptasi dalam menghadapi perbedaan. Dalam dunia yang semakin terhubung, menjaga nilai tidak berarti menutup diri, melainkan memahami konteks dengan lebih bijak
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
