Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Tonny Rivani

Kampoengku Berlebaran: Kisah Riang di Balik Tradisi

Wisata | 2026-03-25 03:37:27
Gambar Ilustrasi Mudik Unik.

Opini - Libur Lebaran tahun ini menjelma menjadi jeda yang begitu hangat bagi saya dan keluarga. Setelah tahun sebelumnya kami merayakan Idulfitri di Subang, kali ini langkah kami kembali pulang ke kampung halaman ibu di Bandung—sebuah tempat yang tak sekadar titik di peta, melainkan ruang kenangan yang diam-diam selalu memanggil.

Perjalanan ini bukan hanya soal pulang, melainkan tentang kembali merajut serpihan masa kecil yang pernah tercecer.

Sebelum berangkat, saya, istri, dan anak menyiapkan bingkisan Lebaran dengan penuh suka cita. Kue-kue kami susun rapi, hadiah-hadiah kecil kami pilih dengan hati. Di antara semuanya, terselip bingkisan khusus untuk tiga sahabat lama—Asep, Didi, dan Nina—nama-nama yang tak pernah benar-benar pergi dari ingatan.

Dulu, kami adalah anak-anak yang tumbuh bersama di lorong waktu yang sama. Berangkat sekolah beriringan, bermain hingga senja jatuh, lalu mengaji dalam cahaya lampu temaram. Saat Ramadan tiba, kami menjelajah kebun kakek, memetik buah seadanya untuk berbuka—sederhana, namun terasa begitu berlimpah.

Malam takbiran pun punya caranya sendiri untuk dikenang. Kami berjalan dari rumah ke rumah, membawa rantang berisi makanan, berbagi dengan tetangga. Tradisi kecil itu menenun keakraban yang kini terasa begitu mahal.

Kembali ke Bandung di Lebaran tahun ini seperti membuka kembali lembaran lama yang tak pernah benar-benar usang. Kami berjalan menyusuri sudut kota, membiarkan kenangan menuntun arah. Rumah ibu tetap sama—hangat, akrab, dan penuh cerita.

Hari-hari menjelang Lebaran dipenuhi kesibukan yang menyenangkan. Ibu memasak hidangan khas—ketupat, opor ayam, hingga rendang—aroma rempahnya memenuhi ruang dan hati. Saya membantu menata ruang tamu, menyusun kue-kue, seolah menyiapkan panggung kecil bagi pertemuan-pertemuan yang dinanti.

Pagi Idulfitri tiba dengan khidmat. Kami melangkah bersama menuju masjid, bergabung dengan warga sekitar dalam salat Id. Seusai itu, kami saling bersalaman, saling memaafkan—sebuah ritual yang selalu berhasil melembutkan hati. Ada haru yang tak perlu diucapkan, cukup dirasakan.

Satu hari setelah Lebaran, kami memutuskan melanjutkan kebahagiaan dengan berwisata ke Tangkuban Perahu. Gunung yang sarat legenda Sangkuriang itu menyambut kami dengan udara dingin dan kabut yang perlahan turun, seolah menyelimuti kenangan baru yang sedang kami rajut.

Dari tepi kawah, terutama Kawah Ratu, terbentang lanskap vulkanik yang megah—liar namun memikat. Aroma belerang menguar tajam, mengingatkan bahwa alam selalu punya cara untuk menunjukkan kekuatannya. Di tengah hawa dingin, kami berjalan perlahan, sesekali tertawa, sesekali terdiam, menikmati kebersamaan yang terasa utuh.

Anak-anak tampak takjub, sementara kami, orang dewasa, diam-diam larut dalam rasa syukur.

Sore harinya, kami kembali ke Bandung. Tubuh lelah, tetapi hati terasa penuh. Malam itu kami beristirahat, menyimpan cerita hari ini sebagai kenangan baru. Esok, kami berencana menjelajahi wajah lain kota—keramaian, hiruk-pikuk, dan mungkin, cerita lain yang menunggu untuk dikenang.

Di kampoengku, Lebaran bukan sekadar perayaan. Ia adalah perjumpaan—antara masa lalu dan masa kini, antara kenangan dan harapan, antara kami yang dulu dan kami yang sekarang.

Dan di sanalah, kebahagiaan selalu menemukan jalannya pulang.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Terpopuler di

 

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image