Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Hayatun Nufus

Indonesia Emas 2045, Tapi Pendidikan Masih Tertatih

Pendidikan dan Literasi | 2026-05-17 11:53:22
Ilustrasi

Indonesia memiliki mimpi besar menyambut usia satu abad kemerdekaannya pada tahun 2045. Melalui visi “Indonesia Emas 2045”, negara ini bercita-cita menjadi bangsa maju dengan ekonomi kuat, teknologi berkembang, dan sumber daya manusia yang mampu bersaing di tingkat global.

Namun di balik optimisme tersebut, ada satu persoalan besar yang masih menjadi pekerjaan rumah bangsa ini, yaitu pendidikan.

Hingga hari ini, kualitas pendidikan Indonesia masih menghadapi berbagai tantangan serius. Ketimpangan akses pendidikan, rendahnya kualitas pembelajaran, hingga tingginya angka putus sekolah masih menjadi realitas yang sulit diabaikan.

Berdasarkan hasil Programme for International Student Assessment (PISA) 2022, kemampuan literasi, matematika, dan sains pelajar Indonesia masih berada di bawah rata-rata negara Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD). Kondisi ini menunjukkan bahwa kualitas pembelajaran di Indonesia masih tertinggal dibanding banyak negara lain.

Di sisi lain, data Badan Pusat Statistik (BPS) dalam beberapa tahun terakhir juga menunjukkan bahwa rata-rata lama sekolah masyarakat Indonesia masih berada di kisaran sembilan tahun atau setara jenjang SMP. Padahal, untuk mencapai target Indonesia Emas 2045, peningkatan kualitas dan tingkat pendidikan menjadi faktor yang sangat menentukan.

Masalah pendidikan di Indonesia juga tidak hanya berbicara tentang nilai akademik. Persoalan ekonomi masih menjadi penghalang utama bagi banyak anak untuk memperoleh pendidikan yang layak. Di beberapa daerah, masih banyak pelajar yang harus putus sekolah karena keterbatasan biaya, minimnya fasilitas pendidikan, hingga akses internet yang belum merata.

Ironisnya, ketika negara-negara lain mulai berfokus pada pengembangan kecerdasan buatan, riset, dan inovasi digital, sebagian sekolah di Indonesia justru masih berjuang menghadapi persoalan dasar seperti kekurangan tenaga pengajar dan sarana belajar yang tidak memadai.

Kondisi tersebut tentu menjadi tantangan besar bagi masa depan Indonesia. Sebab, bonus demografi yang selama ini dibanggakan justru dapat berubah menjadi beban apabila tidak diiringi dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia.

Tokoh pendidikan Indonesia, Ki Hajar Dewantara, pernah menegaskan bahwa pendidikan merupakan tuntunan bagi tumbuhnya anak-anak agar mereka mampu mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya sebagai manusia maupun anggota masyarakat. Sayangnya, cita-cita pendidikan itu hingga kini masih belum sepenuhnya dirasakan secara merata oleh seluruh masyarakat Indonesia.

Sebagai generasi muda, kita sering mendengar slogan Indonesia Emas 2045 dalam berbagai pidato dan kampanye pembangunan. Akan tetapi, di sisi lain, banyak mahasiswa dan pelajar justru menghadapi tekanan biaya pendidikan yang semakin tinggi, persaingan kerja yang ketat, serta ketidakpastian masa depan.

Pendidikan seharusnya tidak hanya menjadi formalitas untuk mengejar ijazah. Lebih dari itu, pendidikan harus mampu membentuk pola pikir kritis, kreativitas, dan kemampuan beradaptasi menghadapi perubahan zaman.

Pemerintah memang telah melakukan berbagai upaya perbaikan, mulai dari digitalisasi pendidikan, bantuan pendidikan, hingga pembaruan kurikulum. Namun, pembenahan pendidikan tidak cukup dilakukan hanya melalui perubahan kebijakan administratif. Pemerataan kualitas pendidikan dan kesejahteraan tenaga pendidik juga harus menjadi prioritas utama.

Indonesia Emas 2045 bukan sekadar tentang pembangunan infrastruktur atau pertumbuhan ekonomi semata. Masa depan bangsa sangat ditentukan oleh kualitas manusia yang dibentuk melalui pendidikan hari ini.

Jika persoalan pendidikan masih terus berjalan tertatih, maka cita-cita besar Indonesia Emas 2045 akan sulit tercapai secara maksimal. Sebab pada akhirnya, kemajuan sebuah bangsa tidak hanya diukur dari seberapa tinggi gedung yang dibangun, tetapi juga dari seberapa baik kualitas pendidikan masyarakatnya.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image