Alarm Keras! Krisis Kesehatan Jiwa Anak dan Kegagalan Sistem Sekuler
Kolom | 2026-03-16 05:25:20
Baru-baru ini, sembilan kementerian dan lembaga negara menandatangani Surat Keputusan Bersama (SKB) tentang Kesehatan Jiwa Anak. Ada Menkes, Mendikdasmen, Menteri PPPA, BKKBN, Mendagri, Menag, Mensos, Menkomdigi, hingga Kapolri.
Keterlibatan banyak kementerian ini menunjukkan bahwa persoalan kesehatan mental anak merupakan masalah yang sangat serius. Data Kementerian Kesehatan yang bersumber dari platform healing119.id dan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menyebutkan sedikitnya empat faktor utama yang mendorong keinginan anak untuk mengakhiri hidup. Konflik keluarga menempati posisi tertinggi dengan kisaran 24 sampai 46 persen. Disusul masalah psikologis sebesar 8 sampai 26 persen, perundungan 14 sampai 18 persen, serta tekanan akademik 7 hingga 16 persen.
Angka yang Menjadi Alarm Keras
Angka-angka ini alarm keras. Anak-anak tidak lagi tumbuh dalam suasana aman dan penuh kasih. Sebaliknya, mereka justru menghadapi tekanan emosional yang begitu besar. Akibatnya, sebagian dari mereka kehilangan harapan hidup.
Namun, persoalannya tidak berhenti pada faktor-faktor teknis tersebut. Konflik keluarga, tekanan akademik, perundungan, maupun gangguan psikologis hanyalah gejala yang tampak di permukaan. Akar persoalannya jauh lebih dalam, yakni krisis nilai akibat sistem kehidupan sekuler liberal yang mendominasi masyarakat saat ini.
Saat Agama Dijauhkan dari Kehidupan
Dalam sistem sekuler liberal, agama dipisahkan dari kehidupan. Nilai-nilai agama tidak lagi menjadi fondasi utama dalam membangun keluarga, pendidikan, maupun pergaulan sosial. Orientasi hidup diarahkan pada capaian materi, prestasi akademik, popularitas, dan kesuksesan duniawi. Parameter keberhasilan manusia diukur dari angka, rangking, jabatan, atau kekayaan.
Akibatnya, anak-anak tumbuh dalam lingkungan yang sarat tekanan. Mereka dipacu untuk berprestasi tanpa dibekali fondasi keimanan yang kokoh. Ketika gagal memenuhi standar duniawi tersebut, mereka mudah merasa tidak berharga, kehilangan makna hidup, bahkan putus asa.
Hegemoni Media dan Gaya Hidup Hedonistik
Pada saat yang sama, hegemoni media global memperkuat penetrasi nilai-nilai sekuler liberal. Industri hiburan, media sosial, dan platform digital yang dikuasai kapitalisme global terus memproduksi gaya hidup individualistis, hedonistik, dan permisif. Anak-anak menjadi konsumen utama arus budaya ini.
Tanpa filter nilai yang kuat, generasi muda dengan mudah menyerap pola pikir yang menjauhkan mereka dari identitas keislaman. Relasi keluarga menjadi renggang, hubungan sosial menjadi rapuh, dan makna hidup semakin kabur.
Tak Cukup Solusi teknis
Krisis kesehatan jiwa anak pada akhirnya tidak bisa dilepaskan dari kegagalan sistem kehidupan yang melingkupi masyarakat. Ketika pendidikan, media, ekonomi, dan kebijakan publik dibangun di atas paradigma sekuler kapitalistik, maka kerusakan nilai menjadi konsekuensi yang sulit dihindari.
Karena itu, penyelesaian persoalan ini tidak cukup hanya dengan program layanan konseling, hotline kesehatan mental, atau kampanye psikologis semata. Langkah-langkah tersebut penting, tetapi sifatnya hanya meredakan gejala. Yang dibutuhkan adalah perubahan paradigma secara mendasar.
Umat Islam perlu menyadari bahwa sistem sekuler liberal kapitalistik telah melahirkan berbagai krisis multidimensi, termasuk krisis kesehatan jiwa generasi muda. Sistem ini menjadikan manusia sebagai pusat nilai, sementara wahyu dikesampingkan dari pengaturan kehidupan.
Solusi Sistemis dan Perlindungan Hakiki
Dalam perspektif Islam, keluarga, pendidikan, dan masyarakat dibangun di atas fondasi akidah yang kokoh. Anak tidak hanya dididik untuk meraih keberhasilan dunia, tetapi juga diarahkan untuk memahami tujuan hidup sebagai hamba Allah. Dengan kesadaran ini, mereka memiliki makna hidup yang jelas, daya tahan mental yang kuat, serta orientasi hidup yang seimbang antara dunia dan akhirat.
Perjuangan dakwah karena itu tidak boleh berhenti pada level perbaikan moral individu. Dakwah harus diarahkan pada perubahan sistem kehidupan secara menyeluruh, yakni mengganti sistem sekuler liberal kapitalistik dengan sistem Islam yang menjadikan wahyu sebagai sumber pengaturan kehidupan.
Dalam sistem Islam, negara menjalankan fungsi sebagai ra’in (pengurus) sekaligus junnah (pelindung) bagi rakyatnya. Negara tidak hanya hadir ketika krisis terjadi, tetapi secara aktif menjaga masyarakat dari kerusakan nilai dan kerusakan sistemis.
Negara memastikan sistem pendidikan berbasis akidah Islam yang membentuk kepribadian islami sekaligus kecerdasan intelektual. Sistem kesehatan tidak sekadar kuratif, tetapi juga preventif dengan memperhatikan kesehatan fisik, mental, dan spiritual. Sementara sistem ekonomi diatur sedemikian rupa agar tidak menciptakan tekanan hidup yang merusak stabilitas keluarga. Dengan integrasi kebijakan yang berlandaskan syariat Islam, keluarga akan lebih kokoh, lingkungan sosial lebih sehat, dan generasi muda memiliki fondasi mental yang kuat.
Penutup
Krisis kesehatan jiwa anak yang semakin meningkat seharusnya menjadi momentum refleksi bersama. Bukan sekadar memperbanyak program penanganan, tetapi berani mengevaluasi sistem kehidupan yang selama ini menjadi akar berbagai persoalan. Sebab generasi yang sehat jiwanya tidak lahir dari sistem yang rusak. Mereka hanya dapat tumbuh dalam peradaban yang menjadikan wahyu sebagai pedoman kehidupan.[]
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
