Bukit Qurma: Ruh, Tubuh, dan Empat Pohon Keteladanan
Agama | 2026-03-03 05:05:00Oleh : Muliadi Saleh
Bukit Qurma bukan sekadar nama sebuah tempat. Ia adalah simbol yang disusun dari makna. Akronin dari Quran- Masjid (QURMA). Qur’an adalah ruh, Masjid sebagai tubuh. Ruh memberi arah, tubuh memberi gerak. Tanpa ruh, tubuh hanyalah rangka yang kaku. Tanpa tubuh, ruh tak menjelma dalam kenyataan.
Namun nama Bukit Qurma juga karena ada tanaman kurma yang tumbuh di atasnya. Kurma adalah simbol ketahanan dan keberkahan di tengah kegersangan. Ada empat pohon yang berdiri tegak—perlambang empat Khulafā’ ar-Rāsyidīn: Abu Bakar, Umar, Uthman, dan Ali.
Empat karakter, satu akar tauhid. Abu Bakar dengan kelembutan imannya, Umar dengan ketegasan keadilannya, Utsman dengan kedermawanannya, dan Ali dengan kedalaman ilmunya. Seperti pohon, mereka berbeda corak, tetapi tumbuh dari tanah yang sama.
Masjid tanpa Qur’an ibarat tubuh tanpa ruh. Qur’an tanpa masjid ibarat cahaya tanpa ruang pantul. Jika manusia mengabaikan Qur’an, arah hidup menjadi kabur. Bangunan boleh megah, aktivitas boleh ramai, tetapi jiwa peradaban menjadi rapuh.
Bukit Qurma mengajarkan bahwa kehidupan harus ditopang oleh ruh wahyu dan tubuh ibadah, oleh keteladanan para sahabat dan kerendahan sujud. Di situlah keseimbangan lahir—dan manusia menemukan kembali maknanya.
Pasangkayu, 13 Ramadhan 1447 H-3 Maret 2026
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
