Keranjang Belanja Halal, Dompet Digital Konvensional: Menguak Paradoks Literasi Syariah Gen Z
Ekonomi Syariah | 2026-03-30 02:32:39
Meningkatnya Tren Gaya Hidup Halal di Kalangan Gen Z
Tren gaya hidup halal (halal lifestyle) kian hari semakin menunjukkan peningkatan yang signifikan, tak terkecuali di kalangan Gen Z. Meningkatnya perbaikan ekosistem industri halal Indonesia diiringi dengan peningkatan pengetahuan dan kesadaran umat muslim dari generasi ini untuk beralih ke produk-produk halal. Stigma bahwa “halal hanya untuk makanan dan minuman yang dikonsumsi langsung masuk ke tubuh” sejak lama terpatahkan akibat derasnya arus informasi terkait urgensi produk-produk halal yang lebih dari sekadar makanan dan minuman. Kemudahan dan kecepatan akses informasi di kalangan Gen Z sebagai digital native menjadi salah satu faktor pendorong hal ini. Tren penggunaan skincare halal, sabun atau sampo halal, fashion halal, bahkan hingga ke wisata halal sudah cukup masif dan familiar di kalangan generasi yang hidup berdampingan dengan masifnya teknologi ini.
Tak jarang kepedulian akan konsumsi produk halal ini kita temukan dalam bentuk tren atau perbincangan hangat di media sosial. Sebagai contoh terdapat beberapa kasus ketika Gen Z rela mengantre panjang untuk mencicipi masakan di restoran yang baru tersertifikasi Halal MUI. Contoh lainnya, tak jarang pula Gen Z yang kerap kali mengecek logo halal atau langsung menanyakan sertifikasi halal restoran viral dan menyampaikan informasi kehalalan restoran tersebut di media sosial miliknya sebagai bentuk edukasi dan sharing information antarsesama dalam konsumsi produk halal. Suara-suara yang dibagikan di media sosial ini, kerap pula menjadi bentuk speak up yang mendorong brand untuk memenuhi permintaan pasar agar segera melakukan sertifikasi halal sebagai upaya membangun kepercayaan (trust) bagi para konsumennya. Kasus ini pun tidak hanya terjadi untuk produk makanan minuman, namun merambat ke sektor-sektor lain seperti skincare hingga sabun, sampo, bahkan detergen yang digunakan oleh semua orang dalam kehidupan sehari-hari.
Namun ironisnya, kepedulian di sektor riil ini kerap kali menguap dan berakhir di tahap yang sama dalam siklus konsumsi halal, yakni pada saat melakukan transaksi pembayaran. Ketika mereka membeli makanan, skincare, atau bahkan produk fashion halal, instrumen pembayaran yang mereka lakukan justru jauh dari kata syariah. Sebagian besar dari mereka menggunakan instrumen pembayaran konvensional dalam bentuk e-wallet, hingga layanan perbankan, bahkan layanan keuangan lain seperti paylater. Hal ini berdampak pada ekosistem industri halal yang berakhir di tahap sebelum transaksi serta tidak membentuk siklus yang berputar.
Menguak Mitos Literasi Sebagai Akar Masalah
Selama ini, pemerintah dan akademisi selalu menyalahkan “kurangnya literasi” sebagai penyebab berakhirnya siklus ini, namun realitasnya bukan literasilah yang menjadi akar masalah. Literasi kerap kali menjadi kambing hitam rendahnya inklusivitas keuangan syariah dibandingkan dengan kompetitornya, dan artikel ini akan membantah hal tersebut.
Data dari OJK SNLIK 2024 menunjukkan bahwa Indeks Literasi Keuangan Syariah masyarakat Indonesia sudah mencapai angka 39,11%. Artinya, hampir 40% masyarakat Indonesia sudah mengerti konsep dan prinsip garis besar yang digunakan oleh bank dan lembaga keuangan syariah. Sayangnya, angka Inklusi Keuangan Syariah hanya berhenti di 12,88%. Data ini membuktikan bahwa ada jarak yang cukup besar hampir mencapai 26%. Hal ini menunjukkan bahwa ada jutaan masyarakat Indonesia yang sudah tahu dan paham konsep dan urgensi menggunakan bank serta layanan keuangan syariah, tetapi memutuskan untuk tidak memakai bank atau layanan keuangan syariah.
Kemana Larinya Uang Gen Z?
Generasi Z hidup di era ketika modernisasi dan teknologi digital berkembang sangat masif. Di era digitalisasi di mana akses informasi dan batasan fisik tidak lagi menjadi limitasi, generasi ini tumbuh berdampingan dengan teknologi. Hidup dengan teknologi membuat Gen Z terbiasa menuntut kecepatan dan kepraktisan dalam berbagai aspek kehidupan (seamless experience) termasuk dalam melakukan transaksi harian. Perkembangan teknologi mendorong transformasi penggunaan uang fisik dalam transaksi tunai secara langsung menjadi transaksi nontunai melalui platform layanan dompet digital (e-wallet) dan perbankan online (mobile banking) di toko ritel hingga ke layanan e-commerce.
Berdasarkan data dari IDN Research, lebih dari 70% transaksi harian Gen Z (beli kopi, jajan, transportasi) saat ini dikuasai oleh e-wallet konvensional (seperti GoPay, OVO, ShopeePay, DANA) dan layanan paylater. Sementara penggunaan mobile banking syariah untuk transaksi harian diperkirakan tidak sampai 15%. Salah satu alasan utama kondisi ini adalah karena integrasi antar-e-wallet dan aplikasi transaksi yang digunakan oleh Gen Z dalam kehidupan sehari-hari seperti e-commerce dan aplikasi ojek online. Generasi Z yang senang akan kecepatan dan kepraktisan, terfasilitasi dengan aplikasi e-wallet yang sudah ‘tertanam’ di aplikasi sehari-hari mereka dibandingkan dengan menggunakan bank syariah yang menuntut mereka untuk membuka aplikasi terpisah dan menyalin nomor Virtual Account. Belum lagi ketika transaksi antarbank yang mereka lakukan sering kali dikenakan biaya administrasi tambahan.
Akar Masalah: Alasan Gen Z Enggan Beralih ke Bank Syariah
Generasi Z sebagai konsumen merupakan generasi yang sangat rasional secara ekonomi dan melek akan informasi dan teknologi. Ketaatan beragama, iming-iming pahala, serta peringatan dosa tidak serta-merta menakut-nakuti mereka dan membuat mereka menoleransi pelayanan yang buruk, lambat, mahal, dan tidak efisien.
Alasan pertama keengganan generasi ini adalah faktor “bakar uang” yang lebih agresif dilakukan oleh ekosistem konvensional. Pemasaran melalui diskon, cashback, dan gratis ongkir sangat diminati oleh generasi rasional ini. Berdasarkan data dari Jurnal Sahmiyya (2022), motivasi utama konsumen muda dalam menggunakan e-wallet didominasi oleh perburuan program promosi, dengan persentase daya tarik mencapai 66% hingga 75% di berbagai platform utama (seperti ShopeePay dan GoPay). Berbanding terbalik dengan kompetitornya, bank syariah sangat jarang memberikan insentif masif di merchant makanan, gaya hidup, maupun e-commerce. Alasan ini jelas membuat mereka memilih opsi yang ‘lebih menguntungkan’ dan ‘lebih hemat’ yang sering kali tak mampu difasilitasi oleh bank syariah.
Alasan kedua bersumber dari kemampuan adopsi sistem dan penggunaan teknologi. Sekitar 25-30% Gen Z sangat mengeluhkan aplikasi bank syariah yang sering error, melakukan maintenance di jam-jam sibuk, atau memiliki proses loading yang lambat. Masalah ini dibuktikan dalam riset pada Ranah Research Journal (2025) yang mengungkap fakta bahwa sentimen negatif pengguna aplikasi BYOND by BSI sebagai salah satu layanan bank syariah terbesar di Indonesia sangat dominan diarahkan pada performa teknis aplikasi, yakni lambat dan sering error. Kita juga bisa melakukan kilas balik pada kasus lumpuhnya layanan BSI Mobile sebagai pendahulunya pada 2023 yang diikuti dengan beberapa kali kasus down susulan beberapa waktu setelahnya. Peristiwa ini meninggalkan trauma dan sedikit banyak mengurangi kepercayaan Gen Z terhadap bank syariah. Banyak pengguna yang pada akhirnya memilih untuk tidak menyimpan semua dananya di bank syariah akibat hal ini. Hal ini menunjukkan perlu adanya perbaikan dan peningkatan kesiapan sistem bank syariah untuk setidaknya bisa menjamin aplikasinya dapat dijalankan secara cepat, tanpa gangguan error berarti untuk membangun kembali kepercayaan pengguna khususnya dari kalangan Gen Z.
Berbeda dengan bank syariah, bank konvensional sebagai kompetitor dengan ekosistem raksasa di dalamnya berhasil mengembangkan aplikasi ramah Gen Z yang menyukai hal-hal simpel, praktis, cepat, dan efisien. Mereka mampu menghadirkan sistem yang cepat, fitur yang memudahkan (seperti autentikasi sidik jari), hingga pilihan menu yang menjangkau semua transaksi dalam satu super apps. Sebagian besar bank konvensional terkemuka seperti BCA atau Mandiri meletakkan value proposition aplikasinya sebagai super apps all in one yang memungkinkan Gen Z melakukan transaksi sehari-hari ke berbagai sektor dalam satu klik mulai dari pembayaran tagihan internet atau listrik, pembelian tiket konser atau wisata, hingga ke langganan aplikasi musik atau hiburan berbayar. Lagi-lagi kecepatan, kemudahan, dan efisiensi berakhir menjadi opsi yang dipilih oleh generasi serba cepat dan praktis di era teknologi saat ini.
Ketiga yakni biaya admin. Sebagai generasi yang logis dan rasional yang tumbuh ketika roda perekonomian semakin sulit untuk digerakkan, Gen Z cenderung memilih semua yang lebih hemat dan murah. Biaya admin 6.500 atau bahkan 2.500 menjadi hal yang sangat dibenci oleh generasi ini. Tak jarang, Gen Z rela beralih ke beberapa aplikasi atau menempuh langkah yang lebih rumit demi tidak mengeluarkan satu rupiah pun biaya admin transaksi. Sifat dan karakteristik ini lagi-lagi mampu difasilitasi oleh ekosistem konvensional yang sudah lebih besar dan terintegrasi. Mereka menyediakan fitur transaksi bebas admin untuk berbagai kebutuhan dari transfer, pembelian online hingga ke pembayaran tagihan rutin.
Bagi Gen Z yang tumbuh di era serba cepat dan ekonomi yang tidak stabil, ketakutan terhadap dosa riba dan iming-iming pahala lebih sering kalah oleh rasa frustrasi menghadapi aplikasi bank syariah yang loading, biaya admin yang mahal, serta harga normal tanpa promo.
Tiga alasan di atas merupakan sebagian kecil bukti bahwa literasi bukan faktor penyebab rendahnya penggunaan layanan keuangan syariah khususnya untuk Generasi Z. Menyalahkan literasi terus-menerus merupakan bentuk kesalahan logika berpikir (logical fallacy) yang tidak akan menyelesaikan masalah ini. Karenanya untuk mengatasi hal ini, bank syariah harus berangkat dari karakteristik Generasi Z yang berperan besar di ekosistem industri halal kemudian mempertimbangkan solusi yang mampu menjawab kebutuhan serta kekhawatiran mereka. Bank syariah harus menjadikan stabilitas server dan UI/UX aplikasinya sebagai prioritas utama perbaikan. Upaya-upaya pendukung untuk mengembalikan trust konsumen juga harus terus dilakukan untuk menarik Generasi Z yang sudah melek syariah mau masuk ke ekosistem dan menggunakan layanan keuangan syariah dalam kehidupan sehari-harinya.
Bank syariah juga harus berani mengembangkan sayap ekspansinya ke aplikasi gaya hidup, melakukan kerja sama dan kolaborasi, yang pada akhirnya akan menciptakan integrasi yang disukai oleh Gen Z. Bank syariah dapat melakukan kerja sama dengan merchant atau unit usaha halal, mendorong usaha mereka menggunakan layanannya serta menarik konsumen mereka dengan diskon atau promo khusus jika melakukan pembelian menggunakan layanan bank syariah tersebut. Layanan serta promosi harus terus digencarkan tidak terbatas pada sektor vital seperti transaksi keuangan, pembelian makanan minuman, namun dikembangkan lagi ke sektor-sektor pendukung yang ‘Gen Z banget’ seperti transaksi pembayaran tagihan, pembelian tiket wisata, dan transaksi lainnya.
Literasi mungkin memang bisa membuka kesadaran dan meningkatkan pengetahuan, namun pada akhirnya, hanya solusi yang menjawab kebutuhan dan karakter konsumen yang pada akhirnya akan mendorong mereka masuk dan terlibat di ekosistem syariah tersebut. Wallahu a’lam bish-shawab.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
