Doomscrolling Ekonomi: Saat Layar HP Menjadi Cermin Kecemasan Finansial Generasi Muda
Kebijakan | 2026-05-25 11:42:47Hari ini jika kita membuka media sosial, maka algoritma akan dengan cepat menyuguhkan kontradiksi yang cukup brutal. Di satu sisi, ada video di mana orang-orang memamerkan gaya hidup mewah (flexing). Namun di sisi lain, ada begitu banyak rentetan berita buruk baik tentang PHK massal, syarat lowongan kerja yang semakin tidak masuk akal, wacana kenaikan PPN, hingga keluhan kelas menengah yang terpaksa "makan tabungan" demi bertahan hidup.
Fenomena ini melahirkan kebiasaan baru di kalangan anak muda: doomscrolling ekonomi. Ini adalah kondisi di mana seseorang secara obsesif terus menggulir (scrolling) layar HP untuk membaca berita-berita buruk tentang kondisi finansial dan ekonomi.
Para psikolog mungkin akan menyarankan kita untuk "detoks digital" atau mematikan HP agar tenang. Namun, dari kacamata ekonomi pembangunan, doomscrolling ekonomi bukanlah sekadar masalah kecanduan gawai. Ini adalah manifestasi dari kecemasan finansial (financial anxiety) kolektif akut yang diakibatkan oleh struktur ekonomi yang kian tidak ramah pada generasi muda.
Dalam teori ekonomi arus utama, manusia diasumsikan sebagai makhluk yang rasional (Homo Economicus) yang selalu mengambil keputusan berdasarkan kalkulasi keuntungan jangka panjang. Namun, bagaimana manusia dapat rasional jika masa depan ekonomi yang disuguhkan kepada mereka saja tampak begitu suram?
Gen Z dan Milenial hari ini hidup di tengah realitas ekonomi yang terasa janggal. Di mana biaya hidup terus bergerak naik, tetapi pendapatan banyak orang justru berjalan lebih lambat.
Mari kita lihat data dari pasar properti. Kenaikan harga rumah di kota-kota besar Indonesia rata-rata mencapai 10-15 persen per tahun, sementara kenaikan gaji rata-rata karyawan jarang sekali menyentuh angka dua digit. Artinya, dalam kalkulasi ekonomi pembangunan yang paling sederhana sekalipun, impian untuk memiliki aset atau rumah bagi generasi muda hari ini sudah bergeser dari "sulit" menjadi "hampir mustahil".
Doomscrolling ekonomi akhirnya menjadi semacam coping mechanism, sebuah cara untuk bertahan hidup secara psikologis. Ketika anak muda terus-menerus membaca berita buruk tentang ekonomi, mereka sebenarnya sedang mencari penjelasan dan validasi atas tekanan dan ketidakpastian finansial yang mereka alami. Mereka ingin memastikan bahwa ketidakmampuan mereka membeli rumah atau menabung bukanlah karena mereka kurang kerja keras ataupun terlalu banyak jajan kopi susu, melainkan karena sistem ekonominya yang memang sedang tidak baik-baik saja.
Kecemasan finansial yang terus menerus dipelihara lewat doomscrolling ini memiliki efek domino yang cukup berbahaya bagi makroekonomi kita, yaitu lahirnya tren doom spending.
Doom spending adalah perilaku di mana seseorang menghabiskan uang mereka untuk kesenangan jangka pendek (seperti membeli kopi mahal, barang hobi, atau tiket konser) karena mereka sadar uang tersebut tidak akan pernah cukup untuk ditabung demi tujuan jangka panjang (seperti membeli rumah atau dana pensiun).
Bagi pengamat ekonomi konvensional, perilaku ini mungkin terlihat tidak pruden dan berpotensi mengganggu perencanaan keuangan. Namun di baliknya terdapat dimensi psikologis yang jarang sekali dibahas, bagaimana seseorang diminta untuk terus merencanakan masa depan ketika setiap hari layar digital dipenuhi narasi tentang krisis, PHK, kenaikan harga, dan ketidakpastian. Saat kepemilikan aset besar terasa semakin sulit dijangkau, sebagian generasi muda akhirnya mengalihkan harapan jangka panjang menjadi kebahagiaan-kebahagiaan kecil yang bisa dirasakan lebih cepat.
Jika hal ini terus dibiarkan, maka kecemasan finansial kolektif ini akan menjadi bom waktu bagi roda perekonomian. dampaknya tidak berhenti pada perilaku konsumsi semata. Minat berinvestasi, produktivitas, keberanian mengambil risiko usaha, hingga dorongan untuk berinovasi dapat ikut terpengaruh.
Pemerintah tidak cukup hanya menenangkan pasar melalui rilis angka pertumbuhan ekonomi makro yang stabil di kisaran lima persen. Angka statistik memang penting sebagai indikator kinerja ekonomi, tetapi belum tentu mampu meredakan kecemasan generasi muda yang setiap hari dihadapkan dengan ketidakpastian pekerjaan, kontrak kerja jangka pendek, meningkatnya biaya hidup, hingga tekanan pendapatan yang seringkali tidak sebanding dengan kebutuhan.
Maka dari itu, sudah saatnya kebijakan ekonomi perlu diarahkan untuk meredam financial anxiety dan mampu memberikan rasa aman ekonomi bagi generasi produktif, mulai dari penyediaan akses hunian yang lebih terjangkau, perluasan lapangan kerja yang berkualitas, perlindungan upah yang layak, hingga penguatan kesempatan ekonomi bagi kelompok usia muda.
Sebelum generasi muda diminta mengurangi doomscrolling atau membatasi paparan informasi negatif di media sosial, realitas ekonomi yang mereka hadapi juga perlu mendapat perhatian yang sama. Karena sejatinya, kecemasan finansial ini tidak akan sembuh hanya dengan detoks digital, melainkan perlu adanya kebijakan ekonomi yang humanis dan berkeadilan.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
