Ilusi Kemenangan AS Vs Iran
Kolom | 2026-03-20 05:00:32
Dalam perspektif geopolitik modern, kemenangan dalam perang sering kali bersifat semu (purrhic victory) –di mana biaya yang dikeluarkan menghancurkan pemenang itu sendiri. Keunggulan Amerika Serikat (AS) dan Israel di atas kertas dengan anggaran yang lebih besar, kekuatan militer terkuat, dan amunisi yang berlebih, tidak lagi menjadi ukuran mutlak bagi kemenangannya. Meskipun secara teoritis AS mampu menghancurkan Negara manapun dalam hitungan hari, namun dalam konteks konfrontasi dengan Iran, kemenangan adalah sebuah ilusi yang berbahaya.
Keunggulan AS Vs “Syahadah” Iran
Perang antara AS dan Iran bukanlah sebuah pertunjukkan pertandingan dengan skor akhir yang jelas, ia adalah awal dari ketidakpastian global yang jauh lebih destruktif. Pertama, kegagalan logika superioritas militer. Narasi kemenangan AS sering kali terjebak pada capaian taktis –seperti hancurnya insrastruktur, fasilitas nuklir, dan lumpuhnya pertahanan udara Iran. Kendati demikian, sejarah mengatakan bahwa di Irak dan Afganistan keunggulan AS di semua sektor tidak menghasilkan kemenangan seutuhnya.
Sementara Iran, bangsa dengan peradaban yang kuat –merujuk pada sanksi ekonomi AS, mampu membangun kekuatan ekonomi dan teknologi secara mandiri. Selain itu, Iran memiliki doktrin “Pertahanan Mosaik” dan jaringan proksi yang sangat luas –poros perlawanan yang mampu mengubah kemenangan AS menjadi perang “atrisi” –strategi melemahkan musuh secara perlahan, berlarut-larut, dan menghabiskan amunisi lawan yang tidak berujung.
Kedua, senjata ekonomi dan kedaulatan energi. Narasi kemenangan militer AS akan segera dibayar dengan kekacauan ekonomi global. Penutupan selat Hormuz –jalur nadi 20 persen pasokan minyak dunia, merupakan senjata mematikan sekaligus kartu as yang dimiliki Iran. Mekipun AS membombardir infrastruktur, Iran mampu membalas dengan serangan yang mengejutkan dunia. Pangkalan AS yang berada di kawasan Teluk dan Israel menjadi sasaran rudal “Hypersonic” Iran dengan mudah.
Artinya apapun kekuatannya, ilusi kemenangan AS akan berhadapan dengan realitas kerusakan fasilitas dan lonjakan harga energi yang mampu meruntuhkan saham global. Di sinilah kemenangan militer AS di atas kertas, berubah menjadi kekalahan ekonomi domestik Washington –merujuk pada protes rakyat AS terhadap kebijakan perang Donald Trump, dan Negara-negara yang bergantung pada sumber daya energi Iran.
Ketiga, perang narasi dan legitimasi internasional. Dalam era digital seperti sekarang ini, kemenangan tidak lagi ditentukan oleh siapa yang memegang bendera di atas reruntuhan, melainkan siapa yang memegang narasi. Artinya, serangan terhadap iran akan dengan mudah dikonstruksikan sebagai tindakan imperialisme Barat terhadap kedaulatan Iran. hal ini justru akan menguatkan posisi Iran sebagai Negara yang mempertahankan hak dan kedaulatannya, dan secara otomatis mengonsolidasikan rakyat Iran serta membangkitkan sentimen anti-Barat di seluruh dunia. Pada gilirannya, hal ini menciptakan “luka permanen” bagi diplomasi AS.
Selain itu, rakyat Iran memiliki ideologi politik yang sangat kuat, yaitu “syahadah” –merupakan alat mobilisasi politik perlawanan terhadap kezaliman. Gerakan ini dimaknai sebagai “martirisme” dan perjalanan spiritual tertinggi bagi rakyat –mengacu pada tragedi Kabala (Oktober 680 M). Rakyat Iran rela mengorbankan jiwa raga bagi kedaulatan bangsanya. Identitas inilah yang tidak dimiliki oleh bangsa-bangsa lain di dunia.
Keempat, anomali street smart vs high tech. Jika AS mengandalkan algoritma dan satelit untuk menghancurkan, Iran kerap menunjukkan kemampuan navigasi politik yang “street smart” –memanfaatkan celah geopolitik, diplomasi bawah tanah, dan ketahanan nasional di bawah sanksi AS selama lebih dari empat dekade. Artinya kemenangan AS yang didasarkan pada penghancuran fisik merupakan ilusi. Faktanya, Iran tetap berdiri tegak di atas ideologi dan struktur kekuasaan yang telah beradaptasi dengan tekanan super ekstrem selama ini. Dan bagi rakyat Iran, kemenangan sejati adalah tidak tunduk terhadap hegemoni AS dan sekutu dalam situasi apapun.
Apa Pesan yang Kita Dapatkan?
Pesan utama dari perang AS vs Iran merupakan studi perang modern yang tidak memliki batas finish yang jelas. Kemenangan militer yang di narasikan oleh AS dan sekutu di atas kertas, sering kali dimaknai dengan kekalahan strategis yang mematikan di dunia nyata. Di Timur Tengah, kemanangan hanyalah pergantian dari satu masalah besar ke masalah yang lebih besar lagi. Jika AS memulai perang yang tidak bisa diakhiri, maka sejatinya itulah kekalahan strategis baginya.
Teori The Hegemony of Perception yang berakar dari pemikiran Antonio Gramsci (1937 M), menyataan bahwa kekuasaan tidak hanya dijalankan melalui konfrontasi militer tetapi melalui dukungan semua entitas. Dalam perang asimetris modern –perang dengan kekuatan yang tidak seimbang¸ kemenangan bukan lagi soal siapa yang menguasai teritori, melainkan siapa yang mampu mempertahankan kontruksi identitas yang kokoh di panggung global.
Menurut teori ini, jika AS membangun hegemoni persepsi melalui keunggulan militer dan teknologi dan mengirim pesan kepada Iran dengan narasi “perlawanan itu sia-sia karena mereka mampu melihat dan menghancurkan Iran dari langit”, maka iran akan membalas dengan hal yang sama sekalipun kekuatannya tidak seimbang. Bahkan mereka tidak perlu menang secara militer, karena di benak global Iran merupakan bangsa yang bertahan dari berbagai macam tekanan selama puluhan tahun tanpa bantuan entitas global. Di situlah sebuah “kemenangan persepesi” yang meruntuhkan hegemoni dan narasi “kemahakuasaan AS dan sekutunya”.
Dalam politik global, persepsi adalah realitas. Jika dunia memandang Negara AS sebagai “penindas” dan Iran sebagai “pejuang yang bertahan”, maka dukungan diplomatik dan legitimasi global akan bergeser. Poinnya adalah, alih-alih menggunakan strategi soft power –narasi demokrasi dan kedaulatan, AS justru terjebak menggunakan tekanan militer ke Iran (hard power). Jika tekanan militer gagal, maka AS akan dikonstruksi oleh dunia sebagai “aggressor” yang melanggar hukum internasional.
Sebaliknya, strategi soft power Iran sebagai “bangsa yang bertahan”, ia telah menciptakan daya tarik melalui narasi perlawanan terhadap imperialisme (axis of resistance). Artinya, bagi entitas global, kemampuan pertahanan Iran dari sanksi selama lebih dari empat dekade adalah bentuk “soft power” yang membentuk legitimasi moral sekaligus meruntuhkan hegemoni persepsi kemenangan AS dan sekutu.
Penulis adalah Mahasiswa Program Studi Magister Ilmu Komunikasi Universitas Paramadina Jakarta
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
