Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Atikah Fadhilah

FOMO Makanan Viral, Tapi Halal Nomor Dua? Potret Gen Z Hari Ini

Agama | 2026-03-29 11:30:57
Kedai makanan viral

Di era digital, makanan tidak lagi sekadar kebutuhan, tetapi telah menjadi bagian dari gaya hidup. Kehadiran media sosial seperti TikTok dan Instagram membuat tren kuliner menyebar dengan sangat cepat. Dalam hitungan hari, sebuah makanan bisa berubah dari yang tidak dikenal menjadi viral dan diburu banyak orang, terutama oleh Generasi Z.


Fenomena ini tidak lepas dari fear of missing out (FOMO), yaitu perasaan takut tertinggal tren yang sedang ramai diperbincangkan. Bagi banyak mahasiswa, mencoba makanan viral bukan hanya soal rasa, tetapi juga soal pengalaman dan eksistensi sosial. Mengunggah foto atau video makanan yang sedang tren seolah menjadi bagian dari “keharusan” untuk tetap relevan di lingkungan pergaulan. Namun, di tengah euforia tersebut, muncul satu pertanyaan penting: apakah aspek halal masih menjadi prioritas?

Berdasarkan pengamatan di lingkungan mahasiswa, tren mencoba makanan viral sering kali terjadi tanpa pertimbangan yang matang terkait status kehalalan produk. Ketika sebuah makanan viral muncul terutama yang berasal dari luar negeri seperti jajanan Korea atau dessert impor banyak mahasiswa langsung tertarik untuk mencoba, meskipun belum mengetahui secara pasti apakah produk tersebut telah bersertifikasi halal.

Dalam beberapa kasus, pertanyaan tentang halal justru muncul setelah makanan tersebut dikonsumsi, bukan sebelumnya. Hal ini menunjukkan bahwa dorongan untuk mengikuti tren sering kali lebih kuat dibandingkan kesadaran untuk memastikan kehalalan.

Fenomena ini sejalan dengan penelitian yang menunjukkan bahwa kesadaran halal memang berpengaruh terhadap perilaku konsumsi, tetapi bukan menjadi satu-satunya faktor penentu. Keputusan pembelian juga dipengaruhi oleh faktor lain seperti preferensi pribadi, kemudahan akses, serta lingkungan sosial. Dalam konteks Generasi Z, faktor lingkungan dan tren digital memiliki pengaruh yang sangat besar.

Media sosial berperan sebagai katalis utama dalam membentuk pola konsumsi ini. Rekomendasi dari influencer, ulasan singkat dalam bentuk video, serta visual makanan yang menarik mampu menciptakan dorongan instan untuk mencoba. Dalam situasi seperti ini, proses pertimbangan menjadi sangat singkat, bahkan cenderung impulsif.

Lebih jauh lagi, Generasi Z dikenal sebagai generasi yang tumbuh dalam lingkungan serba cepat dan praktis. Mereka terbiasa dengan kemudahan akses informasi, layanan instan, serta pilihan yang beragam. Hal ini membuat mereka cenderung memilih sesuatu yang mudah dijangkau dan sedang populer, meskipun belum tentu sesuai dengan prinsip yang mereka pahami, termasuk dalam hal kehalalan.

Namun demikian, fenomena ini tidak serta-merta menunjukkan bahwa Generasi Z mengabaikan nilai halal. Sebaliknya, banyak di antara mereka yang sebenarnya memiliki kesadaran akan pentingnya halal sebagai bagian dari identitas. Hanya saja, dalam praktiknya, mereka sering dihadapkan pada dilema antara prinsip dan kenyamanan.

Di satu sisi, mereka ingin menjaga nilai yang diyakini. Di sisi lain, mereka hidup dalam lingkungan sosial yang mendorong untuk selalu mengikuti tren. Dalam kondisi ini, keputusan konsumsi sering kali menjadi hasil kompromi antara idealisme dan realitas.

Hal ini menunjukkan bahwa persoalan halal di kalangan Generasi Z tidak hanya berkaitan dengan pengetahuan, tetapi juga dengan konteks sosial yang lebih luas. Selama tren dan tekanan sosial memiliki pengaruh yang kuat, maka kesadaran halal saja belum cukup untuk membentuk perilaku yang konsisten.

Oleh karena itu, pendekatan dalam meningkatkan kesadaran halal perlu disesuaikan dengan karakter Generasi Z. Edukasi tetap penting, tetapi perlu dikemas dengan cara yang lebih relevan dan menarik. Misalnya, dengan memanfaatkan media sosial untuk mempromosikan gaya hidup halal yang tidak kalah “trendy” dibandingkan makanan viral lainnya.

Dengan demikian, halal tidak lagi dipandang sebagai batasan, tetapi sebagai bagian dari gaya hidup yang tetap bisa mengikuti perkembangan zaman. Jika tidak, maka bukan tidak mungkin halal hanya akan menjadi pengetahuan, sementara keputusan konsumsi tetap ditentukan oleh apa yang sedang viral.

Pada akhirnya, fenomena FOMO makanan viral menjadi cerminan bagaimana Generasi Z membangun pola konsumsi di era digital. Tantangannya bukan hanya pada meningkatkan kesadaran, tetapi juga pada bagaimana menjadikan halal sebagai pilihan yang tetap relevan di tengah arus tren yang begitu cepat.

Referensi

Febriandika, N. R. (2023). Purchase intention of halal food among Gen Z Muslims in Indonesia. ResearchGate.


Hidayat, S., & Putri, R. A. (2020). Pengaruh kesadaran halal terhadap keputusan pembelian produk makanan. Jurnal Ilmu Ekonomi, 8(2), 123–135.


Rahmawati, D., & Anwar, M. (2019). Faktor-faktor yang mempengaruhi keputusan pembelian produk halal. Iqtishad: Jurnal Ekonomi Islam, 11(1), 45–60.


Sari, M. P., & Nugraha, A. (2024). Gaya hidup halal dan perilaku konsumsi Generasi Z di era digital. Jurnal Likuid, 3(1), 1–12

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image