Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Muliadi Saleh

Iklim adalah Ayat Tuhan: Mengapa Manusia Gagal Membacanya?

Litera | 2026-03-09 21:45:25

Penulis: Muliadi Saleh – Esais Reflektif dan Arsitek Kesadaran

Kata sering kali menyimpan sejarah panjang yang tak segera tampak di permukaannya. Demikian pula kata iklim. Ia bukan sekadar istilah yang kita dengar dalam laporan cuaca atau diskusi ilmiah tentang pemanasan global. Di baliknya tersimpan jejak panjang peradaban manusia dalam memahami hubungan antara bumi, langit, dan kehidupan.

Secara etimologis, kata iklim berasal dari bahasa Arab إقليم (iqlīm), yang pada masa klasik merujuk pada wilayah geografis yang memiliki karakter alam tertentu—perbedaan suhu, musim, tanah, dan pola kehidupan manusia. Para ilmuwan Muslim menggunakan istilah ini untuk menjelaskan pembagian bumi ke dalam zona-zona geografis yang dipengaruhi oleh posisi matahari dan kondisi alam.

Namun akar kata ini lebih tua lagi. Ia berasal dari bahasa Yunani κλίμα (klíma), yang berarti “kemiringan.” Kemiringan bumi terhadap matahari itulah yang melahirkan musim, variasi suhu, serta perbedaan kehidupan di berbagai belahan dunia. Dari sebuah konsep astronomi sederhana—kemiringan bumi—lahirlah pemahaman besar tentang keseimbangan alam semesta.

Ilmuwan besar dalam tradisi Islam seperti Al-Biruni dan Al-Idrisi mengembangkan konsep ini dalam ilmu geografi. Mereka membagi dunia ke dalam beberapa aqālīm—zona iklim—yang memengaruhi budaya, ekonomi, bahkan karakter masyarakat. Dalam pandangan mereka, iklim bukan sekadar cuaca, melainkan bagian dari jaringan besar yang menghubungkan kosmos dengan kehidupan manusia.

Ironisnya, dalam percakapan publik modern, kata iklim sering terdengar jauh dan teknokratis. Ia hadir dalam grafik, laporan ilmiah, atau perundingan internasional. Di ruang redaksi media, isu iklim pun sering muncul hanya ketika bencana terjadi—banjir, kebakaran hutan, atau badai. Setelah itu ia kembali tenggelam dalam hiruk pikuk berita politik dan ekonomi.

Padahal iklim bukan sekadar peristiwa. Ia adalah ritme panjang kehidupan bumi.

Dalam perspektif spiritual, ritme itu bukanlah kebetulan. Kitab suci memandang alam sebagai sistem yang dibangun dengan keseimbangan. Al-Qur’an menyebutnya mīzān—tatanan harmoni yang menjaga langit, bumi, dan seluruh makhluk tetap berada dalam keseimbangan.

Ketika keseimbangan itu terganggu, bukan hanya alam yang terluka. Peradaban manusia pun ikut goyah.

Dalam Al-Qur’an, manusia disebut sebagai khalifah di bumi, penjaga yang diberi tanggung jawab untuk merawat ciptaan. Amanah ini bukan sekadar tugas ekologis, tetapi juga panggilan moral. Alam bukan sekadar sumber daya yang dapat dieksploitasi tanpa batas, melainkan bagian dari tanda-tanda Tuhan di jagat raya—ayat-ayat kauniyah yang mengajak manusia untuk berpikir, bersyukur, dan menjaga.

Dari sudut pandang ini, krisis iklim yang kita hadapi hari ini dapat dibaca sebagai cermin dari cara manusia memperlakukan bumi. Hutan yang hilang, laut yang tercemar, udara yang menghangat—semuanya bukan hanya persoalan teknis, melainkan juga pertanyaan etis: sejauh mana manusia masih setia pada amanahnya sebagai penjaga bumi.

Mungkin karena itulah kata iklim terasa begitu dalam maknanya. Ia lahir dari gagasan tentang kemiringan bumi terhadap matahari, berkembang menjadi konsep ilmiah tentang sistem atmosfer, lalu kembali kepada kesadaran spiritual tentang keseimbangan kehidupan.

Pada akhirnya, iklim bukan sekadar istilah ilmiah. Ia adalah bahasa alam—cara bumi berbicara kepada manusia. Dan di dalam bahasa itu tersimpan sebuah pesan yang sederhana namun mendalam: bahwa kehidupan hanya dapat bertahan ketika keseimbangan dijaga, dan ketika manusia mengingat kembali amanahnya sebagai penjaga bumi.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image