Ironi Para Calon Ibu: Dari Menyamar Jadi Pria Hingga Merokok
Agama | 2026-03-30 07:07:51Dunia pendidikan di Provinsi Bengkulu sedang berada di titik nadir. Kabar mengenai sejumlah siswi sekolah menengah di Kota Bengkulu yang nekat menyamar menjadi pria, mengenakan celana panjang dan jaket demi bisa membolos dan merokok di tempat umum, bukanlah sekadar "kenakalan remaja" biasa. Ini adalah sebuah anomali perilaku yang mencerminkan kerusakan identitas yang sangat dalam. Ketika seorang calon ibu—yang secara fitrah adalah pendidik pertama bagi generasi mendatang—sudah kehilangan rasa malu, menanggalkan identitas kewanitaannya, dan akrab dengan kemaksiatan, maka kita sedang menyaksikan keruntuhan fondasi peradaban.
Bengkulu kini bukan lagi sekadar menghadapi masalah teknis pendidikan, melainkan darurat degradasi generasi level tinggi. Kasus ini hanyalah puncak gunung es dari rentetan masalah lainnya: bullying yang merajalela, geng motor pelajar yang anarkis, hingga perilaku seks bebas yang kian lumrah di kalangan remaja. Fenomena ini menuntut kita untuk berhenti sejenak dan bertanya: Di mana letak kesalahannya?
Perilaku siswi yang menyamar menjadi laki-laki untuk merokok adalah simbol dari krisis identitas. Dalam Islam, identitas jenis kelamin adalah sesuatu yang bersifat syar’i dan fitrah. Tindakan menyerupai lawan jenis (tasyabbuh) adalah hal yang dilarang keras karena akan merusak tatanan sosial dan mental individu.
Namun, di era hari ini, nilai-nilai tersebut dianggap kuno. Para siswi ini merasa bahwa "keren" adalah ketika mereka bisa mendobrak aturan, meski harus mengorbankan kehormatannya. Merokok, yang dahulu dianggap tabu bagi perempuan Timur, kini menjadi simbol pergaulan bebas yang dianggap lazim. Jika calon ibu hari ini sudah tidak lagi memiliki iffah (menjaga kehormatan) dan haya’ (rasa malu), maka generasi seperti apa yang akan lahir dari rahim mereka sepuluh atau dua puluh tahun ke depan? Ini adalah ancaman nyata bagi keberlangsungan umat.
Kita harus jujur mengakui bahwa dunia pendidikan saat ini sedang tidak baik-baik saja. Sekolah telah berubah menjadi tempat yang mencekam bagi guru dan tempat yang "bebas" bagi siswa yang tidak beradab. Analisis Lusi Wijaya mengenai kondisi di Bengkulu Selatan memberikan gambaran yang mengerikan: sekitar 10 guru dilaporkan ke Aparat Penegak Hukum (APH) karena tuduhan kekerasan terhadap anak saat mencoba mendisiplinkan siswa.
Mengapa pendidikan kita gagal menghasilkan manusia bertaqwa? Akar masalahnya sekulerisme yaitu sebuah paham yang memisahkan agama dari kehidupan publik, termasuk dunia pendidikan.
Kondisi ini sejatinya niscaya ketika sistem pendidikan yang mana kurikulum menjadi jantungnya sudah jauh-jauh hari kehilangan arah. Sistem pendidikan yang diterapkan di negeri ini kadung mengadopsi paham batil sekularisme-liberalisme yang membuat sistem pendidikan yang diterapkan tidak memiliki jangkar yang kuat untuk membentuk profil generasi pembangun peradaban cemerlang. Pragmatisme begitu kental, bahkan dalam hal-hal yang bersifat fundamental, seperti terkait asas dan tujuan pendidikan, serta kurikulum yang nyatanya berganti-ganti sesuai kepentingan “pasar”.
Realitasnya juga, porsi pelajaran agama dan akhlak makin minimal, itu pun dengan muatan yang kental moderasi Islam dan dijalankan di tengah arus deras deradikalisasi yang menyasar ajaran-ajaran Islam. Bahkan, pelajaran sejarah Islam dipandang tidak relevan dengan perkembangan zaman. Semuanya dilepaskan dari perspektif ilmu pengetahuan umum dan diseret ke arah yang terpisah dari kehidupan. Polarisasi ilmu agama dan ilmu dunia pun makin kental. Ilmu agama hanya untuk wilayah pesantren dan madrasah, sedangkan ilmu pengetahuan umum atau ilmu dunia ada di sisi lainnya.
Kita tidak bisa terus-menerus menggunakan "obat yang sama" untuk penyakit yang kian parah. Harus ada perubahan mendasar pada paradigma pendidikan kita. Solusinya bukanlah sekadar ganti menteri atau ganti nama kurikulum, melainkan kembali kepada Sistem Pendidikan Islam.
Pendidikan Islam memiliki tiga pilar utama yang tidak dimiliki sistem sekuler:
1. Asas Aqidah Islam: Seluruh kurikulum, baik sains maupun ilmu sosial, harus dibangun di atas landasan keimanan. Siswa diajarkan bahwa mereka adalah hamba Allah yang akan dimintai pertanggungjawaban atas setiap perbuatannya, termasuk saat mereka berada di tempat tersembunyi untuk merokok atau berbuat maksiat.
2. Tujuan Membentuk Kepribadian Islam (Syakhshiyyah Islamiyyah): Tujuan utama pendidikan bukan mencetak pekerja, melainkan membentuk manusia yang memiliki pola pikir (Aqliyyah) dan pola sikap (Nafsiyyah) yang sesuai dengan Islam. Barulah setelah itu, mereka dibekali dengan ilmu pengetahuan dan teknologi yang mumpuni.
3. Integrasi Sekolah, Keluarga, dan Negara:
o Negara: Wajib menghapus segala tontonan dan konten media yang merusak moral remaja serta melindungi guru dengan undang-undang yang sesuai dengan syariat.
o Keluarga (Ibu): Calon ibu harus dididik agar menyadari peran strategisnya sebagai Ummu wa Rabbatul Bait (Ibu dan pengatur rumah tangga), bukan sekadar didorong untuk menjadi buruh industri.
o Masyarakat: Harus memiliki budaya saling menasihati (Amar Ma'ruf Nahi Munkar), sehingga jika ada siswi merokok di tempat umum, masyarakat tidak acuh tak acuh.
Pendidikan dalam naungan Khilafah Islamiyah bukan sekadar transfer ilmu pengetahuan (transfer of knowledge), melainkan proses pembentukan kepribadian manusia secara utuh. Jika sistem saat ini memisahkan agama dari sains (sekularisme), sistem Islam justru menjadikan akidah sebagai fondasi utama yang menyatukan keduanya. Dalam naungan Khilafah, akidah bukan sekadar mata pelajaran, melainkan landasan kurikulum. Siswa dididik untuk memahami bahwa tujuan hidup adalah beribadah kepada Allah. Setiap ilmu yang dipelajari (baik itu matematika, astronomi, atau kedokteran) adalah sarana untuk memahami kebesaran Sang Pencipta. Dengan akidah yang kokoh, siswa memiliki "rem internal". Mereka tidak merokok atau menyimpang bukan karena takut pada razia Satpol PP, melainkan karena sadar akan pengawasan Allah (Muraqabah). Hasilnya adalah ilmuwan yang juga ulama. Kita mengenal Ibnu Sina yang hafal Al-Qur'an sebelum mendalami kedokteran, atau Al-Khawarizmi yang menemukan aljabar untuk memudahkan pembagian waris (faraid). Dalam masa Khilafah, tidak ada pemisahan antara "ilmu agama" dan "ilmu umum". Tahap dasar adalah fokus pada pengokohan bahasa Arab (sebagai kunci ilmu), hafalan Al-Qur'an, dan dasar-dasar adab. Tahap Lanjutan adalah siswa mempelajari sains, teknologi, dan seni dengan tetap dikaitkan dengan kemaslahatan umat. Adapun pendidikan adab bahwa adab diajarkan sebelum ilmu. Seorang murid sangat memuliakan guru karena guru dipandang sebagai pewaris nabi, bukan sekadar penyedia jasa yang bisa dipolisikan. Kekuatan dunia pendidikan ditopang oleh keberadaan negara yang menjadi periayah hakiki, di mana Khilafah menjamin atmosfer yang mendukung pembentukan karakter melalui:
1. Lingkungan yang Bersih: Negara Khilafah melarang keras konten porno, tayangan yang merusak mental, dan pergaulan bebas di ruang publik. Hal ini membuat apa yang dipelajari di sekolah selaras dengan apa yang dilihat di jalanan.
2. Fasilitas Gratis dan Berkualitas: Pendidikan adalah hak publik yang dijamin negara secara gratis. Guru digaji dengan sangat layak (sangat tinggi), sehingga mereka bisa fokus mendidik jiwa siswa tanpa harus pusing mencari sampingan ekonomi.
3. Integrasi Masjid dan Madrasah: Pendidikan tidak hanya terjadi di ruang kelas, tapi juga di masjid-masjid yang menjadi pusat peradaban dan diskusi intelektual.
4. Metodologi Pembelajaran: Talqiyan Fikriyan: Proses belajar dilakukan secara Talqiyan Fikriyan, yaitu penyampaian pemikiran yang menancap di hati dan menggerakkan amal. Ilmu tidak hanya dihafal untuk ujian (seperti literasi dan numerasi saat ini), tapi dipahami konsekuensinya dalam kehidupan nyata.
Krisis yang terjadi saat ini adalah alarm keras bagi kita semua. Degradasi generasi yang kita lihat—siswi menyamar jadi pria hingga merokok—adalah bukti nyata bahwa sistem sekuler-kapitalisme telah gagal menjaga anak-anak kita.
Kita membutuhkan sistem yang mampu menjaga fitrah manusia, sistem yang meninggikan adab di atas ilmu, dan sistem yang menempatkan ketaatan kepada Allah sebagai tujuan tertinggi. Hanya dengan kembali kepada aturan Islam secara kaffah, kita dapat menyelamatkan generasi ini dari kehancuran dan melahirkan kembali para pahlawan peradaban dari negeri ini.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
