Tadabbur Ramadhan (047) Dunia yang Membuat Kita Lalai
Khazanah | 2026-03-04 02:41:45Ada saatnya hidup terasa begitu cepat.
Pagi dipenuhi target. Siang dikejar tenggat. Malam datang dengan tubuh lelah, tetapi pikiran belum juga selesai menghitung urusan esok hari.
Semua tampak produktif. Namun diam-diam, hati bisa kehilangan arah.
Allah telah menegaskan bahwa tujuan penciptaan manusia tidak lain adalah untuk beribadah kepada-Nya (QS. Adz-Dzariyat: 56). Artinya, seluruh aktivitas hidup—pekerjaan, usaha, bahkan ambisi—semestinya bermuara pada penghambaan.
Namun dunia sering hadir dengan wajah yang memikat. Ia tidak selalu datang dalam bentuk maksiat yang jelas, tetapi justru dalam kesibukan yang terasa wajar dan bahkan terhormat. Kita sibuk bekerja. Sibuk mengejar target. Sibuk memikirkan hal-hal kecil. Hingga tanpa terasa, tujuan besar menjadi kabur.
Al-Qur’an mengingatkan bahwa kehidupan dunia pada hakikatnya hanyalah permainan, senda gurau, perhiasan, serta ajang saling berbangga dan berlomba dalam harta dan keturunan (QS. Al-Hadid: 20). Bukan berarti dunia harus ditinggalkan, tetapi ia tidak boleh menjadi pusat orientasi hati.
Rasulullah ﷺ mengingatkan dengan sangat tegas:
“Demi Allah, bukanlah kemiskinan yang aku khawatirkan atas kalian. Tetapi aku khawatir dunia akan dibentangkan untuk kalian sebagaimana telah dibentangkan untuk orang-orang sebelum kalian, lalu kalian berlomba-lomba mengejarnya sebagaimana mereka berlomba-lomba, hingga ia membinasakan kalian sebagaimana ia membinasakan mereka.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Betapa peringatan ini terasa dekat dengan realitas kita hari ini.
Ramadhan hadir seperti alarm tahunan. Ia mengajarkan kembali bahwa manusia itu lemah. Lapar dan dahaga bukan sekadar menahan fisik, tetapi menundukkan ego. Tilawah bukan hanya soal khatam, tetapi tentang menghidupkan kembali hati yang mulai keras.
Memasuki pekan kedua, ujian itu semakin terasa. Semangat awal perlahan menurun. Kesibukan dunia kembali mendesak. Di sinilah pertanyaan itu menjadi penting:
Apakah ruh ibadah masih kita jaga?
Ataukah kita mulai kembali tenggelam?
Allah pernah mengingatkan bahwa sebelum kita lahir ke dunia, setiap jiwa telah bersaksi mengakui-Nya sebagai Rabb (QS. Al-A’raf: 172). Itu adalah janji yang agung. Janji tauhid. Janji kesetiaan.
Dan janji itu tidak pernah kedaluwarsa.
Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata,
"Dunia itu hanyalah tiga hari: kemarin yang telah berlalu, esok yang belum tentu engkau jumpai, dan hari ini yang ada di tanganmu. Maka beramallah pada hari ini."
Ramadhan mengajarkan satu prinsip sederhana namun mendalam: dunia boleh ada di tangan, tetapi jangan sampai ia menetap di hati.
Sebelum Ramadhan berlalu, mari berhenti sejenak.
Periksa kembali arah langkah dan orientasi jiwa.
Apakah kita masih menjadikan Allah sebagai tujuan?
Ataukah dunia perlahan telah menggantikannya?
Semoga kita termasuk hamba yang ketika diingatkan, ia kembali.
Ketika lalai, ia segera tersadar.
Dan ketika dunia membentang luas di hadapannya, ia tetap teguh memegang janji iman.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
