Hari Kemenangan telah Tiba
Agama | 2026-03-19 13:30:53
Dosen Prodi KPI FAI UM Palembang Wk Ketua PDM Palembang
A.IFTITAH
Sedih rasanya melihat Ramadan 1447 H berpamitan. Rasanya baru kemarin kita sibuk mencari jadwal imsak dan berburu takjil, sekarang bulan penuh berkah ini sudah harus berlalu.Tapi tenang, perpisahan ini adalah gerbang menuju kemenangan. Kita melepas Ramadan dengan harapan semua amalan kita diterima, dan kita menyambut Idulfitri dengan hati yang lebih "bersih"
Takkala matahari terbenanm diufuk barat pada akhir Ramadhan maka terdengarlah gema takbir Tahmid dan tahlil yang bersahut sahutan dari masjid yang satu ke masjid yang lainnya, dari musholah yang satu ke musholah yang liannya dan bahkan dari kampung yng satu ke kampung yang lainnya. Itulah pertanda kita membesarkan kalimat Tauhid, wujud dari merayakan hari kemenangan.
Gema takbir memang selalu punya cara sendiri untuk bikin hati terasa sejuk sekaligus haru. Setelah satu bulan penuh kita berjuang menahan lapar, haus, dan ego, akhirnya sampai juga di hari yang fitri ini.
B. Bagaimana cara merayakan hari kemenangan
1. Al-qur’an memberikan isyarat kepad kita untuk mengumandangkan takbir Tahmid dan tahlil sejak matahari terbenam diufuk barat pada akhir Ramadhan sampai khatib idul fitri turun dari mimbarnya
وَلِتُكَبِّرُواْ ٱللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَىٰكُمۡ وَلَعَلَّكُمۡ تَشۡكُرُونَ
2. Disunnah mandi sebelum berangkat menuju ke tempagt sholat
3. Disunnahkan sarapan pagi terlebih dahulu.
4. Disunnah mengenakan baju yang pantas
5. Disunnahkan pulang dan pergi menuju ke tempat sholat dengan jalan yang berbeda
C. Siapa yang berhak merayakan hari kemenangan itu ?
Secara filosofis, Idulfitri sering disebut sebagai "hari kemenangan". Namun, siapa sebenarnya yang berhak merayakannya? Jika kita melihat dari berbagai sudut pandang—baik secara spiritual maupun sosial—jawabannya cukup inklusif.
Berikut adalah mereka yang berhak merayakan hari kemenangan itu:
1. Mereka yang Telah Berpuasa dan Berjuang
Secara syariat, Idulfitri adalah hadiah bagi umat Muslim yang telah menuntaskan ibadah puasa Ramadan. Kemenangan yang dirayakan adalah kemenangan melawan hawa nafsu, ego, dan godaan selama bulan suci Ramadhan.
2. Mereka yang Membayar Zakat Fitrah
Idulfitri tidak lengkap tanpa kepedulian sosial. Mereka yang telah menunaikan kewajiban zakatnya merayakan kemenangan karena telah berhasil mensucikan hartanya dan membantu sesama agar bisa ikut bergembira di hari raya.
3. Mereka yang Ingin Kembali ke Fitrah (Suci)
Kata "Fitri" berkaitan dengan asal kejadian manusia yang suci. Jadi, setiap orang yang memiliki niat tulus untuk:
a) Saling memaafkan.
b) Memulai lembaran baru yang lebih baik.
c) Menghapus dendam dan mempererat silaturahmi.
4. Seluruh Masyarakat (Sisi Sosial)
Di Indonesia, Idulfitri sudah menjadi perayaan budaya yang besar. Secara sosial, siapa pun—termasuk kerabat atau tetangga non-Muslim—seringkali ikut merasakan kegembiraan ini melalui tradisi berbagi makanan, libur bersama, dan suasana maaf-memaafkan yang universal.
D. Doa dan Zikir yang diucapakan
1. Doa Ucapan Selamat (Tahni'ah)
Ini adalah doa yang paling populer dan diamalkan oleh para sahabat Nabi SAW saat bertemu satu sama lain di hari raya:
تَقَبَّلَ اللَّهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ
"Semoga Allah menerima (amal ibadah) dari kami dan dari kalian."
2. Bacaan Takbir (Zikir Kemenangan)
Takbir adalah "lagu kebangsaan" Idulfitri yang dibaca sejak malam terakhir Ramadan hingga sebelum salat Id dimulai. Intinya adalah mengagungkan Allah:
اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ
"Allah Maha Besar (3x), tidak ada tuhan selain Allah, Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, dan segala puji hanya bagi Allah."
3. Doa Agar Amalan Ramadan Diterima
Karena kita baru saja berpisah dengan Ramadan, sangat baik membaca doa ini agar semua jerih payah kita tidak sia-sia:
اللَّهُمَّ تَقَبَّلْ مِنَّا صِيَامَنَا وَقِيَامَنَا وَصَالِحَ أَعْمَالِنَا
"Ya Allah, terimalah puasa kami, salat kami, dan amal-amal saleh kami."
4. Doa Mohon Ampunan (Silaturahmi)
Saat bermaaf-maafan dengan orang tua atau kerabat, kamu bisa menyelipkan doa singkat ini:
"Rabbighfirli wa liwalidayya warhamhuma kama rabbayani shaghira."
"Ya Tuhanku, ampunilah dosaku dan dosa kedua orang tuaku, dan sayangilah mereka sebagaimana mereka menyayangiku di waktu kecil."
E.Penutup
Semoga tulisan yang sederhana ini bisa memberikan inspirasi kepada kita semua, amiin ya rabbal aa’lamiinn.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
