Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Angga Marditama Sultan Sufanir

Lonjakan Kecelakaan Saat Mudik Lebaran: Human Error atau Keterbatasan Sistem Transportasi?

Transportasi | 2026-03-22 08:06:13
Ilustrasi kecelakaan maut di ruas Jalan Tol Pejagan-Pemalang KM 290 yang terjadi pada hari Kamis (19/3/2026).

Setiap musim mudik Lebaran, jalan tol yang seharusnya menjadi simbol mobilitas cepat dan aman justru kerap menjadi ruang berisiko tinggi. Berbagai kecelakaan terus berulang dari tahun ke tahun—mulai dari tabrakan antar kendaraan hingga kendaraan yang menghantam pembatas jalan. Data Korlantas Polri menunjukkan bahwa periode arus mudik dan balik hampir selalu diikuti peningkatan kecelakaan, dengan dominasi kendaraan pribadi.

Narasi yang sering muncul adalah kelalaian pengemudi atau human error. Namun, pertanyaannya: apakah kecelakaan ini semata-mata kesalahan individu, atau justru mencerminkan bahwa sistem transportasi kita belum sepenuhnya mampu mengantisipasi keterbatasan manusia?

Human error: faktor yang tak terhindarkan

Dalam perspektif keselamatan jalan modern, human error merupakan sesuatu yang tidak dapat dihilangkan. World Health Organization mencatat bahwa kecelakaan lalu lintas menyebabkan lebih dari 1,19 juta kematian setiap tahun secara global.

Dalam konteks mudik, kelelahan menjadi faktor dominan. Perjalanan jarak jauh tanpa istirahat cukup meningkatkan risiko penurunan konsentrasi hingga microsleep, terutama di jalan tol dengan kecepatan tinggi. Karakter jalan yang relatif monoton juga dapat memicu overconfidence, di mana pengemudi merasa situasi aman sehingga cenderung meningkatkan kecepatan dan mengabaikan jarak aman.

Sistem yang belum sepenuhnya optimal

Pendekatan Safe System menekankan bahwa sistem transportasi harus mampu mengantisipasi kesalahan manusia. Prinsip ini sejalan dengan Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 yang menempatkan keselamatan sebagai prioritas utama dalam penyelenggaraan lalu lintas.

Namun, dalam praktik mudik, terdapat fenomena yang kerap muncul di lapangan, yakni kendaraan berhenti di bahu jalan tol untuk beristirahat atau mendinginkan mesin. Kondisi ini umumnya terjadi ketika rest area telah penuh sehingga akses untuk masuk ke dalamnya dibatasi.

Situasi tersebut menempatkan pengemudi pada pilihan yang sama-sama berisiko: melanjutkan perjalanan dalam kondisi lelah atau berhenti di lokasi yang tidak semestinya. Dalam banyak kasus, sebagian pengemudi memilih berhenti di bahu jalan sebagai respons terhadap keterbatasan pilihan yang tersedia.

Padahal, bahu jalan tol dirancang sebagai ruang darurat, bukan untuk berhenti. Keberadaan kendaraan yang berhenti di bahu jalan berpotensi meningkatkan risiko kecelakaan, terutama tabrak belakang pada kecepatan tinggi. Fenomena ini menunjukkan bahwa sistem belum sepenuhnya mampu menyediakan ruang istirahat yang memadai dalam kondisi lonjakan arus.

Rekayasa lalu lintas yang perlu penguatan

Penerapan rekayasa lalu lintas seperti sistem satu arah (one way) merupakan langkah strategis untuk mengurai kepadatan saat puncak arus mudik. Namun, dalam implementasinya di lapangan, masih terdapat tantangan dalam hal konsistensi dan penyampaian informasi kepada pengguna jalan.

Perubahan skema yang dinamis, keterbatasan informasi real-time, serta transisi arus yang kompleks dapat menimbulkan kebingungan bagi sebagian pengemudi. Selain itu, kondisi lalu lintas yang lebih lengang saat one way juga berpotensi mendorong peningkatan kecepatan kendaraan.

Tanpa pengendalian dan pengawasan yang memadai, kondisi ini dapat meningkatkan risiko fatalitas ketika kecelakaan terjadi.

Ketika kesalahan kecil menjadi fatal

Permasalahan utama bukan terletak pada adanya kesalahan, tetapi pada sejauh mana sistem mampu memitigasi dampaknya. Fenomena seperti kelelahan pengemudi, kendaraan berhenti di bahu jalan, serta dinamika rekayasa lalu lintas merupakan kondisi yang berulang setiap tahun—dan pada dasarnya dapat diantisipasi.

Ketika sistem belum mampu menyediakan ruang istirahat yang cukup, belum sepenuhnya mengelola arus secara konsisten, serta belum optimal dalam pengendalian kecepatan, maka kesalahan kecil berpotensi berkembang menjadi kecelakaan yang lebih serius.

Menggeser cara pandang keselamatan

Sudah saatnya kita menggeser cara pandang dari “siapa yang salah” menjadi “bagaimana sistem dapat bekerja lebih baik”. Dalam paradigma keselamatan modern, manusia dipandang sebagai bagian dari sistem yang perlu dilindungi.

Dengan demikian, intervensi keselamatan perlu diarahkan pada: (1) perencanaan kapasitas rest area yang lebih adaptif terhadap lonjakan arus, (2) penyediaan alternatif lokasi istirahat di luar jalan tol yang terintegrasi, (3) serta rekayasa lalu lintas yang lebih konsisten dan berbasis data.

Momentum mudik Lebaran dapat menjadi bahan evaluasi tahunan yang penting untuk memperkuat sistem keselamatan transportasi secara berkelanjutan.

Penutup

Pada akhirnya, pertanyaannya bukan lagi apakah manusia akan melakukan kesalahan, tetapi apakah sistem transportasi kita telah cukup siap untuk mengantisipasi dan meminimalkan dampaknya. Selama pengemudi yang kelelahan masih menghadapi keterbatasan ruang istirahat, dan pengelolaan lalu lintas belum sepenuhnya optimal, maka risiko kecelakaan akan tetap meningkat pada periode mudik.

Mudik Lebaran bukan sekadar mobilitas tahunan, melainkan cerminan kapasitas sistem transportasi dalam menjamin keselamatan penggunanya.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Terpopuler di

 

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image