Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Endang Rosdiana

Internalisasi Ihsan dalam Kurikulum Ramadhan

Agama | 2026-02-27 12:35:12
Kurikulum Ihsan Ramadhan
Kurikulum Ihsan Ramadhan

بِسۡمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحۡمَٰنِ ٱلرَّحِيم

Dan tidaklah engkau berada dalam suatu keadaan, dan tidaklah engkau membaca suatu ayat dari Al-Qur’an, dan tidak pula kamu mengerjakan suatu pekerjaan, melainkan Kami menjadi saksi atasmu ketika kamu melakukannya ”(QS. Yunus: 61)

Ramadhan bukan sekadar bulan menahan lapar dan dahaga, bukan pula hanya musim ibadah tahunan yang datang lalu pergi. Lebih dari itu, Ramadhan adalah kurikulum Ilahiyah yang Allah SWT tetapkan secara khusus untuk mendidik orang-orang beriman agar naik kelas menjadi insan yang lebih unggul, dengan prestasi puncaknya berupa taqwa.

Ramadhan sejatinya adalah madrasah tahunan, tempat orang beriman ditempa, diuji, dan dibentuk karakternya agar semakin dekat kepada Allah SWT. Pertanyaannya, apa inti dari proses pendidikan tersebut? Salah satu jawabannya terletak pada firman Allah SWT dalam QS. Yunus ayat 61, seperti tertulis di awal tulisan ini.

Ayat tersebut menegaskan bahwa seluruh aktivitas manusia berada dalam pengawasan Allah SWT. Keadaan batin, ucapan lisan, hingga perbuatan lahir, tidak ada satu pun yang luput dari pandangan-Nya. Jika ayat ini dijadikan sebagai esensi kurikulum Ramadhan, maka Ramadhan sesungguhnya adalah bulan pelatihan kesadaran Ilahiyah (murâqabah): hidup dengan perasaan selalu berada dalam tatapan Allah SWT.

Inilah yang dalam Islam disebut sebagai ihsan, sebagaimana dijelaskan oleh Rasulullah SAW dalam hadits Jibril:Ihsan adalah engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya. Jika engkau tidak melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu.” (HR. Muslim)

Ramadhan menjadi sangat efektif sebagai madrasah ihsan karena puasa adalah ibadah yang nyaris tidak dapat diawasi manusia. Orang bisa berpura-pura berpuasa di hadapan manusia, tetapi tidak di hadapan Allah SWT. Dari sinilah Ramadhan mendidik kejujuran terdalam: taat bukan karena dilihat manusia, tetapi karena sadar dilihat Allah SWT. Puasa melatih hati agar selalu menghadirkan Allah SWT dalam setiap keadaan.

Jika kesadaran merasa ditatap oleh Allah SWT ini benar-benar hidup dalam diri seorang mukmin, maka seluruh perilakunya akan terjaga. Lisannya akan berhati-hati karena sadar Allah SWT selalu menyaksikan ucapannya. Pandangannya akan tertunduk karena sadar Allah SWT selalu menatap matanya. Tangannya akan terjaga karena sadar Allah SWT selalu mencatat perbuatannya. Bahkan hatinya pun akan dibersihkan, karena ia yakin bahwa Allah SWT mengetahui apa yang tersembunyi di dalam dada.

Kurikulum Ramadhan tidak hanya berbentuk puasa. Ia dilengkapi dengan tilawah Al-Qur’an, qiyamul lail, doa, dzikir, serta zakat dan sedekah. Semua ini sejatinya adalah sarana untuk menumbuhkan satu kesadaran utama: hidup dalam tatapan Allah SWT.

Inilah jalan menuju taqwa. Sebab taqwa bukan hanya rasa takut kepada Allah SWT, tetapi kesadaran terus-menerus bahwa Allah SWT melihat, mendengar, dan mengetahui segala sesuatu. Dari kesadaran itulah lahir kehati-hatian dalam hidup, konsistensi dalam ketaatan, dan keteguhan menjauhi maksiat. Maka sangat tepat jika dikatakan bahwa: taqwa adalah buah dari ihsan yang dilatih sepanjang Ramadhan.

Orang yang berhasil menempuh “tarbiyah Ramadhan” dengan kurikulum QS. Yunus: 61 akan berubah bukan hanya selama Ramadhan, tetapi juga setelahnya. Ia tetap jujur meski sendiri, tetap lurus meski tidak diawasi manusia, dan tetap takut berbuat dosa meski peluang terbuka. Jika tidak ada perubahan setelah Ramadhan, boleh jadi kita telah hadir di madrasah Ramadhan, namun belum sungguh-sungguh menyerap kurikulumnya.

Karena itu, Ramadhan seharusnya dipahami sebagai momentum transformasi, bukan sekadar rutinitas tahunan. Ia adalah kesempatan emas untuk melatih diri hidup dalam pengawasan Allah SWT, hingga terbentuk pribadi yang beribadah bukan karena kebiasaan, tetapi karena kesadaran; bukan karena tekanan, tetapi karena keyakinan.

Akhirnya, Ramadhan mengajarkan kepada kita bahwa keunggulan sejati bukan diukur dengan prestasi dunia semata, tetapi dengan kualitas hubungan dengan Allah SWT. Kurikulumnya adalah ibadah, porosnya adalah ihsan, dan target kelulusannya adalah taqwa.

Sahabat

Selamat menjalankan ibadah Ramadhan dengan khusyuk, semoga Allah SWT menganugerahkan kepada kita kemampuan dan keistiqomahan untuk mengikuti seluruh proses tarbiyah Ramadhan ini secara komprehensif hingga akhir, sehingga tujuan pembentukan taqwa dapat terwujud dalam diri kita.

آمِيْن يَا مُجِيْبَ السَّائِلِيْنَ

وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image