Benarkah Kesehatan Mental Hanya Soal Kurang Ibadah? Membedah Stigma dari Kacamata Islam
Eduaksi | 2026-04-12 00:06:39Pernahkah kamu mengalami kejadian dimana kamu sudah memberanikan diri untuk bercerita tentang rasa lelah mental itu, namun jawaban yang didapat justru kalimat seperti:
“Kamu stres? Depresi? Apaan itu. Kamu hanya kurang ibadah, makanya gampang stres!”
“Perbanyak istighfar, jangan terlalu jauh dari Tuhan”
Jika ya, Anda tidak sendirian. Kalimat-kalimat tersebut sangat mungkin diucapkan dengan niat baik dan dilandasi kepedulian, tetapi bagi seseorang yang sedang berjuang melawan gangguan kesehatan mental, respons semacam itu seringkali justru memperdalam luka dan membuat seseorang menjadi menutup diri. Daripada merasa didukung, mereka akan lebih merasa dihakimi, memicu rasa bersalah dan pada akhirnya mengurung mereka dalam stigma bahwa sakit mental mutlak merupakan sebuah kegagalan spiritual. Lantas bagaimana sebenarnya agama Islam memandang relasi antara ibadah dan kesehatan mental? Apakah benar sesederhana “kurang ibadah menjadi penyebab sakit mental”? Jawabannya jelas tidak sesederhana itu. Untuk membangun masyarakat yang lebih sehat dan sadar akan kesejahteraan hidup, hal ini perlu diluruskan dengan berpijak pada realitas medis dan keindahan persepektif psikologi Islam.
Kesehatan mental bukanlah sekadar ketiadaan gangguan kejiwaan. Menurut Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2014 tentang Kesehatan Jiwa, kesehatan jiwa didefinisikan sebagai kondisi di mana seorang individu dapat berkembang secara fisik, mental dan spiritual dan sosial sehingga mampu menyadari kemampuannya sendiri, mengatasi tekanan hidup, bekerja secara produktif dan memberikan kontribusi bagi komunitasnya. Islam memandang kesehatan mental sebagai konsep yang memiliki cakupan lebih luas dibanding sekadar kondisi psikologis semata. Dalam ajaran ini, aspek mental berkaitan erat dengan praktik ibadah serta upaya mengembangkan potensi diri sebagai bentuk penghambaan kepada Allah yang pada akhirnya mengarah pada tercapainya al-naf al-muthmainnah, yaitu jiwa yang tenteram dan penuh kebahagiaan (Bahar, dkk. 2023). Dengan demikian, dapat dipahami bahwa Islam mengakui adanya keterkaitan antara spiritualitas dan kesejahteraan batin, meskipun hubungan tersebut tidak dapat dipahami secara sederhana sebagai sebab-akibat yang langsung.
Miskonsepsi Fatal: “Low Mental State = Low Faith”
Mengaitkan kondisi mental yang memburuk semata-mata dengan lemahnya keimanan merupakan bentuk penyederhanaan yang berisiko tinggi. Anggapan bahwa kondisi mental yang buruk (low mental state) sama dengan kurang beribadah kerap mendorong individu yang mengalami kelelahan dan penyakit mental untuk menjadi tertutup, menghindari bantuan profesional karena mereka khawatir akan dipersepsikan sebagai muslim yang kurang baik. Oleh akrena itu, pemahaman masyarakat mengenai keterkaitan antara kesehatan mental dan keimanan perlu diluruskan secara seimbang guna menghapus kesalahpahaman tersebut (Namiroh, dkk. 2023). Beragam faktor kompleks membentuk kondisi kesehatan mental seseorang, bukan sekadar aspek spiritual semata. Unsur-unsur seperti genetika, ketidakseimbangan hormon dan zat kimia otak (neurotransmitter), pengalaman traumatis di masa lalu, tekanan ekonomi, serta pengaruh lingkungan sosial turut berperan besar dalam membentuk kondisi psikologis seseorang. Menganggap depresi klinis hanya sebagai akibat “menjauh dari Tuhan” sama kelirunya dengan menilai penderita asma atau diabetes sebagai orang yang kurang berdoa, karena kedua kondisi tersebut nyata diakui dalam dunia medis dan memerlukan penanganan yang tepat.
Sepanjang sejarah Islam, berbagai bentuk emosi seperti kesedihan, kecemasan dan duka telah diakui sebagai bagian alami dari kemanusiaan tanpa menghilangkan nilai keimanan seseorang, contohnya:
- Kisah Nabi Yaqub A.S. yang merasakan duka mendalam akibat kehilangan Nabi Yusuf A.S. hingga penglihatannya memutih karena tangisan yang terus menerus (Khatimah & Aziza, 2022), seperti dalam firman Allah Subhannallahu Wata’ala pada Qur’an Surah Yusuf ayat 84.
- Kisah Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wassalam yang mengalami tahun kesedihan (Amul Huzni) di tahun ke-10 kenabian. Fase ini merupakan salah satu fase terberat Rasulullah karena dalam waktu yang berdekatan, beliau harus kehilangan dua pilar utama penyokong dakwah dan kestabilan mental yaitu Sayyidah Khadijah R.A. sang istri tercinta dan Abu Thalib yang merupakan paman beliau (Ariansyah, 2023).
Kisah-kisah tersebut menjadi tamparan keras bagi miskonsepsi kurang ibadah yang sering beredar di masyarakat saat ini. Apabila kesedihan dan kelelahan mental dianggap sebagai bukti lemahnya iman, maka muncul pertanyaan: Apakah mungkin para Nabi, yang merupakan sosok mulia dan dekat dengan Allah pernah mengalaminya? Anggapan tersebut jelas tidak tepat. Allah Subhannallahu Wata’ala tidak menilai kesedihan yang dirasakan Nabi sebagai bentuk kekurangan iman ataupun kelemahan dalam bertawakal. Sebaliknya, Allah justru mengakui perasaan tersebut serta memberikan penghiburan, contohnya kepada Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wassalam melalui peristiwa Isra Mi’raj (Burhannuddin, 2025). Kenyataan ini menegaskan bahwa pengalaman rasa sakit secara mental dan emosional merupakan bagian alami dari fitrah manusia yang seharusnya disikapi dengan empati, kasih sayang dan dukungan, bukan dengan penghakiman.
Kesehatan Mental dalam Pandangan Holistik Islam
Pada hakikatnya, tradisi Islam bersama para ilmuwan Islam klasik tidak pernah memamndang kesehatan fisik dan mental sebagai dua hal yang terpisah. Sejak berabad-abad lalu, tokoh seperti Ibnu Sina dan Ar-razi telah merumuskan pendekatan penyembuhan yang mencakup aspek psikologis, jauh sebelum psikologi modern berkembang di Barat. Melalui perspektif ini, psikologi Islam menghadirkan pendekatan yang menyeluruh dengan menempatkan kesehatan mental sebagai hasil keseimbangan antara dimensi biologis, psikologis, sosial dan spiritual (Arroisi, 2022). Dengan demikian, Islam mengakui bahwa tubuh dan kondisi kejiwaan manusia sama-sama berpotensi mengalami gangguan. Ketika permasalahan bersumber dari trauma yang mendalam atau gangguan biologis, maka mengesampingkan usaha medis dan hanya menganjurkan peningkatan ibadah seperti “memperbanyak sholat” mencerminkan pemahaman agama yang kurang tepat. Dalam ajaran Islam, upaya mencari pengobatan seperti berkonsultasi dengan psikologi maupun psikiater dipandang sebagai bentuk tanggung jawab manusia dalam menjaga amanahberupa kesehatan jasmani dan ruhani yang diberikan oleh Allah.
Lantas, Di mana Letak Peran Ibadah?
Walaupun telah dipahami bahwa gangguan mental tidak semata-mata disebabkan oleh kurangnya ibadah, kita tidak bisa menutup mata terhadap fakta bahwa ibadah memiliki peran yang sangat kuat sebagai mekanisme koping dan pelingung (buffer) spiritual. Ibadah berfungsi sebagai sarana yang memperkuat ketahanan individu dalam menghadapi tekanan psikologis, tanpa harus diposisikan sebagai satu-satunya penyebab atau solusi. Sejumlah temuan empiris menguatkan hal-hal tersebut. Di tengah meningkatnya kasus kecemasan dan depresi pada kalangan Generasi Z Muslim, aktivitas seperti sholat, zikir serta membaca Al-Qur’an terbukti berkontribusi dalam meredakan beban emosional. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebanyak 84,2% responden dari kelompok Generazi Z mengakui bahwa ibadah memberikan ketenangan serta secara signifikan menurunkan tingkat kecemasan yang mereka rasakan (Nasution, dkk. 2024). Dalam konteks ini, ibadah dapat dipahami sebagai bentuk mindfulness tingkat lanjut yang membantu menghadirkan ketenangan batin sekaligus mengalihkan perhatian dari pola pikir yang destruktif (Khairanis & Aldi, 2024).
Selain itu, partisipasi aktif remaja dan dewasa awal dalam kegiatan keagamaan juga menunjukkan hubungan yang searah dengan peningkatan kesejahteraan mental. Praktik ibadah tidak hanya berperan dalam menekan stres, tetapi juga berkontribusi pada munculnya rasa puas terhadap kehidupan (Prananda, dkk. 2025). Melalui pengalaman ibadah dan penerapan konsep tawakkal, individu memproleh sumber harapan sekaligus makna hidup yang lebih kuat ketika menghadapi situasi krisis (Setiawan, dkk. 2022). Temuan ini sejalan dengan pandangan bahwa agama memiliki fungsi penting sebagai penyeimbang bagi mahasiswa di era modern yang kerap menghadapi tekanan akademik dan tuntutan sosial yang tinggi (Fajrussalam, dkk. 2022).
Menggabungkan Doa & Ahli Medis: Sebuah Ikhtiar Sempurna
Ibadah sepatutnya diposisikan sebagai dasar pembentuk ketangguhan diri, sekaligus berperan sebagai terapi spiritual pendamping dan upaya pencegahan. Namun, ketika seseorang telah mengalami gangguan kejiwaan klinis seperti depresi mayor, gangguan bipolar, atau skizofrenia, praktik ibadah perlu dijalankan bersamaan dengan penanganan medis profesional agar proses pemulihan dapat berlangsung secara optimal.
Bagi Anda yang tengah berjuang menghadapi kondisi ini, penting untuk memahami bahwa depresi bukanlah bentuk hukuman akibat kurangnya kualitas sebagai hamba. Terimalah dan akui luka yang dirasakan. Mengunjungi psikolog atau psikiater tidak perlu disertai rasa malu, dan di saat yang sama, jadikan ibadah seperti shalat serta doa di sepertiga malam sebagai ruang untuk mencurahkan kelelahan selama menjalani proses penyembuhan secara medis.
Sebagai keluarga, sahabat, maupun bagian dari masyarakat, sudah saatnya cara pandang ini diperbaiki. Hindari sikap menghakimi tingkat keimanan orang lain. Daripada menyampaikan pernyataan seperti “kamu kurang ibadah,” lebih baik hadir dengan empati melalui ungkapan yang menunjukkan kepedulian, misalnya dengan menawarkan kesediaan untuk mendengarkan, menemani mencari bantuan profesional, serta mendukung mereka dalam berdoa.
DAFTAR PUSTAKA
Ariansyah, I. Y. (2023). Motivasi Rasulullah Menghadapi Tahun Kesedihan dalam Kerangka Self-Determination Theory. INTELEKSIA: Jurnal Pengembangan Ilmu Dakwah, 5(1), 23-46. https://doi.org/10.55372/inteleksiajpid.v5i1.230
Arroisi, J. (2022). Makna Khashyah dalam Al-Qur'an: Analisis Kritis atas Emosi Dasar dalam Psikologi Islam. Psychosophia: Journal of Psychology, Religion, and Humanity, 3(2), 165–187. https://repo.unida.gontor.ac.id/1906/
Bahar, M. S., Imran, M., & Anggrainy, N. E. (2023). Eksistensi ibadah terhadap kesehatan mental (Telaah terhadap tafsir Al-Misbah). Jurnal Interdisiplin Sosiologi Agama (JINSA), 3(2), 91–108. https://ejournal.iain-manado.ac.id/jinnsa/article/view/795
Burhanuddin, C. (2025). PENDIDIKAN KESEHATAN MENTAL: Kisah Ulul Azmi Dalam Al Qur’an. Al-Tadabbur: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir, 10(02), 415-428. https://doi.org/10.30868/at.v10i02.9386
Fajrussalam, H., Hasanah, I. A., Asri, N. O. A., & Anaureta, N. A. (2022). Peran Agama Islam bagi Kesehatan Mental Mahasiswa. Al-Fikri: Jurnal Studi Dan Penelitian Pendidikan Islam, 5(1), 22-36.
Khatimah, H., & Aziza, N. (2022). ANALISIS AL-QUR’AN TERHADAP MENTAL HEALTH ORANG TUA:(Fenomena Tindakan Orang Tua Terhadap Pembunuhan Anak Di Indonesia Pada Bulan Maret-April 2022). Al-Furqan: Jurnal Agama, Sosial, dan Budaya, 1(3), 21-35. https://doi.org/10.35931/alfurqan.v1i3.3
Khairanis, R., & Aldi, M. (2024). Interpretasi Makna Hadits-Hadits Kesehatan Mental Dalam Mengatasi Stres dan Kecemasan: Perspektif Psikologi Islam. Journal Central Publisher, 2(2), 1637–1647. https://doi.org/10.60145/jcp.v2i2.347
Nasution, R., Lubis, J. A., Putri, S. A., Adella, W. A., Muslim, G. Z., & Mental, K. (2024). Peran Ibadah Dalam Mengatasi Kecemasan Dan Depresi Dikalangan Gen-Z Beragama Islam. Jurnal Review Pendidikan Dan Pengajaran (JRPP), 7(4), 14556-14561.https://journal.universitaspahlawan.ac.id/index.php/jrpp/article/download/35720/23536/118425
Prananda, A. R., Ramadhani, D., Meliala, N. A. S., Sirait, P. S. R., & Lyza, S. N. (2025). Hubungan Antara Ibadah Dengan Kesehatan Mental Remaja Dalam Praktek Keagamaan Untuk Meningkatkan Kesejahteraan Mental. Jurnal Penelitian Nusantara, 1(7), 48-50. https://doi.org/10.59435/menulis.v1i7.503
Namiroh, A. I., Salsabila, U., Sari, D. A. F., Oktoviani, T. T., Labibah, N., & Rusdi, A. (2023). Edukasi Hubungan Kesehatan Mental dengan Iman Webinar “Low Mental State= Low Faith?”. Jurnal PKM Pengabdian Kepada Masyarakat, 6(1), 38-47. http://dx.doi.org/10.30998/jurnalpkm.v6i1.8396
Setiawan, H., Solikhina, I., & Nada, U. N. M. (2022). Kontribusi Agama Dalam Kesehatan Mental. Aktualita: Jurnal Penelitian Sosial Keagamaan, 12(1). https://doi.org/10.54459/aktualita.v12i1.395
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
