Mengapa Bank Syari'ah Kurang Diminati di Indonesia?
Ekonomi Syariah | 2026-03-25 06:31:44
Indonesia dikenal sebagai negara dengan jumlah penduduk Muslim terbesar di dunia. Sekitar 87% masyarakat Indonesia beragama Islam. Dengan jumlah sebesar itu, seharusnya bank syariah menjadi pilihan utama dalam aktivitas keuangan masyarakat. Namun kenyataannya, sebagian besar masyarakat justru masih menggunakan bank konvensional. Hal ini menimbulkan pertanyaan: mengapa bank syariah kurang diminati, bahkan oleh mayoritas Muslim sendiri?
Salah satu penyebab utamanya adalah kurangnya pemahaman masyarakat tentang bank syariah. Banyak orang masih belum benar-benar mengerti apa perbedaan antara bank syariah dan bank konvensional. Sebagian bahkan menganggap bahwa bank syariah hanya mengganti istilah “bunga” menjadi “bagi hasil”, tanpa ada perbedaan yang signifikan. Padahal, dalam sistem syariah terdapat akad-akad khusus seperti mudharabah, murabahah, dan musyarakah yang memiliki prinsip berbeda dari sistem bunga.
Selain itu, bank konvensional sudah lebih dulu berkembang dan lebih dikenal luas. Hampir di setiap daerah terdapat kantor cabang, ATM, dan layanan digital dari bank konvensional. Hal ini membuat masyarakat merasa lebih mudah dan nyaman menggunakan bank konvensional karena aksesnya lebih luas dan praktis. Sementara itu, bank syariah baru berkembang lebih pesat dalam beberapa tahun terakhir.
Faktor lain yang tidak kalah penting adalah kebiasaan masyarakat. Banyak orang sudah menggunakan bank konvensional sejak lama, bahkan sejak pertama kali memiliki rekening. Ditambah lagi, banyak perusahaan atau instansi yang menggunakan bank konvensional untuk pembayaran gaji karyawan. Akibatnya, masyarakat cenderung tetap menggunakan bank tersebut tanpa mempertimbangkan alternatif lain seperti bank syariah.
Kemudian, dari segi layanan, bank syariah sempat tertinggal dalam inovasi dibandingkan bank konvensional. Misalnya dalam hal mobile banking, kartu kredit, atau layanan digital lainnya. Meskipun sekarang bank syariah sudah mulai berkembang dan berinovasi, citra bahwa bank konvensional lebih unggul masih melekat di sebagian masyarakat.
Selain itu, ada juga faktor persepsi dan kepercayaan masyarakat. Beberapa orang masih meragukan apakah bank syariah benar-benar berbeda dengan bank konvensional. Mereka melihat bahwa sistem cicilan atau pembayaran di bank syariah terkadang terlihat mirip dengan bank konvensional. Hal ini membuat sebagian masyarakat merasa tidak ada urgensi untuk beralih ke bank syariah.
Dari berbagai faktor tersebut, dapat disimpulkan bahwa rendahnya penggunaan bank syariah di Indonesia bukan hanya kesalahan satu pihak. Ini merupakan kombinasi dari kurangnya literasi masyarakat, dominasi bank konvensional, kebiasaan yang sudah terbentuk, serta tantangan dari sisi inovasi dan kepercayaan.
Oleh karena itu, diperlukan upaya bersama untuk meningkatkan minat masyarakat terhadap bank syariah. Bank syariah perlu terus berinovasi dan meningkatkan kualitas layanan agar mampu bersaing. Di sisi lain, edukasi mengenai ekonomi syariah juga harus diperkuat agar masyarakat lebih memahami pentingnya menggunakan sistem keuangan yang sesuai dengan prinsip Islam.
Jika kesadaran dan pemahaman masyarakat meningkat, bukan tidak mungkin bank syariah akan menjadi pilihan utama di masa depan, terutama di negara dengan mayoritas penduduk Muslim seperti Indonesia.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
