Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Tonny Rivani

Saat Allah Menguji, Tersingkaplah yang Tulus dan yang Palsu

Sastra | 2026-03-24 00:17:17
Gambar Ilustrasi Bunga dari Pixabay

Opini - Dalam perjalanan hidup, manusia kerap merasa berada di titik aman—dikelilingi oleh orang-orang yang tampak peduli, kata-kata yang terdengar tulus, dan hubungan yang terasa hangat. Namun, semua itu belum tentu mencerminkan hakikat yang sebenarnya. Hingga suatu saat, ujian datang—pelan atau tiba-tiba—mengguncang keseimbangan yang selama ini terasa kokoh.

Ujian bukan sekadar beban, melainkan cara Allah menyingkap tabir. Di saat itulah, wajah-wajah yang sebelumnya samar menjadi jelas. Ada yang tetap tinggal, menguatkan, dan mengulurkan doa tanpa pamrih. Mereka adalah jiwa-jiwa yang tulus, yang mencintai bukan karena keadaan, melainkan karena keikhlasan.

Sebaliknya, ada pula yang perlahan menjauh. Bukan karena tak mampu membantu, tetapi karena sejak awal mereka tak pernah benar-benar hadir. Kepedulian mereka hanyalah pantulan situasi, bukan pancaran hati. Ketika cahaya ujian menyinari, kepalsuan itu tak lagi mampu bersembunyi.

Maka, janganlah gentar saat diuji. Sebab dalam setiap ujian, Allah sedang menyederhanakan hidupmu—menyisakan yang sejati, dan menyingkirkan yang semu. Ujian adalah cara Allah membersihkan lingkaranmu, sekaligus mendekatkanmu pada-Nya. Karena pada akhirnya, bukan banyaknya yang bertahan yang berarti, tetapi siapa yang tetap ada dengan hati yang lurus.

Puisi: Tersingkap di Saat Ujian

Saat langkah goyah di jalan yang panjang, dan doa terasa menggantung di langit yang senyap, aku melihat satu per satu wajah itu berubah— ada yang tinggal, ada yang menghilang tanpa jejak.

Di waktu lapang, semua terasa dekat, kata-kata manis bertebaran seperti angin sejuk. Namun saat badai datang menyapa, hanya sedikit yang berteduh bersamaku.

Ternyata, ujian adalah cahaya, yang menembus hingga ke relung niat. ia tak sekadar melukai, namun memperlihatkan siapa yang benar-benar dekat.

Yang tulus, tak banyak bicara, namun hadirnya menguatkan jiwa. Yang palsu, penuh kata di awal, namun lenyap saat luka mulai terasa.

Ya Allah, jika ujian adalah cara-Mu memilihkan, maka aku ridha atas yang Engkau sisakan. karena lebih baik sedikit namun penuh keikhlasan, daripada ramai namun hampa ketulusan.

kita tidak lagi sama—melainkan berbeda kembali ke fitrah sejati manusia.

Pemikiran para filsuf memberikan panduan mendalam tentang makna hidup dan keberadaan manusia. Socrates menekankan pentingnya refleksi diri melalui ungkapannya bahwa “hidup yang tidak diuji adalah hidup yang tidak layak dijalani,” yang menunjukkan bahwa manusia perlu terus mengevaluasi dirinya. Sejalan dengan itu, Plato menyatakan bahwa “awal dari pengetahuan adalah kekaguman,” yang mengisyaratkan bahwa rasa ingin tahu menjadi dasar dari segala ilmu.

Lebih lanjut, Aristotle berpendapat bahwa kebahagiaan merupakan tujuan utama hidup manusia, sehingga setiap tindakan hendaknya diarahkan pada kebaikan. Dalam ranah pemikiran modern, René Descartes dengan ungkapannya “Cogito, ergo sum” menegaskan bahwa keberadaan manusia dibuktikan melalui aktivitas berpikir. Sementara itu, Friedrich Nietzsche melihat kehidupan sebagai proses penguatan diri, sebagaimana ia menyatakan bahwa penderitaan dapat menjadikan manusia lebih kuat.

Akhirnya, Jean-Paul Sartre menegaskan bahwa manusia memiliki kebebasan penuh dalam menentukan hidupnya, meskipun kebebasan tersebut juga membawa tanggung jawab besar. Dengan demikian, berbagai pandangan filsafat tersebut menunjukkan bahwa manusia adalah makhluk yang berpikir, bebas, dan terus berkembang dalam mencari makna hidupnya.

Penulis: Tonny Rivani, sebagai Alumni program Thomson Foundation (Inggris) dan anggota Hostwriter, jaringan jurnalis lintas negara.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Berita Terkait

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image