Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Roehan Ustman

Saat Cinta Menemukan Cahaya Ilmu

Agama | 2026-02-19 13:13:49

Saat Cinta Menemukan Cahaya Ilmu

Di bawah langit yang membentang luas, di sebuah hamparan padang rumput yang hanya disapa angin, Nabi Musa AS ( sang Kalimullah yang dikenal dengan ketegasan imannya ) berhenti untuk melepas lelah. Di sana, di bawah naungan pohon yang rindang, ia tak sengaja mendengar rintihan yang tidak biasa.

Seorang penggembala sederhana sedang bersimpuh. Wajahnya menengadah, matanya basah oleh ketulusan yang murni. Ia sedang berbicara kepada Tuhannya seolah berbicara kepada kekasih yang paling dekat:

"Ya Allah, di manakah Engkau? Seandainya aku bisa menemukan-Mu, aku ingin menjadi pelayan-Mu yang paling setia. Aku ingin menjahitkan pakaian-Mu yang robek, menyisir rambut-Mu yang kusut, dan mencuci debu dari jubah-Mu. Jika Engkau letih, biarlah jemariku yang kasar ini memijat kaki-Mu. Setiap pagi, aku akan memerah susu segar yang paling manis hanya untuk-Mu..."

Mendengar itu, jantung Nabi Musa berdegup kencang. Ketauhidannya terusik. Dengan nada yang menggetarkan padang rumput, beliau menegur:

"Wahai Penggembala! Tutup mulutmu! Dengan siapa engkau bicara? Allah Maha Suci dari segala sifat makhluk! Dia tidak berambut, tidak berpakaian, dan tidak membutuhkan makan! Kata-katamu adalah racun yang menghina keagungan-Nya. Berhentilah sebelum azab menghampirimu!"

Seketika, dunia sang penggembala seolah runtuh. Kata-kata sang Nabi menghantam dadanya seperti badai. Tubuhnya bergetar, napasnya sesak oleh rasa bersalah yang teramat dalam. Ia merasa cintanya yang paling tulus baru saja dicap sebagai dosa yang paling besar. Dengan air mata yang membanjiri pipi dan pundak yang terkulai layu, ia pergi menjauh. Hatinya hancur; ia merasa tak lagi pantas, bahkan sekadar menyebut nama Allah dalam hatinya.

Namun, di tengah kesunyian itu, langit bergetar. Wahyu turun membelah kalbu Nabi Musa:

"Wahai Musa, mengapa engkau memutuskan tali antara Aku dan hamba-Ku? Aku mengutusmu untuk menyatukan, bukan untuk memisahkan. Ketahuilah, Aku tidak melihat pada bentuk kata atau keelokan bahasa. Aku melihat ke dalam samudera hatinya. Bagimu itu mungkin kekeliruan, tapi bagi-Ku, itu adalah musik cinta yang paling indah."

Nabi Musa tersentak. Keangkuhan ilmu yang kaku luluh seketika oleh teguran Sang Khalik. Beliau segera berlari, menyusuri jejak di atas pasir dan rumput demi menemukan jiwa yang terluka itu. Ketika akhirnya bertemu, Nabi Musa memeluknya dengan penuh penyesalan.

"Wahai saudaraku, maafkan aku," bisik Nabi Musa dengan suara serak. "Tuhan telah menegurku karena dirimu. Kembalilah berbicara pada-Nya dengan caramu. Allah mencintai ketulusanmu lebih dari sekadar aturan bahasa yang kupaksakan."

Sang penggembala menatap sang Nabi. Matanya yang sembab kini memancarkan kedamaian yang baru. Ia tersenyum lembut, lalu berkata dengan penuh adab:

"Terima kasih, wahai Nabi Allah. Teguranmu tadi memang membakar hatiku, namun apinya telah membakar kejahilanku. Kini, sudilah kiranya engkau membimbingku. Ajarkan aku cara mengenal-Nya lebih dalam, agar cintaku yang meluap ini tak lagi salah arah. Aku ingin cintaku berjalan beriringan dengan ilmu."

Nabi Musa kemudian duduk di sampingnya, mengajarinya tentang keagungan Allah dengan kasih yang meluap. Hari itu, padang rumput menjadi saksi: sebuah doa baru meluncur dari bibir sang penggembala—lebih terarah namun tetap dengan getaran cinta yang sama hebatnya.

Pesan Abadi:

Ketulusan adalah ruh dari ibadah, namun ilmu adalah cahaya yang meneranginya. Ilmu tanpa kasih hanya akan melukai, sementara kasih tanpa ilmu butuh bimbingan untuk sampai ke tempat tertinggi.

Di Ramadlan tahun ini, cerita sekilas tadi mudah-mudahan bisa memotivasi kita untuk belajar mencintai Sang Kholiq, bulan Ramadhan bukan sekadar perubahan jam makan, melainkan sebuah bulan pendidikan. Namun, pendidikan sejati yang ditawarkan Ramadan bukanlah tentang pendidikan lahir , melainkan sebuah transformasi jiwa. Pendidikan jiwa agar jiwa terpenuhi dengan ketulusan dan cinta.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Berita Terkait

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image