Rindu yang Retak Sunyi
Sastra | 2026-03-31 19:31:08
Cinta itu seperti api yang belajar membakar dirinya sendiri. Ia tidak pernah benar-benar hangat, hanya pandai berpura-pura menjadi rumah. Dan aku—aku adalah abu yang ditinggalkannya, masih mengepul, tapi tak lagi berarti.
Aku ingat pertama kali kita bertemu di sebuah sore yang basah oleh hujan. Kau datang dengan payung hitam yang terlalu besar untuk satu orang, lalu dengan mudahnya mengajakku masuk ke dalam lingkar kecil perlindungan itu. Aku tertawa waktu itu. Kau juga. Seolah dunia hanya selebar bahu kita yang saling bersentuhan.
Kita berjalan tanpa tujuan. Hanya menyusuri trotoar yang licin, membiarkan sepatu kita basah dan hati kita pelan-pelan tumbuh tanpa izin. Kau bilang kau suka hujan, karena hujan membuat semua orang tampak jujur. Aku tidak sepenuhnya mengerti, tapi aku menyukai caramu mengatakannya.
Sejak hari itu, aku mulai mengumpulkanmu dalam hal-hal kecil. Dalam cangkir kopi yang selalu kau pesan tanpa gula. Dalam pesan singkat yang kau kirim tengah malam hanya untuk bertanya, “Kamu masih bangun?” Dalam tawa kecilmu saat aku salah menyebut nama jalan. Dalam cara matamu memandangku seolah aku adalah satu-satunya yang layak dilihat.
Kita pernah begitu sederhana. Begitu utuh.
Ada satu sore yang selalu kembali padaku. Sore ketika kita duduk di sudut kafe yang hampir kosong. Hujan lagi-lagi turun, seperti tak pernah lelah menjadi saksi. Kau mengaduk kopi perlahan, lalu tiba-tiba berkata, “Kalau suatu hari aku pergi, kamu bakal tetap ingat aku?”
Aku tertawa waktu itu. Bodoh sekali. “Orang yang pernah tinggal di hati, nggak punya pintu keluar,” jawabku ringan.
Kau tersenyum. Tapi ada sesuatu di matamu yang tidak ikut tersenyum.
Aku terlalu sibuk mencintaimu, sampai lupa bahwa cinta tidak selalu tinggal.
Semua mulai berubah tanpa suara. Seperti malam yang tiba tanpa permisi. Seperti hujan yang berhenti tanpa perpisahan.
Pesanmu mulai pendek. Lalu jarang. Lalu hilang. Tawamu tidak lagi sama. Matamu tidak lagi mencari aku. Dan aku—aku masih di tempat yang sama, memeluk kenangan yang perlahan membusuk.
Aku bertanya-tanya, kapan tepatnya kita retak?
Apakah saat aku terlalu yakin bahwa kau tidak akan pergi? Atau saat kau mulai menyimpan sesuatu yang tak lagi bisa kubaca?
Aku tidak pernah mendapat jawabannya.
Yang kuterima hanya diam. Dan diam itu lebih kejam dari kata-kata.
Suatu malam, kau datang. Tanpa hujan. Tanpa payung. Tanpa alasan yang jelas. Kita duduk berhadapan seperti dua orang asing yang pernah saling hafal.
“Aku capek,” katamu pelan. Aku menunggu kelanjutannya. Tapi tidak ada.
Capek pada apa? Padaku? Pada kita? Atau pada perasaan yang sudah tidak lagi utuh?
Aku ingin bertanya. Aku ingin marah. Aku ingin memohon. Tapi semua kata terasa salah. Semua emosi terasa terlambat.
“Aku nggak bisa lagi,” lanjutmu.
Kalimat itu sederhana. Tapi rasanya seperti pecahan kaca yang ditelan mentah-mentah. Aku tidak berdarah di luar. Tapi di dalam, semuanya hancur.
Aku tersenyum. Entah bagaimana. Mungkin karena aku tidak tahu harus melakukan apa lagi selain pura-pura kuat.
“Ya sudah,” kataku. Dua kata yang paling tidak jujur yang pernah keluar dari mulutku.
Kau pergi malam itu. Tanpa menoleh. Tanpa ragu. Dan aku tetap duduk di sana, menatap kursi kosong yang masih menyimpan bayanganmu.
Sejak itu, aku belajar bahwa kehilangan tidak selalu datang dengan tangisan. Kadang ia datang dalam bentuk sepi yang tidak bisa dijelaskan.
Hari-hari berlalu seperti luka yang dibiarkan terbuka.
Aku mencoba melupakanmu dengan cara-cara yang konyol. Menghapus pesanmu. Menghindari tempat-tempat yang pernah kita datangi. Bahkan berhenti minum kopi tanpa gula, seolah itu bisa menghapusmu dari ingatanku.
Tapi kenangan tidak bekerja seperti itu. Ia seperti hujan. Selalu menemukan jalan untuk jatuh, bahkan ketika langit tampak cerah.
Aku masih mengingat hal-hal kecil tentangmu. Cara kau menggenggam tanganku saat kita menyeberang jalan. Cara kau menyebut namaku seperti ada rahasia di dalamnya. Cara kau diam saat sebenarnya ingin mengatakan sesuatu.
Dan yang paling menyakitkan— cara kau pergi tanpa benar-benar menjelaskan.
“Yang paling sulit dari kehilangan adalah menerima bahwa tidak semua perasaan mendapatkan penutup yang layak.”
Aku sering mengulang kalimat itu dalam kepalaku. Mencoba menjadikannya obat. Tapi nyatanya, ia hanya memperpanjang sakit.
Aku tidak marah padamu. Atau mungkin aku sudah terlalu lelah untuk marah.
Yang kurasakan hanyalah hampa. Seperti rumah yang ditinggalkan penghuninya. Masih berdiri, tapi tidak lagi hidup.
Ada malam-malam ketika aku hampir mengirim pesan padamu. Mengetik panjang, lalu menghapusnya sebelum terkirim. Bukan karena aku tidak ingin kau tahu, tapi karena aku sadar—kau mungkin tidak lagi peduli.
Dan itu lebih menyakitkan dari apa pun.
“Rindu itu aneh. Ia tahu ke mana harus pulang, tapi tidak tahu apakah masih diinginkan.”
Aku hidup dengan rindu yang seperti itu. Rindu yang tidak punya alamat. Rindu yang hanya berputar di dalam dada, tanpa pernah sampai.
Kadang aku bertanya, apakah kau juga merasakannya? Apakah di suatu malam yang sunyi, kau juga mengingatku? Apakah namaku pernah terlintas, meski hanya sebentar?
Atau aku hanya satu bab kecil yang sudah kau tutup tanpa ingin membacanya lagi?
Aku tidak tahu.
Yang kutahu, aku masih di sini. Masih menyimpanmu dalam bentuk yang paling rapuh. Masih mencintaimu dalam cara yang tidak lagi punya arah.
Waktu tidak benar-benar menyembuhkan. Ia hanya mengajarkan kita cara hidup dengan luka.
Dan aku—aku masih belajar.
Belajar menerima bahwa tidak semua cinta ditakdirkan untuk utuh. Belajar memahami bahwa pergi juga bisa menjadi bentuk kejujuran. Belajar bahwa kadang, yang tersisa dari kita hanyalah kenangan yang tidak bisa diulang.
Suatu hari nanti, mungkin aku akan benar-benar melupakanmu. Atau setidaknya, berhenti merasa sakit saat mengingatmu.
Tapi hari itu belum datang. Dan mungkin tidak akan pernah benar-benar datang.
Karena ada bagian dari diriku yang masih tinggal di masa lalu— di bawah payung hitam itu, di tengah hujan yang jujur, bersama seseorang yang dulu pernah memilih untuk tinggal.
Dan mungkin, di situlah aku akan selalu menjadi utuh.
Sementara di dunia nyata, aku hanya serpihan.
Dan kau adalah luka yang tidak pernah selesai.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
