Fenomena War Takjil Saat Ramadhan: Seru, Tapi Perlu Bijak
Gaya Hidup | 2026-02-27 22:38:46
Setiap sore menjelang waktu berbuka puasa, suasana di pinggir jalan selalu berubah jadi lebih ramai dari biasanya. Penjual takjil berjejer, pembeli berdatangan, dan suasananya terasa hidup. Orang-orang sibuk memilih gorengan, es buah, kolak, sampai aneka jajanan manis lainnya. Momen seperti ini sering disebut sebagai “war takjil”.
Istilah “war” sebenarnya cuma menggambarkan betapa ramainya suasana. Banyak orang datang lebih awal karena takut kehabisan. Ada juga yang memang sengaja berburu takjil favorit setiap hari selama Ramadhan. Rasanya seperti ada keseruan tersendiri yang cuma muncul setahun sekali.
Fenomena ini tentu membawa dampak positif. Banyak pedagang musiman bermunculan dan mendapatkan penghasilan tambahan. Ramadhan jadi momen yang menggerakkan ekonomi kecil, terutama bagi UMKM dan penjual kaki lima. Perputaran uang meningkat, dan peluang usaha terbuka meskipun sifatnya sementara.
Namun di balik keseruan itu, ada hal yang sering luput dari perhatian. Tidak jarang kita membeli makanan dalam jumlah banyak karena lapar mata. Semua terlihat enak saat menjelang berbuka, padahal belum tentu habis dimakan. Akhirnya, makanan tersisa dan terbuang. Hal kecil seperti ini bisa menjadi pengingat bahwa Ramadhan bukan hanya tentang ramainya suasana, tetapi juga tentang belajar menahan diri.
War takjil memang menjadi warna tersendiri dalam suasana Ramadhan. Tidak ada yang salah dengan menikmatinya, selama tetap bijak dalam memilih dan tidak berlebihan. Dengan begitu, keseruan tetap terasa, manfaat ekonomi tetap berjalan, dan makna Ramadhan pun tidak hilang.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
