Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Kang Lahudin

Taqwa Melahirkan Furqan

Agama | 2026-02-22 22:05:26

بِسْمِ اللهِ، والْحَمْدُ للهِ، الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ، وَعَلَى اٰلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالَاهُ

Alhamdulillāh, segala puji bagi Allah Subhānahu wa Ta‘ālā yang masih mempertemukan kita dengan bulan suci Ramadhan, bulan tarbiyah iman, bulan penyucian jiwa, dan bulan peningkatan taqwa. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad Shallallāhu ‘alaihi wasallam, keluarga, sahabat, dan seluruh pengikutnya hingga akhir zaman.

Jamaah Ramadhan yang dimuliakan Allah,

Di bulan yang penuh keberkahan ini, kita tidak sekadar menahan lapar dan dahaga. Allah telah menegaskan tujuan utama puasa dalam QS. Al-Baqarah: 183, yaitu “la‘allakum tattaqūn” — agar kamu menjadi orang-orang yang bertaqwa. Maka Ramadhan sejatinya adalah madrasah taqwa.

Namun pertanyaannya: apa buah dari taqwa itu?Jawabannya terdapat dalam firman Allah pada QS. Al-Anfal ayat 29.

Taqwa Melahirkan Furqān

Allah berfirman:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِنْ تَتَّقُوا اللّٰهَ يَجْعَلْ لَّكُمْ فُرْقَانًا وَّيُكَفِّرْ عَنْكُمْ سَيِّاٰتِكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْۗ وَاللّٰهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيْمِ

“Wahai orang-orang yang beriman, jika kamu bertaqwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan kepadamu furqān, menghapus kesalahan-kesalahanmu, dan mengampuni dosa-dosamu. Dan Allah mempunyai karunia yang besar.”(QS. Al-Anfal: 29)

Ayat ini menunjukkan hubungan langsung antara taqwa dan furqān.

Para ulama tafsir menjelaskan makna furqān secara mendalam:

Dalam Tafsir Ibnu Katsir, furqān diartikan sebagai cahaya dalam hati yang dengannya seseorang mampu membedakan antara kebenaran dan kebatilan.

Dalam Jāmi‘ al-Bayān karya Imam Ath-Thabari, furqān juga dimaknai sebagai jalan keluar dan pertolongan Allah dalam menghadapi persoalan hidup.

Imam Al-Qurthubi menambahkan bahwa furqān adalah keteguhan hati dan kekuatan hujjah dalam menegakkan kebenaran.

Artinya, ketika seseorang bertaqwa, Allah tidak hanya memberinya pahala, tetapi juga kejernihan berpikir, ketajaman nurani, dan ketegasan sikap.

Relevansi di Bulan Ramadhan Saat Ini

Jamaah yang dirahmati Allah,

Kita hidup di zaman yang penuh informasi, tetapi minim verifikasi. Zaman yang penuh opini, tetapi miskin hikmah. Zaman yang cepat menilai, tetapi lambat merenung.

Di media sosial, kebenaran sering bercampur dengan kebohongan. Dalam kehidupan sosial, kepentingan sering disamarkan sebagai kebaikan. Dalam dunia kerja dan politik, integritas sering dikalahkan oleh ambisi.

Di sinilah kita membutuhkan furqān.

Ramadhan melatih kita menahan diri. Ketika tidak ada yang melihat, kita tetap tidak makan dan minum. Mengapa? Karena kita sadar Allah melihat. Inilah inti taqwa.

Jika latihan ini berhasil, maka setelah Ramadhan kita memiliki furqān :

Tidak mudah terprovokasi

Tidak mudah menyebarkan hoaks

Tidak mudah tergoda korupsi

Tidak mudah tergelincir pada riya’ dan popularitas

Taqwa bukan hanya ibadah ritual, tetapi membentuk karakter moral.

Tiga Anugerah Bagi Orang Bertaqwa

Dalam QS. Al-Anfal ayat 29 disebutkan tiga karunia:

Furqān (Kejernihan Membeda)

Kemampuan menilai sesuatu dengan neraca wahyu, bukan sekadar emosi atau kepentingan.

Penghapusan Kesalahan

Kesalahan kecil yang tidak disengaja dihapuskan karena taqwa menjaga hati tetap hidup.

Ampunan Dosa

Allah membuka pintu maghfirah seluas-luasnya di bulan Ramadhan.

Inilah sebabnya Rasulullah bersabda:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Barangsiapa berpuasa Ramadhan dengan iman dan penuh pengharapan pahala, diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.”(HR. Bukhari dan Muslim)

Ramadhan adalah momentum penghapusan dosa sekaligus pembentukan furqān.

Bagaimana Meraih Furqān di Ramadhan?

Agar taqwa kita tidak hanya slogan, ada beberapa langkah konkret:

Menghidupkan Al-Qur’an

Karena Al-Qur’an sendiri disebut sebagai furqān (QS. Al-Furqan: 1).

Menjaga hati dari dosa tersembunyi

Seperti riya’, hasad, dan kebencian.

Meningkatkan kejujuran dalam amal

Baik dalam pekerjaan, keluarga, maupun aktivitas sosial.

Mengendalikan lisan dan jari

Di era digital, dosa lisan berpindah ke tulisan dan unggahan.

Jamaah yang dimuliakan Allah,

Ramadhan bukan sekadar rutinitas tahunan. Ia adalah proses pendidikan ruhani. Jika setelah Ramadhan kita tetap mudah marah, mudah menipu, mudah menyebarkan keburukan, maka kita belum mendapatkan furqān.

Mari jadikan Ramadhan tahun ini sebagai titik balik. Bukan hanya memperbanyak ibadah, tetapi memperkuat taqwa. Bukan hanya memperindah tilawah, tetapi memperjelas arah hidup.

Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba yang bertaqwa, yang diberi furqān, dihapuskan kesalahannya, dan diampuni dosa-dosanya.

Āmīn yā Rabbal ‘ālamīn.

Wallahu a’lam bish-shawab.

*Materi ini disampaikan pada Kultum Ramadhan pada hari Sabtu, 4 Ramadhan 1447 H / 21 Februari 2026, bertempat di Masjid Nurul Jihad, Kalibaru - Cilincing, Jakarta Utara.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image