Pendek Akal Memaknai Transformasi Digital
Teknologi | 2026-02-11 18:50:37Teknologi mengalami percepatan eksponensial dalam beberapa tahun terakhir. Seakan tombol akselerasi untuk inovasi teknologi tidak pernah terlepas dari genggaman para ahli. Alhasil, berbagai teknologi baru lahir untuk mengisi berbagai sektor kehidupan manusia, mulai dari sektor yang kompleks seperti industri, sampai sektor rumah tangga yang sederhana.
Teknologi mengisi hampir semua aspek kehidupan manusia. Bisa jadi, teknologi sekarang menjadi bagian tak terpisahkan dari manusia dan bertransformasi dari kebutuhan sekunder menjadi kebutuhan primer. Kemunculan teknologi baru biasanya akan menimbulkan perubahan sikap dan perilaku, bahkan budaya bagi manusia. Dulu, ketika alat berburu ditemukan, manusia mempunyai cara baru dalam melakukan perburuan. Teknologi baru juga menstimulus munculnya keterampilan baru yang harus dikuasai oleh manusia dalam memanfaatkan teknologi. Sama seperti ketika mesin uap pertama kali ditemukan yang menandai dimulainya revolusi industri pertama, manusia saat itu dituntut untuk mengasah kemampuan baru: mengoperasikan mesin uap.
Penemuan teknologi saat ini tidak jauh berbeda dengan fenomena masa lalu. Sekarang, kecerdasan buatan (Artificial Intelligence) menjadi penemuan penting yang memaksa manusia untuk beradaptasi. Banyak pekerjaan terancam, tapi di sisi lain, muncul pekerjaan baru yang tidak kalah menjanjikan seperti AI generator, prompt specialist, dan lain sebagainya. Perkembangan teknologi yang semakin cepat ini melahirkan salah satu teori yang fenomenal, yakni transformasi digital.
Transformasi digital menjadi salah satu istilah yang digandrungi para akademisi, praktisi, bahkan pelaku investasi. Semua seakan berlomba untuk bisa melakukan transformasi digital agar bisa tetap relevan dengan zaman. Mulai dari yang hanya FOMO (Fear of Missing Out) sampai yang serius menjadikan transformasi sebagai bagian dari strategi. Para investor juga tidak ketinggalan menggelontorkan dana besar-besaran untuk menggerakkan roda startup yang dianggap sebagai pelopor transformasi.
Tapi, apakah transformasi digital cukup hanya sebatas adopsi teknologi? Faktanya, transformasi digital tidak bisa terjadi hanya dalam semalam. Artinya, proses ini tidak bisa dilakukan secara instan. Banyak yang beranggapan bahwa dengan melakukan adopsi teknologi, maka transformasi digital telah dilalui. Mereka lupa bahwa teknologi terdiri dari tiga komponen utama: perangkat keras (hardware), perangkat lunak (software), dan pengguna (brainware). Mereka hanya fokus pada dua yang pertama dan meninggalkan yang ketiga.
Ada kutipan yang menarik dari salah satu pakar transformasi digital: "Technology is never the starting point, it is an enabling tool" (teknologi tidak akan pernah menjadi pemantik utama, tapi hanya sebagai alat bantu). Teknologi hanyalah alat bantu, bukan dimensi utama dalam mengeksekusi transformasi. Kesalahan memaknai hal ini bisa berakibat fatal bagi pelakunya. Akibatnya, banyak pemangku kebijakan yang melakukan pengadaan teknologi besar-besaran dengan biaya yang tidak sedikit, namun usaha tersebut ternyata tidak membuahkan hasil yang memuaskan. Bahkan, banyak teknologi yang harus berakhir di gudang penyimpanan. Ironi ini terjadi di banyak sektor, mulai dari industri sampai lembaga pendidikan.
Proses transformasi digital harus dilakukan bertahap. Pertama, digitization (digitisasi). Tahap ini mengharuskan pelaku transformasi untuk memindahkan data manual ke layar digital. Kedua, digitalization (digitalisasi). Proses ini mengharuskan pelaku untuk memindahkan semua proses bisnis dari manual ke sistem digital, bukan hanya data. Ketiga, digital transformation (transformasi digital). Proses ini berbeda dengan dua proses sebelumnya yang hanya fokus pada adopsi teknologi. Proses ketiga ini mengharuskan pelaku transformasi untuk melakukan perubahan fundamental strategi, budaya, sikap perilaku, bahkan model bisnis secara menyeluruh.
"Digital transformation is multidimensional, but the core dimension is human capital" (Transformasi digital bersifat multidimensi, tapi dimensi paling utama adalah manusia). Dari proses tahap satu sampai tahap tiga, kita bisa melihat bahwa teknologi hanya mengambil sebagian kecil peran penting dalam transformasi digital. Selebihnya, manusia tetap menjadi fokus utama jika ingin penerapan transformasi digital berhasil dilaksanakan. Adopsi teknologi akan sangat mudah ditunaikan selama ada anggaran, tapi membentuk manusia yang siap menjalankan adopsi tidak semudah menjentikkan jari. Jadi, apakah Anda akan tetap fokus pada adopsi teknologi saja?
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
