Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Ariefdhianty Vibie

Lonjakan Bunuh Diri: Alarm Keras Gagalnya Sistem Kapitalisme Sekuler

Kolom | 2026-04-16 10:35:01
sumber gambar: paras hospital

Kasus bunuh diri semakin marak. Pada Senin, 6 April 2026, ditemukan pemuda laki-laki (26 tahun) tewas diduga bunuh diri dengan tali terikat di leher. Peristiwa tragis ini terjadi di rumah kontrak di kawasan Ujungberung, Kota Bandung. Belum diketahui motif pelaku hingga saat ini, meski begitu para tetangga mengatakan bahwa pelaku dikenal sebagai orang yang jarang bersosialisasi dan sudah empat hari tidak keluar rumah.

Kasus bunuh diri yang terjadi di Ujungberung ini menambah deretan kasus bunuh diri di tanah air yang terus meningkat jumlahnya tiap tahun. Hal ini bukanlah sekadar fenomena biasa, tetapi sudah menjadi tren. Meningkatnya angka bunuh diri sesungguhnya menggambarkan betapa buruknya mental masyarakat yang terbentuk. Mental yang lemah menandakan bahwa masyarakat kita tidak cukup kuat menghadapi tantangan dan ujian hidup.

Sayangnya, dalam sistem ini, negara justru tidak mampu memberikan solusi yang fundamental kenapa akhirnya angka bunuh diri terus meningkat.

Munculnya masalah kesehatan mental dipengaruhi oleh cara pandang tertentu. Mental masyarakat kita menjadi lemah karena sekularisme (pemisahan agama dari kehidupan) yang dijadikan sebagai pandangan hidup. Akibatnya, masyarakat mengalami krisis keimanan yang membuat seseorang mudah goyah, gampang tersulut emosi, nafsu sesaat, hingga pikiran yang kalut dan akhirnya menjadikan bunuh diri sebagai jalan keluarnya.

Tidak hanya itu, tren bunuh diri juga dipengaruhi faktor lainnya. Ideologi kapitalisme memandang kehidupan berjalan dengan visi hidup materialistis. Standar kebahagiaan dan kemuliaan diukur dengan kepemilikan materi semata. Ketika keinginan tidak tercapai, depresi pun melanda. Di samping itu, kapitalisme juga penyebab krisis di berbagai bidang kehidupan yang berimbas pada mental illness.

Di dalam Islam, negara berfungsi melayani dan mengurusi kepentingan dan kemaslahatan rakyat. Salah satunya ialah menyelenggarakan pendidikan Islam berbasis akidah Islam yang akan mewujudkan generasi berkepribadian Islam yang mampu menjadi problem solver permasalahan kehidupan.

Pemahaman hidup yang benar berawal dari sistem pendidikan yang berasaskan akidah Islam yang diterapkan sejak dini, dari rumah, sekolah, masyarakat, dan negara. Pola pikir dan sikapnya berstandar pada aturan Allah SWT. Begitu pula dengan tujuan hidupnya adalah untuk meraih ridha Allah SWT. Sementara negara menjadi penanggung jawab urusan umat, memastikan mereka hidup dengan layak dan sejahtera berbalut keimanan dan ketakwaan.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image