Menggemakan La Ilaha Illallah
Agama | 2026-02-22 05:21:07Menggemakan La Ilaha Illallah.
Pandangan kami mengenai menggumamkan (dzikir) La ilaha illallah setiap saat, terutama di bulan Ramadhan, dipandang sebagai metode utama dalam menyucikan hati (tazkiyatun nafs), merawat cinta Ilahi, dan mencapai tingkat ihsan (merasa diawasi Allah).
Dalam tradisi Sufi, Ramadhan adalah waktu emas untuk meningkatkan intensitas zikir dari sekedar lisan menuju zikir qalb (hati) hingga mencapai fana (leburnya kehendak diri dalam kehendak Allah).
Berikut adalah dalil Al-Qur'an, Hadis, dan pandangan ulama sufisme pendukungnya:
Dalil Al-Qur'anPerintah Berdzikir Tanpa Batas Waktu:
"Wahai orang-orang yang beriman, berdzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, dzikir yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepada-Nya di waktu pagi dan petang." (QS. Al-Ahzab: 41-42).
Tujuan Dzikir untuk Ketenangan Hati:"(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram." (QS. Ar-Ra'd: 28).
Kalimat Tauhid sebagai Pelindung dan Penguat:
"Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan (Yang Berhak Disembah) selain Allah..." (QS. Muhammad: 19).Dalil Hadis PendukungDzikir Terbaik:
Rasulullah ﷺ bersabda: "Dzikir yang paling utama adalah Laa ilaha illallah." (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah).
Pembersih Dosa (Penting di Bulan Ramadhan):
Barangsiapa yang mengucapkan Laa ilaha illallah 100 kali dalam sehari, maka Allah akan menghapus 100 keburukan darinya, dan Allah akan menuliskan 100 kebaikan baginya.
Jaminan Masuk Surga:
"Barangsiapa akhir perkataannya sebelum meninggal dunia adalah Laa ilaha illallah, maka ia akan masuk surga." (HR. Abu Dawud, Tirmidzi).
Dzikir yang Tidak Didengar Malaikat:
Hadis dari Aisyah RA menyebutkan bahwa zikir hati (tidak didengar malaikat hafadhah) lebih tinggi derajatnya tujuh puluh kali lipat daripada zikir lisan.Pandangan Ulama Sufisme (Muktabarah)Imam al-Ghazali (dalam Ihya Ulumuddin):
Dzikir La ilaha illallah adalah pedang Sufi untuk mengikis berhala-berhala hati (kecintaan pada dunia, riya, sombong).
Di bulan Ramadhan, zikir ini adalah "napas" bagi orang yang berpuasa agar lahir dan batinnya puasa.
Ibnu Atha'illah al-Sakandari (dalam Al-Hikam):
Zikir adalah jalan tercepat menuju Allah. Zikir yang istiqomah (terus-menerus) akan mengubah pelakunya dari orang yang "mengingat Allah" menjadi "selalu bersama Allah" (perubahan dari dzakir menjadi madzkur).
Pandangan Tarekat (Contoh: Naqsyabandiyah):
Zikir lafal La ilaha illallah atau Ism Dzat (Allah-Allah) di hati/lisan setiap saat, terutama di malam-malam Ramadhan, bertujuan untuk tawajjuh (menghadapkan hati sepenuhnya) kepada Allah dan menumbuhkan rasa malu untuk berbuat dosa.
Mengapa Terutama di Bulan Ramadhan?
Ramadhan adalah Bulan Puasa:
Puasa bukan sekedar menahan lapar, tetapi mempuasakan hati dari selain Allah.
Zikir La ilaha illallah adalah pengisi kekosongan tersebut.
Pahala Dilipatgandakan:
Segala amal kebaikan dilipatgandakan, termasuk zikir.
Penyucian Jiwa:
Ramadhan adalah kesempatan utama untuk membersihkan jiwa (tazkiyatun nafs).
Kesimpulan:
Menggumamkan La ilaha illallah setiap saat di bulan Ramadhan adalah amalan yang didukung kuat oleh syariat (Al-Qur'an dan Hadis) dan merupakan inti pengajaran tasawuf untuk mencapai kedekatan tertinggi dengan Allah SWT.
Dengan kerendahan hati saling berbagi mudah mudahan dengan syafa'at dari Nabi Besar junjungan kita Muhammad SAW Tercinta Suri teladan kita sepanjang Zaman ada manfa'at nya buat kita saudara saudaraku.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
