Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Dhevy Hakim

Krisis Kesehatan Jiwa Anak

Info Terkini | 2026-03-18 07:25:43

Krisis Kesehatan Jiwa Anak

Oleh: Dhevy Hakim

Pada tanggal 5 Maret 2026, pemerintah Indonesia melalui sembilan Kementerian dan Lembaga resmi menandatangani Surat Keputusan Bersama (SKB) tentang Kesehatan Jiwa Anak. Langkah ini diambil sebagai respons atas kondisi yang semakin mengkhawatirkan terkait masalah kesehatan jiwa pada anak dan remaja di tanah air. Sembilan pihak yang menandatangani SKB tersebut meliputi Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Arifah Fauzi, Mendukbangga/Kepala BKKBN Wihaji, Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian, Menteri Agama Nasaruddin Umar, Menteri Sosial Saifullah Yusuf, Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid, serta Kepala Kepolisian Republik Indonesia Listyo Sigit Prabowo.

Data yang diungkapkan oleh Menteri Kesehatan menunjukkan urgensi yang tidak bisa diabaikan. Berdasarkan catatan healing119.id dan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), terdapat empat faktor utama yang memicu keinginan anak mengakhiri hidup, yaitu konflik keluarga (24–46 persen), masalah psikologis (8–26 persen), perundungan (14–18 persen), serta tekanan akademik (7–16 persen). Selain itu, hasil Survei Nasional Pengalaman Hidup Anak dan Remaja (SNPHAR) Tahun 2024 menunjukkan 7,28 persen anak mengalami masalah kesehatan jiwa, di mana 62,19 persen di antaranya pernah mengalami kekerasan fisik, emosional, atau seksual dalam 12 bulan terakhir.

Lantas, kenapa anak-anak yang semestinya hidup bahagia justru mengalami krisis kesehatan jiwanya?

Krisis Kesehatan Jiwa Anak sebagai Dampak Sistem Sekuler Liberal

Fenomena anak bunuh diri jika ditelusuri tentunya ada penyebab yang tidak secara instan menjadikan anak-anak, generasi penerus bangsa ini tiba-tiba mengalami krisis kesehatan jiwa. Problemnya bukan sekadar masalah teknis yang perlu ditangani secara parsial, melainkan cerminan dari kegagalan sistem kehidupan sekuler liberal yang telah menjajah nilai-nilai masyarakat Indonesia.

Kondisi kesehatan jiwa anak yang semakin memburuk tidak dapat dipisahkan dari pengaruh sistem sekuler liberal kapitalistik yang telah menjadi fondasi kehidupan bernegara dan bermasyarakat di banyak negara, termasuk Indonesia. Sistem ini mengedepankan kebebasan individu tanpa batasan nilai agama, mengutamakan kepentingan materi, dan menjadikan manusia sebagai objek ekonomi yang hanya dinilai dari produktivitasnya.

Pertama, sistem sekuler liberal telah menghilangkan landasan akidah dan moral yang kuat dari kehidupan masyarakat. Dalam konteks ini, nilai-nilai yang selama ini menjadi pegangan bangsa, terutama nilai-nilai Islam yang mengatur aspek kehidupan secara menyeluruh, semakin tergerus. Hegemoni media kapitalisme global yang menyebarkan budaya konsumerisme, individualisme, dan gaya hidup yang bertentangan dengan norma agama telah berhasil mengubah pola pikir dan sikap generasi muda. Anak-anak dan remaja terpapar konten yang tidak sesuai dengan perkembangan usia, serta nilai-nilai yang menganggap kesuksesan hanya diukur dari kekayaan materi, status sosial, dan pencapaian akademik semata. Hal ini menciptakan tekanan psikologis yang besar dan membuat mereka kehilangan arah hidup yang jelas.

Kedua, pendidikan yang berlaku saat ini tidak lagi berpijak pada pembentukan kepribadian yang mulia berdasarkan akidah dan syariat Islam, melainkan lebih fokus pada pencapaian nilai akademik dan keterampilan yang dapat menghasilkan produktivitas ekonomi. Parameter sukses yang diterapkan oleh sistem pendidikan sekuler membuat anak-anak terjebak dalam kompetisi yang tidak sehat, di mana prestasi akademik menjadi satu-satunya tolok ukur keberhasilan. Akibatnya, tekanan akademik menjadi salah satu faktor utama yang memicu masalah kesehatan jiwa pada anak. Selain itu, pendidikan di keluarga juga mengalami kemunduran, karena banyak orang tua yang terlalu fokus pada pekerjaan dan pencarian nafkah materi sehingga kurang memperhatikan pembinaan nilai dan kesehatan jiwa anak-anak mereka.

Ketiga, sistem kapitalistik yang mengutamakan keuntungan semata telah menyebabkan terjadinya berbagai masalah sosial yang berdampak langsung pada kesehatan jiwa anak. Konflik keluarga yang menjadi faktor utama pemicu keinginan anak mengakhiri hidup seringkali disebabkan oleh tekanan ekonomi, perubahan pola hubungan keluarga yang tidak sesuai dengan nilai agama, serta pengaruh budaya luar yang merusak keharmonisan rumah tangga. Selain itu, perundungan yang terjadi di sekolah maupun di ruang digital juga merupakan dampak dari kultur kompetisi dan individualisme yang ditanamkan oleh sistem sekuler liberal.

Butuh Solusi Fundamental

Islam sebagai agama yang sempurna dan paripurna memiliki konsep khas dalam membentuk kepribadian anak. Islam memandang bahwa anak adalah amanah bagi orang tuanya. Orang tua dalam hal ini menjadi madrasa ulla atau sekolah pertama bagi anak-anaknya. Orang tua berkewajiban untuk menanamkan nilai-nilai aqidah, ibadah, dan akhlak termasuk mencukupi kebutuhan anak baik lahir maupun batin.

Selain itu masyarakat juga sebagai salah satu pilar penopang yang mendukung bagaimana pembentukan karakter pada anak berjalan sesuai dengan konsep Islam. Dalam hal ini masyarakat akan mengontrol dengan baik, sehingga suasana sehari-hari dalam sistem Islam tentunya adalah suasana tenang, dilingkupi hal-hal, yang baik yang sesuai dengan syari’at yang sehingga tercipta suasana dalam ketaatan.

Tak kalah pentingnya dalam sistem Islam ada peran negara yang mensupport secara maksimal dalam pembentukan karakter anak. Negara memiliki tanggung jawab utama sebagai "ra’in dan junnah" (pelindung dan benteng) bagi rakyatnya, terutama dalam melindungi anak dan keluarga dari pengaruh nilai-nilai yang tidak sesuai dengan Islam seperti sekuler, liberal, dan kapitalistik yang merusak.

Tanggung jawab ini tidak hanya terbatas pada penyediaan layanan kesehatan dan pendidikan, melainkan juga pada pengaturan kebijakan yang berdasarkan pada prinsip-prinsip agama, serta pembinaan nilai-nilai yang benar di seluruh lapisan masyarakat. Negara menjamin kebutuhan pokok keluarga termasuk mensupport para kepala keluarga untuk bekerja , sehingga dengan mekanisme seperti ini setiap kepala keluarga mampu memenuhi kebutuhan keluarganya termasuk kebutuhan anak-anaknya.

Negara juga dengan tegas akan mengatur mengenai informasi dan berita yang beredar supaya tidak menyalahi syari’at Islam. Melalui departemen penerangan negara akan mengatur semua macam informasi baik dalam rangka menjaga keamanan negara, menjaga kemurnian fikroh, keluasan ilmu pengetahuan, juga menjaga kesehatan jiwa anak.

Dengan demikian untuk mengatasi krisis kesehatan jiwa anak secara mendasar, tidak cukup hanya dengan menerbitkan kebijakan seperti SKB Kesehatan Jiwa Anak. Penandatanganan SKB Kesehatan Jiwa Anak oleh sembilan Kementerian dan Lembaga memang menjadi langkah yang positif dan menunjukkan kesadaran pemerintah akan urgensi masalah kesehatan jiwa anak saat ini. Namun, langkah ini akan menjadi sia-sia jika tidak diikuti dengan perubahan sistem yang mendasar.

Oleh karena itu, perlu adanya kesadaran bersama bahwa satu-satunya solusi yang mampu mengatasi masalah ini secara mendasar adalah dengan mengganti sistem sekuler liberal kapitalistik dengan sistem Islam yang berdasarkan pada prinsip-prinsip syariat agama. Hanya dengan demikian, kita dapat membentuk generasi muda yang tidak hanya sehat secara jasmani dan jiwa, tetapi juga memiliki akidah yang kuat, moral yang mulia, dan mampu menjadi penerus bangsa yang berkualitas.

Wallahu a’lam.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image