Kalender Hijriah Global Tunggal: Satu Umat, Satu Waktu
Agama | 2026-03-20 17:05:34
Oleh: Ade Ismail Ramadhan Hamid (Pimpinan Wilayah Pemuda Muhammadiyah Kalimantan Timur)
Setiap tahun (seperti tahun ini 2026), umat Islam kembali dihadapkan pada pemandangan yang sama: perbedaan dalam menentukan awal Ramadan, Idul Fitri, dan Idul Adha. Di tengah kemajuan ilmu pengetahuan yang mampu menghitung posisi bulan secara presisi, perbedaan ini terus berulang, seolah menjadi sesuatu yang tidak terhindarkan.
Namun pertanyaannya sederhana: apakah ini benar-benar tidak bisa disatukan, atau kita yang belum siap untuk bersatu?
Di Indonesia, pendekatan penentuan awal bulan masih menggunakan kombinasi hisab dan rukyat melalui kerangka MABIMS. Sementara itu, Muhammadiyah mulai mengarahkan langkah menuju Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT), sebuah sistem yang bertujuan menyatukan waktu ibadah umat Islam di seluruh dunia.
Ini bukan sekadar perbedaan metode, tetapi perbedaan visi.
Muhammadiyah sendiri bukanlah pendatang baru dalam diskursus ini. Selama puluhan tahun, organisasi ini menggunakan metode Wujudul Hilal. Namun saat ini, Muhammadiyah justru bergerak menuju sistem global berbasis visibilitas hilal. Sebuah langkah yang menunjukkan bahwa tradisi panjang tidak menghalangi keberanian untuk berubah.
Langkah ini tidak muncul dalam ruang hampa. Pada tahun 2016 di Turkiye, dunia Islam menyaksikan momentum penting dalam International Hijri Calendar Conference 2016. Dalam forum tersebut, mayoritas ulama dan pakar dari berbagai negara sepakat tentang pentingnya penyatuan kalender hijriah secara global. Ini menunjukkan bahwa gagasan kalender global bukanlah ide sepihak, melainkan aspirasi yang telah lama berkembang di tingkat internasional.
Menariknya, secara prinsip pendekatan KHGT tidak jauh berbeda dengan kriteria imkan rukyat yang digunakan dalam sistem MABIMS. Keduanya sama-sama berbasis visibilitas hilal. Namun perbedaannya terletak pada cakupan: yang satu masih regional, sementara yang lain berorientasi global.
Di sinilah muncul ironi yang patut direnungkan.
Sering kali, Muhammadiyah dianggap sebagai pihak yang tidak mau mengikuti atau bahkan disebut egois. Padahal, jika dilihat secara objektif, justru Muhammadiyah sedang menunjukkan kesediaan untuk bertransformasi—bahkan meninggalkan pendekatan lama yang telah lama digunakan—demi membuka jalan bagi persatuan umat Islam secara lebih luas.
Ketua Umum Haedar Nashir pernah menyampaikan bahwa kalender Islam global merupakan bagian dari upaya menjawab “utang peradaban umat Islam”. Sebuah pernyataan yang dalam, bahwa keterlambatan umat dalam menyatukan sistem waktu ibadah adalah tantangan peradaban yang perlu diselesaikan.
Di titik ini, penting untuk melihat bahwa langkah Muhammadiyah bukan semata soal metode, tetapi juga soal niat dan arah perjuangan. Ada upaya tulus untuk mendorong persatuan umat Islam secara global, bukan sekadar mempertahankan identitas kelompok.
Tentu, menyatukan kalender umat Islam dunia bukan perkara sederhana. Faktor politik, otoritas keagamaan, dan keragaman tradisi menjadi tantangan nyata. Namun tantangan tersebut tidak seharusnya menjadi alasan untuk berhenti bergerak.
Sejarah peradaban selalu menunjukkan bahwa perubahan besar dimulai dari keberanian untuk mengambil langkah pertama.
Pada akhirnya, perdebatan hisab dan rukyat tidak perlu diarahkan pada pertanyaan: mana yang paling benar? Lebaran mana yang sah mana yang tidak? Keduanya memiliki landasan dalil yang kuat dan merupakan bagian dari khazanah ijtihad Islam.
Yang lebih penting adalah bagaimana perbedaan ini diarahkan untuk mencapai tujuan yang lebih besar: persatuan umat Islam.
Karena umat Islam hari ini tidak hanya membutuhkan kepastian dalam beribadah, tetapi juga kebersamaan dalam menjalaninya.
Dan mungkin, pertanyaan yang paling relevan bukan lagi soal metode, melainkan:
apakah kita siap untuk bersatu?
Selamat Hari Raya Idul Fitri, 1 Syawal 1447 H.
Samarinda, 20 Maret 2026
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
