Ketika Harga Naik, Siapa yang Paling Diam?
Lainnnya | 2026-03-03 23:48:19
Kenaikan harga sering kali diumumkan lewat angka: persentase inflasi, grafik ekonomi, perbandingan kuartal. Tapi di balik angka-angka itu, ada cerita yang jarang terdengar. Cerita tentang keluarga yang mulai mengurangi lauk, pedagang kecil yang menimbang ulang harga jualnya, dan pekerja harian yang memilih diam karena merasa tak punya pilihan.
Setiap kali harga bahan pokok naik, respons pertama biasanya datang dari kelas menengah—ramai di media sosial, membandingkan harga lama dan baru. Namun kelompok yang paling terdampak justru sering kali paling sunyi. Mereka tidak punya ruang untuk mengeluh panjang. Fokus mereka sederhana: bagaimana besok tetap bisa makan.
Pedagang kecil berada di posisi serba salah. Jika harga dinaikkan, pelanggan berkurang. Jika tidak dinaikkan, margin keuntungan semakin tipis. Dalam kondisi seperti ini, banyak usaha kecil bertahan bukan karena untung besar, melainkan karena tidak punya alternatif lain.
Fenomena ini menunjukkan bahwa ekonomi bukan sekadar urusan kebijakan atau pasar global. Ia hidup di dapur rumah tangga, di warung pinggir jalan, dan di pasar tradisional. Ketika harga naik, yang berubah bukan hanya angka di label barang, tetapi juga pola makan, kualitas hidup, bahkan kesehatan masyarakat.
Pertanyaannya kemudian bukan hanya “kenapa harga naik?”, melainkan “bagaimana sistem melindungi mereka yang paling rentan?”. Tanpa perlindungan sosial yang kuat, kenaikan harga akan selalu menjadi beban yang tidak terbagi rata.
Ekonomi yang sehat seharusnya bukan hanya tentang pertumbuhan, tetapi tentang ketahanan bersama. Tentang memastikan bahwa ketika badai datang, tidak ada yang dibiarkan berdiri sendirian.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
