Belajar Parenting dari Film Na Willa
Parenting | 2026-04-14 10:33:35
Sebagai seorang anak usia dewasa yang belum menikah, menonton film Na Willa rasanya bukan sekedar hiburan, melainkan sebuah sesi belajar tentang dinamika pendidikan dalam sebuah keluarga. Film ini mengingatkan aku bahwa sebelum seorang anak melangkah keluar menemui dunia, rumah adalah ekosistem pertama yang membentuk warna intelektual, moral, dan karakternya. Terutama sosok Ibu, yang menjadi guru dan pendidik utama di balik kokohnya pondasi tersebut.
Ada satu adegan yang sangat membekas di kepalaku, saat Na Willa membongkar radio Erros karena rasa ingin tahunya yang begitu besar terhadap asal suara di dalamnya. Bayangkan, ia membongkarnya saat kabel masih tersambung listrik! Tentu saja, Ibu Marrie marah—sebuah amarah yang logis demi keselamatan. Namun, yang membuatku kagum adalah bagaimana beliau mampu mengendalikan amarah itu menjadi ruang belajar. Beliau tidak memutus rasa ingin tahu Na Willa, melainkan mengarahkannya dengan menjelaskan asal suara orang menyanyi dan bercakap-cakap yang didengarnya itu dari stasiun RRI yang disalurkan melalui gelombang radio lewat udara, sembari memperlihatkan isi radio tersebut, yang ternyata tidak ada orang di sana, melainkan hanya terdapat kabel-kabel dan lampu-lampu saja.
Dari situ aku belajar, pendidikan bukan soal teori, tapi soal keteladanan dan tanggung jawab. Ibu Marrie meminta Na Willa memasang kembali radio itu. Na Willa menolak dibantu meski ia tahu itu sulit, ia malu karena telah membongkarnya, maka ia harus menanggung konsekuensi memasangnya kembali sendiri. Karakter kejujuran dan tanggung jawab seperti inilah yang harus disemai sejak dini. Kita juga sering menuntut anak kecil untuk berkata jujur, tapi tanpa sadar kita mencontohkan kebohongan kecil seperti janji besok akan dibelikan yang tidak pernah ada besoknya. Integritas seorang anak juga dibangun dari keberanian kita sebagai orang tua untuk meminta maaf saat kita salah, agar mereka belajar bahwa meminta maaf bukanlah sebuah kekalahan, melainkan sebuah bentuk kebenaran.
Mendidik memang butuh segudang kasih sayang tanpa batas, tapi kasih sayang juga bukan berarti pembiaran. Ada saatnya ketegasan diperlukan meski harus ada air mata, karena kasih sayang yang buta hanya akan menjauhkan anak dari realita dunia. Tugas kita bukan mengekang atau menjauhkan mereka dari hal-hal yang mungkin menyakitkan, melainkan menemani mereka melihat dunia apa adanya. Dari situlah pembelajaran hidup yang sesungguhnya dimulai. Termasuk menanamkan budaya cinta ilmu, membiasakan buku sejak dini hingga mereka merasa bahwa hadiah terbaik adalah sebuah buku, bukan sekadar mainan.
Di balik semua proses belajar itu, film ini juga menyentuh sisi emosional tentang kehadiran seorang Ayah di dalam sebuah keluarga. Meski raga mungkin merantau jauh demi mencari nafkah, peran Ayah Na Willa tetap bisa hadir lewat buku-buku yang dikirimkan dan keterlibatannya dalam setiap keputusan penting yang harus diambil oleh Ibu Marrie. Aku menyadari, sepintar dan setegar apa pun seorang wanita, ia tetap butuh laki-laki sebagai teman diskusi untuk menyelaraskan logika di tengah perasaan yang sering kali mendominasi. Pendidikan adalah proyek bersama antara Ayah dan Ibu.
Terakhir, keluarga Na Willa juga mengajarkan bahwa rumah akan benar-benar menjadi ruang teraman bagi seorang anak saat orang tua tidak ragu memperlihatkan keromantisan dan keharmonisan di depan anak mereka. Dengan melihat kasih sayang yang nyata di rumah, seorang anak akan tumbuh dengan perasaan cukup. Film ini bukan hanya memberiku pelajaran tentang parenting, tapi juga kepada bagaimana aku harus mulai menanamkan nilai-nilai itu di dalam diriku hari ini. Sebab, sebelum membangun rumah bagi orang lain, aku harus bisa menjadi rumah yang nyaman untuk diriku sendiri.
_catatanpulang
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
