Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Eka Permadanik

Istilah Healing, Spill, dan Flexing Marak di Media Sosial, Pakar Soroti Dampaknya pada Bahasa Indonesia

Teknologi | 2026-02-13 10:41:13

Tangerang, 12 Februari 2026 – Sejumlah istilah baru di media sosial seperti healing, flexing, spill, dan validasi semakin populer di kalangan remaja Indonesia. Fenomena ini memunculkan perhatian dari pemerhati bahasa terkait dampaknya terhadap penggunaan Bahasa Indonesia yang baik dan benar dalam komunikasi sehari-hari.

Istilah-istilah tersebut banyak digunakan di berbagai platform media sosial seperti TikTok, Instagram, dan X. Kata spill, misalnya, sering dipakai untuk meminta seseorang membocorkan informasi. Sementara itu, istilah healing digunakan untuk menggambarkan kegiatan menyenangkan yang dilakukan untuk menghilangkan stres atau penat. Fenomena ini terjadi karena pesatnya arus informasi global serta pengaruh budaya asing yang masuk melalui media sosial.

Remaja menjadi kelompok yang paling cepat menyerap sekaligus menyebarkan istilah-istilah baru tersebut dalam interaksi sehari-hari, baik secara lisan maupun tulisan. Menurut Abdul Chaer, pakar linguistik dari Universitas Indonesia, kemunculan istilah-istilah baru di media sosial merupakan hal yang wajar dalam perkembangan bahasa. “Bahasa bersifat dinamis dan selalu berkembang mengikuti zaman.

Istilah baru yang muncul menunjukkan kreativitas berbahasa generasi muda, namun penggunaannya tetap harus disesuaikan dengan situasi dan konteks,” ujarnya. Penggunaan istilah asing secara berlebihan, terutama dalam situasi formal, dinilai dapat mengurangi ketepatan berbahasa. Dalam tugas akademik atau forum resmi, sebaiknya tetap menggunakan padanan Bahasa Indonesia agar makna lebih jelas dan sesuai kaidah.

Sementara itu, Alifa Cheril Ataya (20), mahasiswi UIN Banten jurusan Ekonomi Bisnis mengaku bahwa istilah-istilah tersebut terasa lebih ekspresif dan mudah dipahami di kalangan pergaulan sehari-hari. “Kalau pakai istilah yang lagi viral, rasanya lebih nyambung dan tidak kaku saat ngobrol sama teman,” ujarnya. Penggunaan istilah populer ini dinilai membuat komunikasi antarremaja menjadi lebih santai dan komunikatif. Namun, para pakar bahasa menilai bahwa fenomena tersebut tidak perlu disikapi secara berlebihan selama pengguna mampu menempatkan penggunaan bahasa sesuai dengan situasi.

Kesadaran untuk membedakan bahasa santai di media sosial dan bahasa baku dalam situasi formal menjadi hal yang penting untuk ditanamkan pada generasi muda. Dengan demikian, kreativitas berbahasa tetap berkembang tanpa mengesampingkan kaidah Bahasa Indonesia yang baik dan benar. Fenomena ini menunjukkan bahwa media sosial memiliki peran besar dalam memengaruhi perkembangan bahasa di kalangan remaja. Oleh karena itu, pendidikan literasi bahasa dinilai penting agar generasi muda mampu menggunakan bahasa secara tepat sesuai konteks.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image