Kiamat Asghar dan Rahasia Umur: Mengapa Ramadhan Harus Jadi Bulan Evaluasi
Agama | 2026-02-23 21:00:06Senin (23/2/2026), jamaah Masjid Babussalam di Kelurahan Wawombalata tampak khusyuk menjalankan ibadah salat Isya dan tarawih. Di bawah bimbingan imam Muh. Al Rafi, suasana spiritual terasa kian kental saat Dr. Muh. Ikhsan, S.Ag., M.Ag., menaiki mimbar untuk menyampaikan pesan-pesan langit tentang pentingnya menata hati melalui jalan muhasabah.
Dalam tausiyahnya, Dr. Muh. Ikhsan mengingatkan bahwa kehadiran setiap hamba di bulan suci tahun ini merupakan anugerah besar yang lahir dari rentetan doa yang dipanjatkan sejak Syawal hingga Rajab. Ramadan, menurut beliau, adalah madrasah untuk melakukan audit spiritual atau introspeksi diri secara mendalam. Ia mengutip wasiat Umar bin Khattab agar umat manusia menghisab diri sendiri sebelum amal mereka dihisab di hadapan Allah, karena kemudahan di hari kiamat hanya milik orang-orang yang gemar mengoreksi diri selama di dunia.
Mengambil hikmah dari pemikiran Buya Hamka, Ikhsan mengajak jamaah untuk memeriksa konsistensi ibadah mereka, mulai dari kualitas salat malam hingga interaksi dengan Al-Qur'an. Landasan ini berpijak pada Surah Al-Hasyr ayat 18 yang memerintahkan setiap mukmin untuk mempersiapkan bekal terbaik bagi hari esok. Ia menegaskan bahwa orang yang paling beruntung adalah mereka yang sibuk membenahi aib sendiri dan tidak merasa cukup dengan amal kebaikannya, sebagai bentuk kesadaran akan batas umur manusia yang menjadi rahasia Allah.
Perjalanan menuju derajat takwa, sebagaimana termaktub dalam Surah Ali Imran ayat 17, digambarkan melalui lima karakter utama: sabar, jujur, istiqamah dalam ibadah, gemar berinfaq, dan mampu menahan amarah. Ikhsan sempat mengenang bagaimana didikan orang tua zaman dulu yang lebih mengutamakan teladan praktik daripada sekadar teori, seperti tradisi membiasakan anak-anak mengisi kotak amal masjid. Nilai-nilai ini menjadi benteng bagi umat untuk tetap teguh beribadah, sebagaimana konsistensi yang telah teruji saat melewati masa sulit pandemi beberapa tahun silam.
Sebagai pesan penutup yang menggetarkan jiwa, ia memaparkan makna Surah Yasin ayat 65 tentang hari di mana seluruh anggota tubuh akan bersaksi secara jujur. Beliau menganalogikan tubuh sebagai 'CCTV' Ilahi yang merekam setiap aktivitas tanpa bisa disuap. Ikhsan pun mengajak jamaah untuk bersahabat dengan tubuh mereka melalui ketaatan dan kebiasaan membaca Al-Qur'an, meski hanya lima ayat setiap waktu. Baginya, kebaikan yang dipupuk selama Ramadan adalah kunci untuk meraih akhir kehidupan yang mulia atau husnul khatimah.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
