Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Rizki Wahyu P

High Voltage Spirituality: Kilat Kebaikan di Malam Lailatul Qadar

Agama | 2026-02-26 13:35:24

Dalam laboratorium Tegangan Tinggi, kita sering menyaksikan fenomena breakdown atau tembus listrik. Ketika tegangan dinaikkan melampaui ambang batas kekuatan isolasi, terjadi pelepasan muatan kilat yang dahsyat. Cahayanya terang, energinya besar, dan terjadi dalam sepersekian detik.

Sepuluh malam terakhir Ramadan adalah fase Tegangan Tinggi Spiritual. Puncaknya adalah Lailatul Qadar—sebuah "lonjakan energi" Ilahi yang nilainya lebih baik dari seribu bulan.

1. Menjaga Kekuatan Isolasi (Insulation Strength) Energi besar membutuhkan proteksi yang tangguh. Semakin tinggi intensitas ibadah (tegangan) yang kita kejar, semakin kuat pula godaan yang menerjang. Di sini, kesabaran dan keikhlasan berfungsi sebagai Isolator. Jika isolasi diri kita retak karena pamer (riya) atau amarah, maka akan terjadi "arus bocor" yang membuat pahala kita grounded sebelum sampai ke tujuan.

2. Fenomena Corona Spiritual Sebelum terjadi kilat (Lailatul Qadar), biasanya muncul fenomena Corona—pendaran cahaya halus akibat ionisasi udara di sekitar konduktor bertegangan tinggi. Dalam ibadah, ini adalah getaran-getaran kebaikan kecil yang mulai tampak: lisan yang lebih terjaga, hati yang lebih lembut, dan air mata saat bersujud. Ini adalah pertanda bahwa "sistem" jiwa kita sudah siap menerima pelepasan muatan energi yang lebih besar.

3. Momen Discharge: Cahaya di Atas Cahaya Lailatul Qadar adalah momen discharge total. Langit seolah "melepaskan" rahmat-Nya ke bumi tanpa hambatan. Namun, hanya konduktor yang bersih dan sistem yang sudah terkalibrasi dengan taubat yang mampu menangkap energi raksasa ini tanpa merusak instalasi jiwanya.

Kesimpulan Mengejar Lailatul Qadar bukan sekadar begadang, melainkan memastikan sistem spiritual kita berada pada level High Voltage yang stabil. Jangan biarkan terjadi flashover (kegagalan) tepat di garis finis. Mari persiapkan "instalasi" diri agar mampu menampung pancaran cahaya seribu bulan tersebut.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image